Benih, Kunci Hortikultura Hadapi MEA 2015

Sektor Pertanian

Senin, 03/11/2014

NERACA

Jakarta – Ketua Asosiasi Perusahaan Perbenihan Hortikultura Indonesia (Hortindo) Afrizal Gindow mengatakan benih merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan budi daya sayuran petani dalam menghadapi pasar bebas terutama pasar tunggal ASEAN (Masyarakat Ekonomi ASEAN) 2015.

"Petani harus diberi kebebasan dalam menanam termasuk memilih benih seperti yang diinginkan. Benih merupakan hak dasar atau kedaulatan petani," kata Afrizal dalam berita di Antara, akhir pekan lalu.

Afrizal mengatakan, petani sayuran Indonesia harus disiapkan untuk menghadapi pasar bebas ASEAN (MEA) 2015. "Petani harus diberikan pengetahuan lebih dalam mengenai bagaimana mempersiapkan produksi hingga menangani hasil pascapanen sehingga mampu bersaing," ujarnya.

Salah satu upaya mempersiapkan produksi, lanjut Afrizal, adalah dengan pengenalan dan cara memilih benih yang baik dan berkualitas. Hortindo, demikian Afrizal, berkomitmen menjaga kedaulatan petani atas benih. Petani harus diberikan kemerdekaan untuk memilih, mengakses dan menanam benih terbaik yang menjadi pilihannya. Membatasi ketersediaan benih bagi petani baik variasi, kualitas dan kuantitas dengan alasan apapun merupakan bentuk pelanggaran atas kedaulatan atau hak dasar petani.

Dalam rangka mempesiapkan petani menghadapi pasar tunggal ASEAN pula pada Kamis (30/10) Hortindo menyelenggarakan workshop bertajuk "Tantangan Petani Hortikultura Dalam Menyambut Pasar Tunggal ASEAN 2015" di Kaliurang Yogyakarta diikuti lebih dari 200 petani sayuran di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Melalui workshop tersebut petani diperkenalkan berbagai varietas unggul hasil pemuliaan tanaman (breeding) yang memiliki kualitas setara dengan varietas yang ditanam petani negara lain. Petani juga diberi kesempatan melakukan konsultasi mengenai kondisi tanaman di wilayah masing-masing.

Dalam acara tersebut, Ketua Dewan Penasehat Hortindo M Gunung Sutopo mengatakan petani hortikultura saat ini juga sangat membutuhkan dukungan pemerintah dalam upaya mengendalikan harga terutama pada saat panen. Upaya tersebut antara lain dengan cara bertahap membangun tempat-tempat penyimpanan (storage) hasil panen.

Menurut Gunung Sutopo, merupakan kebijakan yang sangat keliru apabila ketika harga produk hortikultura jatuh karena produksi melimpah, kemudian justru memperketat peredaran benih sehingga petani tidak bisa menanam. Petani harus tetap diberikan keleluasaan untuk menanam produk hortikultura sesuai keinginan, sedangkan pemerintah memberikan solusi pascapanen, jelasnya.

Workshop juga memberikan wawasan budi daya dan pengelolaan di lapangan pra dan pascapanen. Termasuk memasarkan produk yang bagus dengan harga lebih pantas. Salah satunya dengan membuka akses langsung ke pasar modern agar memberi nilai tambah kepada petani.

Potensi pasar hortikultura di Indonesia sangat tinggi seiring pertumbuhan kelas menengah yang tahun lalu saja sudah sebesar 56,5 persen dari total penduduk yang mencapai sekitar 250 juta jiwa. Afrizal mengatakan, potensi besar tersebut harus diimbangi dengan pasokan dari dalam negeri yang memadai, tetapi kenyataannya impor hortikultura justru semakin besar setiap tahunnya.

Impor hortikultura Indonesia pada tahun 2011 sudah mencapai Rp17,6 triliun, lebih tinggi dari nilai impor gandum Rp17,02 triliun, beras Rp10,6 triliun, jagung Rp8,61 triliun, dan kedelai Rp9,38 triliun. Sementara sampai semester I-2014 impor hortikultura telah mencapai 863,6 juta dolar AS atau setara Rp10 triliun lebih dengan volume 878.200 ton.

Luas lahan pertanian sayuran Indonesia juga jauh tertinggal dibanding negara lain. Thailand 100 meter persegi perkapita, Filipina 65 meter persegi perkapita, Vietnam 80 meter persegi perkapita, Myanmar 60 meter persegi per kapita, sedangkan Indonesia 40 meter persegi perkapita.

Dengan kondisi tersebut, penggunaan benih sayuran hibrida berkualitas adalah pilihan yang tepat. "Saya kira kalau petani sudah siap, sarana produksi termasuk benih hibrida berkualitas mudah diakses, serta dilakukan pendampingan secara berkelanjutan maka kita tidak perlu lagi khawatir menghadapi pasar global," kata Afrizal.

Lebih jauh Bendahara Hortindo, Ayub Darmanto mengatakan, tingkat bunga kredit bank di Indonesia juga harus diperhatikan karena terlalu tinggi mencapai 16 persen, bandingkan dengan Thailand dan Filipina masing-masing hanya memberikan 6 dan 3 persen saja untuk kredit modal kerja kepada petani.

Ayub mengatakan, petani Indonesia memiliki kemampuan tidak kalah dengan petani negara lain, kemudian potensi lahan di Indonesia sangat luas untuk dikembangkan produk hortikultura.