Produksi Batu Bara Adaro Capai 41,9 Juta Ton

Senin, 03/11/2014

NERACA

Jakarta – Hingga akhir September 2014, PT Adaro Energy Tbk (ADRO) memproduksi batu bara mencapai 41,9 juta ton, bertambah 8% dibanding September tahun lalu sebanyak 38,67 juta ton. Produksi batu bara tersebut disumbang dari area tambang Tutupan sebanyak 32,15 juta ton, naik 11% dari 28,98 juta ton; tambang Paringin sebanyak 4,66 juta ton, naik 15% dari 4,05 juta ton.

Selain itu, dari tambang Wara sebanyak 4,5 juta ton, turun 20% dari 5,64 juta ton, dan Balangan sebanyak 0,59 juta ton. Sementara selama kuartal III saja, perseroan memproduksi 14,03 juta ton batu bara,”Dengan demikian, perseroan berada pada posisi tepat untuk mencapai panduan produksi yang telah ditetapkan pada kisaran 54 juta-56 juta ton pada tahun ini," kata Head of Investor relations & Corporate Secretary Adaro Cameron Tough dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Meningkatnya produksi batu bara perusahaan seiring dengan bertambahnya volume penjualan sebesar 9% menjadi 42,37 juta ton dibanding akhir kuartal III tahun lalu sebanyak 39,11 juta ton. Dia menjelaskan, batu bara produksi Balangan diminati berbagai konsumen. Perseroan telah menjual 0,33 juta ton ke pelanggan di India dan Thailand pada kuartal III/2014.

Menurut dia, meski harga batu bara terus melemah, namun perseroan tetap menghasilkan kinerja relatif baik dan bertahan di posisi tepat untuk mencapai target yang telah ditetapkan tahun ini dan tujuan jangka panjang demi menciptakan nilai maksimum berkelanjutan dari batu bara Indonesia,”Adaro fokus terhadap pengurangan biaya, peningkatan efisiensi, dan produktivitas di setiap rantai pasokan batu bara," ujarnya.

Tahun ini, perseroan menargetkan mampu memproduksi batu bara sebesar 54 juta ton sampai 56 juta ton. Belum lama ini, PT Adaro Energy Tbk melalui anak usahanya PT Adaro Indonesia telah melakukan pelunasan obligasi perseroan sebesar US$ 800 juta atau setara Rp 9,6 triliun pada 22 Oktober 2014 lalu. Disebutkan, dana pelunasan obligasi yang dilakukan perseroan sebagian berasal dari dana hasil pinjaman sebesar US$ 1 miliar atau setara Rp12 triliun (kurs Rp12.000) yang diperoleh dari perjanjian pemberian fasilitas pinjaman pada tanggal 25 Agustus 2014 lalu.

Adapun fasilitas pinjaman amortizing memiliki biaya rendah dibanding obligasi. Selain itu, lanjutnya, disamping dari hasil pinjaman untuk lunasi obligasi, perseroan juga mengalokasikan dari dana kas internal. Disebutkan, pelunasan obligasi dengan menggunakan kombinasi antara fasilitas pinjaman dan kas internal ini akan memperpanjang tanggal jatuh tempo utang, menurunkan biaya pendanaan, dan mempertahankan struktur pemodalan yang kuat. Maka dengan dilunasinya obligasi tersebut, perseroan dapat menghemat beban bunga mencapai US$ 40 juta per tahun atau setara Rp 480 miliar.(bani)