Saham Sektor Konsumer Paling Terpukul

Rencana Kenaikan BBM

Jumat, 31/10/2014

NERACA

Jakarta – Rencana pemerintahan Jokowi bakal menaikkan harga bahan minyak (BBM) memberikan dampak terhadap inflasi seiring kenaikan harga bahan baku, khususnya sektor konsumer. Tentunya, imbas kenaikan harga BBM juga mempengaruhi terhadap pergerakan saham emiten sektor consumer dan juga performance kinerjanya.

Direktur PT Ashmore Asset Management, Arief Wana menilai, dampak kenaikan harga BBM hanya bersifat sementara untuk pasar saham. Adapun, yang emiten yang sangat terasa dampaknya yaitu emiten di sektor konsumer."Dalam jangka pendek, ini sangat dirasakan perusahaan konsumer. Karena mereka akan mengalami kenaikan biaya semuanya," katanya di Jakarta, Kamis (30/10).

Dengan kenaikan biaya tersebut, maka beban yang dikeluarkan perseroan mulai dari distribusi hingga bahan baku pastinya akan lebih besar dibandingkan sebelum kenaikan harga BBM. Namun, Arief memastikan dalam jangka panjang keuangan perusahaan tersebut akan kembali normal dan akan lebih baik. Karena nantinya pemerintah akan memanfaatkan biaya subsidi BBM untuk infrastruktur, dan ini pastinya berdampak positif untuk semua perusahaan.

Lebih jauh dia mengatakan, berdasarkan pengalaman jika pemerintah menaikkan harga BBM dampak ke perusahaan konsumer dan beban inflasi hanya sekitar tiga sampai empat bulan saja."Tidak ada dampak (negatif) jangka panjangnya," ucap Arief.

Adapun saham di sektor konsumer seperti PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Indofoof Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Mayora Indah Tbk (MYOR), PT Nippon Indosari Corporindo Tbk (ROTI), PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA), dan lain-lainnya. Sebelumnya, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hadad mengatakan, kenaikan harga BBM akan memberikan efek positif bagi pelaku pasar lantaran beban defisit APBN bisa dikurangi.

Bahkan dirinya menegaskan, bila rencana presiden Jokowi) menaikan harga BBM bersubsidi berhasil terealisasi, maka dapat menaikan harga saham perusahaan tercatat di pasar modal. Dia menjelaskan alasannya, yaitu karena ruang fiskal yang dimiliki pemerintah dari kenaikan harga tersebut dapat mendorong pergerakan sektor produktif lebih positif dari sebelumnya."Kalau harga BBM subsidi jadi dinaikkan, negara bisa menghemat biaya. Sehingga biaya bisa dialokasikan ke yang produktif, subsidi sekarang hampir Rp 300 triliun. Kalau separuh bisa kita manfaatkan ke infrastruktur, itu dampaknya ke ekonomi lebih signifikan dan persepsi orang akan positif,”ungkapnya.

Percepatan sektor produktif itu, lanjut dia, yang dapat meningkatkan kinerja perusahaan tercatat yang pada akhirnya dapat meningkatkan harga saham. Namun demikian, tambah dia, tetap akan ada emiten di sektor tertentu yang akan menerima imbas negatif dari hal tersebut. Salah satunya adalah sektor retail yang sangat bergantung pada daya beli masyarakat. "Kalau daya beli masyarakat terganggu, ritel akan turun," tuturnya. (bani)