Kompetensi, Komitmen, dan Kesadaran

Oleh: Dr. H. Sugeng Listiyo Prabowo, M. Pd, Wakil Rektor II UIN Malang

Selasa, 04/11/2014

Faktor penting dari organisasi apapun adalah ketersediaan sumber daya manusia. Dalam banyak hal disebutkan bahwa adanya manusia-manusia yang hebat dalam suatu organisasi lebih penting dari ketersediaan sumber daya lainnya, termasuk anggaran. Karena keberadaan sumber daya yang hebat dalam organisasi akan mampu mendatangkan anggaran dalam jumlah yang besar, namun keberadaan anggaran tidak akan selalu mampu menciptaan sumber daya manusia yang hebat dalam organisasi.

Sumber daya yang hebat yang dimaksud adalah sumber daya yang memiliki kompetensi, komitmen, dan kesadaran yang cukup dan sesuai dengan nilai-nilai, budaya, posisi atau jabatan, dan jenis pekerjaan yang ada dalam organisasi. Kompetensi merupakan komponen yang paling penting dan selalu akan digunakan oleh seseorang sepanjang orang tersebut bekerja dalam organisasi. Itulah sebabnya kompetensi harus selalu dimiliki oleh orang-orang yang ada dalam organisasi. Kompetensi seringkali didefinisikan sebagai seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan sikap seseorang untuk dapat menangani suatu pekerjaan dengan baik. Seorang guru dituntut memiliki kompetensi yang berkaitan dengan keguruan. Guru tersebut harus memiliki ilmu tentang keguruan, keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk dapat menangani pekerjaan menjadi guru, dan memiliki sikap dan perilaku untuk menjadi seorang guru. Dimilikinya keseluruhan hal tersebut oleh seseorang, maka orang tersebut merupakan orang yang kompeten sebagai guru. Demikian juga profesi yang lain, akutan, desainer, engginer, programer IT, serdadu, pilot harus memiliki ilmu, keterampilan, dan sikap sesuai tuntutan pekerjaannya untuk dapat disebut sebagai kompeten dalam bidangnya. Peningkatan kompetensi dapat dilakukan melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan.

Hal kedua yang harus dimiliki oleh SDM untuk dapat berkembang dan mengembangkan organisasi adalah komitmen. Komitmen merupakan sikap dan perilaku untuk mendorong diri sendiri memenuhi dan melampaui sesuatu yang menjadi kewajiban dan tugasnya. Seseorang dengan komitmen tinggi akan selalu mampu menyelesaikan tanggung jawabnya, walaupun ada banyak kesulitan dan kendala yang dihadapi. Di dalam komitmen ada keinginan untuk bertanggung jawab, ada keuletan, ketahanan, kedisipinan, keikhlasan, dan keinginan berbuat lebih melalui aktualisasi diri. Untuk mendorong sikap dan perilaku tersebut bukan pekerjaan mudah. Seseorang harus memiliki motivasi yang kuat untuk dapat memiliki sikap tersebut. Namun demikian, organisasi harus mendorong untuk peningkatan komitmen tersebut.

Walaupun komitmen lebih potensial digerakkan oleh faktor internal dalam diri seseorang namun organisasi harus melakukan upaya untuk menumbuhkan komitmen dalam diri seseorang. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui; 1) keteladanan. Keteladanan dilakukan oleh pemimpin untuk mendorong tumbuhnya nilai-nilai yang kemudian akan mendorong tumbuhnya motivasi dan semangat kerja. Tumbuhnya motivasi dan semangat kerja ini akan mendorong tumbunnya komitmen, 2) mengembangkan budaya organisasi yang mengarah kepada terbentuknya komitmen bagi seluruh komponen yang ada di dalam organisasi. Ditumbuhkannya nilai-nilai ikhlas, ulet, pantang menyerah, suka menolong, dan bekerja keras merupakan hal penting untuk tumbuhnya nilai ini. Proses penumbuhannya dilakukan melalui keteladanan, dan pengembangan sistem kerja yang mendukung terciptanya nilai-nilai ini. 3) pelatihan tentang penumbuhan motivasi dan komitmen dapat juga menjadi satu upaya penyadaran dalam proses penumbuhan komitmen, Proses penumbuhan seringkali dilakukan melalui kegiatan-kegiatan penyadaran dan simulasi terhadap kondisi-kondisi tertentu, keseluruhan kegiatan diarahkan untuk menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya komitmen.

Hal yang tidak kalah pentingnya dan akan menjadi dasar dalam keseluruhan perbuatan seseorang dalam organisasi adalah kesadaran. Kesadaran merupakan suatu cara berfikir seseorang terhadap dirinya, wewenangnya, tanggung jawabnya, dan target-targetnya dalam menghadapi dan menyelesaikan suatu permasalahan, atau menyelesaikan suatu pekerjaan yang diembannya. Itulah sebabnya kesadaran seseorang akan sangat berpengaruh terhadap kinerjanya dalam organisasi.

Seorang anak yang sedang belajar, dan kemudian kita menanyakan kepadanya mengapa harus belajar, dan kemudian anak tersebut menjawab bahwa dia belajar karena ada ujian, atau mengerjakan tugas, atau karena ada PR, maka setingkat itulah kesadaran anak tersebut tentang pentingnya belajar. Sulit sekali untuk mengharapkan anak tersebut untuk menjadi juara, atau menjadi mampu belajar mandiri secara baik. Kesadarannya tidak cukup untuk menjadi juara, juga belum cukup untuk dapat mengembangkan diri secara mandiri. Kesadarannya baru cukup untuk lulus ujian atau untuk menyelesaikan tugas atau menyelesaikan PR.

Berkaitan dengan kesadaran tersebut ilmuwan terkenal abad ini, Albert Einstein menyatakan, no problem can be solved from the same level of counsciousness that created it. Hal ini mengindikasikan bahwa kesadaran harus terus dikembangkan, jika tidak, penerus dari suatu generasi tidak akan mampu mengembangkan diri dan menyelesaikan berbagai permasalahan yang telah dibuat oleh generasi sebelumnya. Demikian juga didalam organisasi, seseorang harus mampu menyelesaikan masalah yang telah ditimbulkan oleh para pendahulunya, juga seseorang harus mengembangkan organisasinya lebih tinggi dari generasi sebelumnya. Namun demikian, penyelesaian berbagai masalah dan pengembangan organisasi tersebut tidak akan dapat dilakukan, jika seorang pemimpin tidak memiliki kesadaran yang lebih tinggi dibandingkan dengan generasi sebelumnya.

Kesadaran merupakan bagian penting dari mindset atau paradigma berfikir atau filosofi atau way of life. Kesadaran seseorang akan mempengaruhi cita-cita seseorang, juga akan mempengaruhi target kerja, yang pada akhirnya akan mempengaruhi hasil kerja seseorang. Itulah sebabnya seringkali di sekolah kita disuruh oleh guru kita untuk memiliki cita-cita, juga disuruhnya kita untuk berani bercita-cita setinggi langit. Pelajaran ini pada anak-anak bukanlah merupakan pelajaran fantasi, tetapi pelajaran tentang bagaimana anak-anak diajarkan sejak awal membangun kesadaran. Sehingga diharapkan nantinya kesadarannya berwujud pada komitmennya dan juga berwujud pada kompetensinya untuk sungguh-sungguh dapat mencapai cita-citanya.

Satu lagi gambaran kesadaran dibuktikan oleh tetangga penulis yang bercita-cita ingin menunaikan ibadah haji. Secara aqidah, ibadah haji adalah panggilan dari Allah SWT. Siapapun yang dikehendaki oleh Allah SWT untuk dipanggil berhaji maka takdir akan memberangkatkan orang tersebut ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji. Namun demikian jika dilihat dari sisi usaha, maka akan banyak hal yang dapat dikaji secara ilmiah.

Dari sisi ekonomi, tetangga tadi tidak memungkinkan untuk melakukan ibadah haji, tetapi karena kesadaran yang dimilikinya maka kemudian mendorongnya untuk mampu bercita-cita dan kemudian mewujudkannya dalam perilaku keseharian. Perilaku hemat, fokus pada cita-citanya untuk berhaji, usaha yang tak kenal lelah merupakan perwujudan dari adanya kesadaran akan pentingnya berhaji bagi tetangga tersebut, dan kemudian benar-benar cita-cita tersebut terwujud.

Para nabi dan pemimpin besar rata-rata memiliki kesadaran yang luar biasa dalam pikirannya. Kesadarannya sangat ideal, bahkan mencapai sesuatu yang oleh orang kebanyakan tidak pernah dipikirkan dan dibilang "tidak mungkin". Itulah sebabnya para nabi dan pemimpin besar rata-rata memimpin dengan kecintaan yang melimpah dan kemudian menginspirasi semua orang di jamannya atau bahkan lintas zaman. Disisi lain, ada pula pemimpin yang harus dengan susah payah untuk dapat berhasil dari kepemimpinannya, bahkan untuk sekedar dianut oleh para pengikutnyapun sangat berat, sehingga kemudian berwujud pada beragam perilaku kepemimpinan tersebut. Kondisi ini mengindikasikan adanya level kesadaran pada diri pemimpin, sehingga berpengaruh terhadap perilaku kepemimpinannya.

Dalam organisasi kesadaran harus terus dikembangkan terhadap seluruh komponen organisasi. Upaya mengembangkannya dilakukan oleh pemimpin dengan memberikan kebanggaan pada seluruh komponen organisasi terhadap organisasinya. Pemimpin harus mampu membangun kebanggaan tersebut, dan yang lebih penting adalah selalu menanamkan kebiasaan untuk berfikir positif bagi sebanyak mungkin orang-orang yang ada di organisasi karena kebanggaan hanya tumbuh dari cara berfikir positif, dan kesadaran hanya akan tumbuh dari orang-orang yang bangga terhadap organisasinya. (uin-malang.ac.id)