Ancaman "Middle Income Trap" Harus Dicegah

Senin, 03/11/2014

NERACA

Jakarta - Pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia, Telisa Aulia Falianty,mengatakan salah satu permasalahan penting yang dihadapi Indonesia adalah terjadinya deindustrialisasi. Mengingat deindustrialisasi dapat mengancam Indonesia terjebak dalammiddle income trap. Untuk itu, sebagai langkah mengantisipasi itu, syarat mutlak yang harus dilakukan pemerintah baru adalah konsisten melakukan hillirisasi industri. “Tidak ada cara lain guna mengantisipasi ancamanmiddle income trapdengan hillirisasi industry,” kata Telisa kepada Neraca, Sabtu (1/11), pekan lalu.

Menurutnya, ada empat faktor untuk menghindari middle income trap yaitu : infrastruktur, kualitas institusi, R&D dan institusi, kewirausahaan. Untuk itu, jika ingin keluar dari masalah deindustrialiasi harus memanfaatkan sumber daya alam dengan mengolahnya menjadi bahan jadi. “Permamasalahan selama ini, Indonesia menggali sumber daya alam dan menjualnya dalam bentuk mentah. Padahal kalau melakukan hilirisasi value added-nya akan meningkat.Maka dari itu hillirisasi industry wajib dilakukan, tanpa adanya usaha hilirisasi sulit negara Indonesia menjadi negara berbasis industry,” tegasnya.

Adapun untuk lebih mengoptimalkan potensi sektor industri nasional, akselerasi industrialisasi difokuskan pada 15 subsektor industri, yang dikelompokkan ke dalam 4 (empat) kelompok industri prioritas, yaituIndustri Berbasis Hasil Tambang, meliputi : Industri Konversi Batubara; Industri Pemurnian dan Pengilangan Minyak Bumi;Industri Kimia Dasar (termasuk petrokimia); dan Industri Logam Dasar.

Industri Berbasis Hasil Pertanian, meliputi : Industri Minyak dan Lemak Nabati; Industri Gula Berbasis Tebu; Industri Pengolahan Kakao dan Pembuatan Coklat; Industri Bubur Kayu (pulp) dan Kertas; dan Industri Barang Dari Karet.

Industri Berbasis Sumber Daya Manusia dan Pasar Domestik, meliputi: Industri Tekstil dan Pakaian Jadi dan Alas Kaki; Industri Mesin dan Peralatan; Industri Komponen Elektronika dan Telematika; Industri Komponen dan Aksesoris Kendaraan dan Komponen Mesin Kendaraan Bermotor; Industri Galangan Kapal; serta Industri Furniture.

Pada kesempatan yang sama pengamat ekonomi Erna Zetha Rusman menambahkan untuk merealisasikan kebijakan hilirisasi industri tentu diperlukan dukungan dari persaingan usaha, dan tentu Bagaimana agar persaingan usaha dapat mendukung industrialiasi dibutuhkan investasi besar untuk memperbaiki kualitas dan kuantitas infrastruktur isik, perbaikan kualitas insitusi, pberaikan kulaitas dan sistem pendidikan serta mendorong R and D yang mendorong inovasi, serta memberikan insentif dan dorongan untuk berkembangnya kewirausahaan. “Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri, tentu disini peran pengusaha yang mau menggelontirkan investasinya. Untuk itu perlu pemerintah harus bisa membuat pengusaha tertarik investasi di Indonesia” katanya.

Adapun guna menciptakan keberhasilan dalam program hillirisasi industry maka pemerintah wajib mengembangkan industri hulu dan industri antara berbasis sumber daya alam;pengendalian ekspor bahan mentah dan sumber energi;meningkatkan penguasaan teknologi dan kualitas sumber daya manusia (SDM) industri;mengembangkan Wilayah Pengembangan Industri (WPI), Wilayah Pusat Pertumbuhan Industri (WPPI), Kawasan Industri (KI), dan Sentra Industri Kecil dan Menengah;menyediakan langkah-langkah afirmatif berupa perumusan kebijakan, penguatan kapasitas kelembagaan dan pemberian fasilitas kepada industri kecil dan menengah;pembangunan sarana dan prasarana Industri;pembangunan industri hijau;pembangunan industri strategis;peningkatan penggunaan produk dalam negeri; dankerjasama internasional bidang industri. [agus]