Pasar Obligasi Masih Dalam Tren Positif

Selasa, 04/11/2014

NERACA

JAKARTA - Laju pasar obligasi pada pekan ini diprediksi masih dalam tren positifnya karena didukung optimisme pelaku pasar terhadap pasar surat utang. Reza Priyambada mengatakan, optimisme tersebut ditambah dengan pelaku pasar yang tidak terlalu terlihat khawatir berlebihan dengan akhir program stimulus The Fed. Informasi tersebut disampaikannya dalam risetnya di Jakarta, Senin (3/11).

Kata Reza, kondisi tersebut telah diantisipasi dan bukan sentiment baru dilakukannya pemangkasan stimulus tersebut, sehingga tidak terjadi shock di pasar obligasi. Karena itu, dia berharap bahwa rilis sejumlah data ekonomi makro Indonesia dapat lebih baik, sehingga dapat mempertahankan tren positif laju pasar obligasi.

Dia memperkirakan, jika kondisinya positif maka laju pasar obligasi dapat bergerak menguat dengan minimal perubahan harga obligasi rata-rata sebanyak 95-125 basis points (bps). Namun sebaliknya, jika melemah maka harga obligasi akan kembali melanjutkan koreksi karena respon negatif pelaku pasar tersebut hingga minimal rata-rata 150-180 bps. "Untuk itu, tetap cermati perubahan sentimen yang ada,”ujarnya.

Sementara itu, pemerintah pada pekan ini akan kembali melakukan lelang Surat Utang Negara pada Selasa (4/11). Jumlah indikatif yang dilelang sebesar Rp5 triliun, dengan seri

SPN12150206 (reopening) dengan pembayaran bunga secara diskonto dan jatuh tempo pada 6 Februari 2015.

Selain itu, seri SPN12151105 (new issuance) dengan pembayaran bunga secara diskonto dan jatuh tempo pada 5 November 2015; dan seri FR0070 (reopening) dengan tingkat bunga tetap (fixed rate) sebesar 8,375% dan jatuh tempo pada 15 Maret 2024.

Adapun variatifnya laju pasar obligasi pada pekan lalu tidak terlepas dari sentimen pasar, di mana laju rupiah yang juga bergerak variatif seiring respon pelaku pasar mulai dari jelang pertemuan FOMC hingga akhir pertemuan tersebut untuk mengetahui kebijakan selanjutnya dari The Fed.

Di sisi lain, meski kondisi politik diwarnai beberapa kegaduhan, namun tidak terlalu banyak berimbas pada laju pasar obligasi. Begitupun dengan keputusaan final The Fed untuk mengakhiri program stimulusnya di Oktober juga tidak banyak memberikan sentimen negatif.

Bahkan sepanjang pekan kemarin, terlihat terjadi peningkatan kepemilikan asing pada SUN yang menandakan tidak terjadinya sudden reversal maupun capital outflow signifikan keluar dari pasar obligasi seperti yang banyak dikhawatirkan jika dilakukannya pengakhiran stimulus The Fed.

Sebagai informasi, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat sepanjang tahun ini total emisi obligasi maupun sukuk yang diterbitkan mencapai Rp36,90 triliun, yang disumbang 36 emisi dari 30 emiten. Dijelaskan, total nilai penerbitan obligasi tersebut bertambah dengan dicatatkannya Obligasi Subordinasi Berkelanjutan II Bank Permata Tahap II Tahun 2014 oleh PT Bank Permata Tbk. Obligasi senilai Rp700 miliar tersebut memiliki jangka waktu selama 7 tahun, dengan menawarkan kupon bunga sebesar 11,5% per tahun. (bani)