Harga Patokan Ekspor CPO Naik November

Perdagangan Internasional

Senin, 03/11/2014

NERACA

Jakarta - Setelah memperhatikan rekomendasi dan perkembangan harga komoditas, baik nasional maupun internasional, Kementerian Perdagangan RI menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 84/M-DAG PER/10/2014 tentang Penetapan Harga Patokan Ekspor (HPE) atas Produk Pertanian dan Kehutanan yang Dikenakan Bea Keluar pada Selasa (28 /10) lalu.

Produk pertanian dan kehutanan yang dikenakan Bea Keluar (BK) adalah produk CPO, biji kakao, kayu dan kulit. Penetapan HPE CPO didasarkan pada harga heferensi CPO USD 736,32/MT yang naik sebesar USD 9,59 atau 1,32% dari periode bulan sebelumnya yaitu USD 726,73/MT, sehingga didapat HPE CPO sebesar USD 665/MT yang naik USD 10 atau 1,5% dibandingkan periode bulan sebelumnya yaitu USD 655 MT. BK CPO untuk bulan November 2014 tercantum pada Kolom 1, lampiran II PMK 128 Tahun 2013 sebesar 0%, tidak berubah atau sama dengan BK CPO untuk periode bulan Oktober 2014.

Sedangkan harga referensi biji kakao untuk penetapan HPE biji kakao mengalami kenaikan sebesar USD 20,65 atau 0,65% yaitu dari USD 3.152,80/MT menjadi USD 3.173,45/MT, sehingga berdampak pada penetapan HPE biji kakao yang juga naik sebesar USD 20 atau 0,7% dari USD 2.849 MT pada periode bulan sebelumnya menjadi USD 2.869MT. Namun, BK biji kakao tidak berubah dibandingkan periode bulan sebelumnya, yaitu sebesar 10%. Hal tersebut tercantum pada kolom 3 lampiran II PMK 75 Tahun 2012.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Partogi Pangaribuan mengatakan bahwa kenaikan harga referensi dan HPE untuk produk CPO dan biji kakao disebabkan oleh meningkatnya harga internasional untuk komoditas tersebut. Namun, kenaikan harga tersebut belum mampu mendorong harga CPO ke tingkat ambang batas pengenaan BK di level USD 750, sehingga masih berlaku BK sebesar 0% untuk periode bulan November 2014.

"Rendahnya harga referensi dan HPE CPO saat ini disebabkan oleh masih lemahnya harga CPO internasional yang disebabkan oleh oversupply pasar internasional minyak nabati dunia, terutama oleh minyak nabati dari sumber lain sebagai kompetitor CPO,” jelasnya. Sementara itu, untuk HPE maupun BK komoditas produk kayu dan produk kulit tidak ada perubahan dari periode bulan sebelumnya.

Daya Beli Turun

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mengeluhkan minimnya permintaan minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) meskipun harga saat ini sangat rendah. Penurunan permintaan CPO terbesar justru terjadi dari Tiongkok dan India yang selama ini merupakan negara tujuan ekspor utama produk CPO dan turunannya.

Data dari GAPKI menyebutkan selama Januari-September 2014, volume ekspor CPO dan produk turunannya ke Tiongkok berkurang 10 persen menjadi 1,77 juta ton dibandingkan Januari-September 2013 sebanyak 1,6 juta ton. Sementara volume ekspor ke India turun signifikan sebesar 26 persen menjadi 3,3 juta ton dari sebelumnya 4,5 juta ton.

Fadhil Hasan, Direktur Eksekutif GAPKI menjelaskan lesunya permintaan CPO dan produk turunannya dari Tiongkok karena negara tersebut mengeluarkan regulasi standar residu pestisida termasuk untuk minyak makan, sehingga menjadi hambatan bagi perusahaan Indonesia untuk menjual produknya kesana. "Sementara ekspor ke India turun karena pemerintahnya menaikkan tarif bea masuk impor minyak sawit, pelemahan nilai tukar rupee terhadap dolar Amerika Serikat, serta inflasi disana yang tinggi," ujar Fadhil.

Secara keseluruhan, GAPKI mencatat volume ekspor CPO Indonesia dan produk turunannya turun 1,75 persen menjadi 15 juta ton sampai September 2014 dibandingkan volume ekspor September 2013 sebanyak 15,3 juta ton.

Produk kelapa sawit bukanlah satu-satunya komoditi yang berada pada posisi harga yang lesu. Hal yang sama terjadi pada komoditas minyak nabati lain seperti minyak kedelai, serta rapeseed dan biji bunga matahari. "Melemahnya harga komoditi-komiditi karena daya beli yang lemah dan produksi meningkat serta stok yang melimpah," kata Fadhil.

Harga rata-rata CPO di Rotterdam sepanjang September 2014 adalah US$ 712 per metrik ton, dengan harga terendah sempat menyentuh US$ 680 dan harga tertinggi US$ 730 per metrik ton. Harga rata-rata ini turun sekitar 5,4% dibandingkan dengan harga rata-rata bulan Agustus US$ 753 per metrik ton.

GAPKI memperkirakan harga CPO hingga akhir Oktober akan cenderung bergerak di kisaran US$ 700-US$ 730 per metrik ton. Sementara itu Harga Patokan Ekspor Oktober 2014 ditentukan oleh Kementerian Perdagangan sebesar US$ 640 dan Bea Keluar 0% dengan referensi harga rata-rata tertimbang dari CPO Rotterdam, Kuala Lumpur, dan Jakarta sebesar US$ 710 per metrik ton. "Dengan melihat tren harga CPO global yang bergerak dibawah US$ 750 per metrik ton, GAPKI memperkirakan Bea Keluar untuk Oktober akan tetap 0%," kata Fadhil.

Meskipun bebas BK, namun Kemendag mengharap kepada para pengusaha agar tidak jor-joran melakukan ekspor. Bila hal tersebut dilakukan, Bayu khawatir hal tersebut akan semakin menekan harga CPO. Seperti diketahui, serapan minyak sawit saat ini masih belum pulih, sehingga demand menurun.