Pemerintah Klaim akan Kurangi Impor Gula

Senin, 03/11/2014

NERACA

Jakarta - Menteri Perdagangan Rachmat Gobel menyatakan bahwa pihaknya siap mengurangi impor raw sugar atau gula mentah, dengan tujuan untuk membangun industri dalam negeri agar mampu terus berkembang dengan baik. "Jika mungkin bisa dikurangi akan saya kurangi, namun dengan tujuan untuk membangun industri dalam negeri," kata Rachmat, di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Rachmat mengatakan, apabila terjadi pengurangan impor raw sugar tersebut maka industri dalam negeri harus juga dibangun, namun hingga saat ini keputusan tersebut masih akan dibicarakan terlebih dahulu dengan para pemangku kepentingan untuk menentukan kebijakan selanjutnya. "Saya masih bicarakan terlebih dahulu dengan kawan-kawan soal itu, saat ini masih belum bisa saya putuskan. Dengan demikian kebijakan di pemerintah sebelumnya yang akan saya pakai," kata Rachmat.

Rachmat menekankan, jika pemerintah akhirnya mengurangi impor gula mentah maka hal tersebut harus memiliki tujuan yang lebih besar yakni mendorong industri dalam negeri untuk berkembang dan lebih baik. Pada pemerintahan sebelumnya, kuota impor gula mentah untuk tahun 2014 kurang lebih sebanyak tiga juta ton, namun harus dikurangi sebanyak 187.000 ton.

Pengurangan tersebut merupakan bentuk sanksi dari Kementerian Perdagangan akibat adanya perembesan gula rafinasi ke pasar konsumen, sehingga sisa kuota kurang lebih sebanyak 2,8 juta ton. Hingga semester pertama tahun 2014, realisasi impor gula mentah sudah mencapai kurang lebih 2,1 juta ton. Sementara yang masih belum masuk ke Indonesia kurang lebih sebanyak 635.000 ton dan direncanakan masuk pada semester II tahun 2014.

Beberapa waktu lalu, Kementerian Perdagangan telah memberikan izin importasi sebanyak 502.000 ton untuk gula mentah, sehingga sisa kuota impor gula mentah pada tahun 2014 kurang lebih sebanyak 133.000 ton, dan hingga saat ini masih belum diberikan izin impornya. Bahkan, diberikannya izin importasi oleh pemerintah saat itu hanya ditujukan untuk memastikan kontrak-kontrak antara industri gula rafinasi dengan industri makanan-minuman, dan juga kontrak importasi gula di luar negeri bisa terpenuhi, dimana tidak diperbolehkan menjual melalui distributor, namun harus dijual langsung ke industri pengguna seperti industri makanan-minuman.

Sebelumnya, produsen gula meminta pemerintah mengkaji ulang kebijakan importasi gula mentah atau raw sugar untuk kebutuhan industri. Izin impor gula mentah diharapkan diprioritaskan kepada perusahaan gula berbasis tebu. Direktur Utama PT Gendis Multi Manis (GMM) Kamajaya mengatakan, dengan diberikannya izin impor gula mentah kepada produsen gula berbasis tebu tersebut maka operasional pabrik menjadi semakin optimal. "Tambahan tersebut dapat dibunakan untuk mengisi idle capacity pabrik," kata Kamajaya.

Sekeder informasi, selama ini operasional pabrik gula dalam negeri rata-rata hanya sekitar 150 hari dalam setahun menyesuaikan musim panen tebu. Namun, bila diluar masa giling tersebut pabrik gula berbasis tebu diberikan izin impor gula mentah maka akan meningkatkan performa perusahaan.

Selama ini impor gula mentah untuk kebutuhan industri hanya diberikan pemerintah kepada produsen gula rafinasi. Menurut Kamajaya, produsen rafinasi tersebut tidak cukup memberikan andil bagi petani tebu rakyat lantaran tidak ada penyerapan bahan baku. Produksi gula rafinasi mengandalkan bahan baku impor.

Meski tidak merinci, Kamajaya bilang pihaknya tidak mendapatkan restu dari pemerintah untuk impor gula mentah tersebut. "Kami sudah mengajukan, tetapi belum diberikan (izin impornya)," ujar Kamajaya. Tahun ini, GMM memproyeksi produksi gula akan mencapi lebih dari 50.000 ton atau di atas target yakni sebanyak 45.000 ton. Hingga akhir Agustus lalu, produksi gula yang dihasilkan baru mencapai sekitar 20% dari target awal.

Berdasarkan perhitungannya, kebutuhan gula nasional tahun 2014 ini, total kebutuhan rumah tangga dan industri, mencapai 5,7 juta ton. Jumlah ini menurun sedikit dibanding 2013. "Industri makanan dan minuman permintaannya menurun 10-15 persen di 2014," tuturnya.