Disaat Asuransi Menjawab Kebutuhan Konsumen

Komitmen Alliaz Menjadi Terdepan

Jumat, 31/10/2014

NERACA

Jakarta -Betapa bangganya bisa mewujudkan mimpi memiliki kendaraan pribadi dari hasil menabung, sehingga bisa menikmati liburan bersama keluarga. Hal inilah yang dialami Budi (40), karyawa swasta di salah satu bank nasional. Namun tiba-tiba mobil yang dikendarainya saat itu sedang mengantri di tengah-tengah kemacetan ditabrak dari belakang, dan tentu saja menabrak mobil yang ada di depan. Sontak saja, pristiwa tersebut mengejutkan. Setelah memeriksa dan menenangkan anak-anak yang tidak mengalami cidera parah, Budi turun dari mobil untuk memeriksa kerusakan mobilnya.

Di luar perkiraan, mobil miliknya ternyata penyok depan belakang. Alhasil, kondisi ini membuat Budi geram lantaran dirinya merasa sudah membawa mobil dengan hati-hati. Setelah negosiasi panjang dengan sopir yang menabrak mobilnya dari belakang, juga mobil yang ditabrak oleh Budi, akhirnya diperoleh kesepakatan penabrak mobilnya memberikan sejumlah uang untuk memperbaiki mobil milik Budi.

Beruntung mobil yang ditabrak oleh Budi tidak meminta ganti rugi apapun. Penabrak saat itu memiliki asuransi untuk mobilnya, begitu pun mobil yang dia tabrak. Jadi mau tidak mau, cukup tidak cukup, uang dari penabrak terpaksa dia terima. Ya, diantara ketiga mobil yang mengalami kecelakaan saat itu, hanya mobil dirinya saja yang tidak memilikiasuransi mobil. Padahal saat dirinya memutuskan membeli mobil bekas dari dealer, dealer pun sudah menawarkan asuransi.

Pertimbangannya kala itu tidak akan ada kejadian apa pun di jalan. Dirinya pikir untuk apa bayar premi setiap bulan, padahal dia sudah sangat hati-hati membawa kendaraan. Ternyata takdir berkata lain, meskipun sudah berhati-hati membawa kendaraan dan mentaati segala peraturan lalu lintas, tidak demikian dengan pengendara yang lain.

Lain lagi dengan cerita Rosita (32), suka sekali berpesiar ke negara-negara lain. Dia sadar banyak kejadian di negeri orang yang tidak bisa diprediksi sebelumnya. Karena itu, tiap pelesir Rosnita selalu membeli asuransi perjalanan. Pernah satu kali dia merasakan betapa bermanfaatnya membeli asuransi perjalanan. Saat berpesiar ke Eropa, penerbangan Rosnita dari Berlin, Jerman ke London, Inggris, terhalang. Rupanya, London tengah diterjang badai sehingga semua bandara ditutup.

Semua penerbangan menuju kota tersebut pun dibatalkan. Masalahnya, Rosnita harus segera sampai ke London karena dua hari lagi dia mesti terbang ke Jakarta. Berkonsultasilah dia dengan agen asuransi. Agen tersebut memberi solusi bila tidak dapat tiket sama sekali, Rosnita bisa bermalam di Berlin dengan biaya yang dapat diklaim ke asuransi, walaupun harganya melonjak dari biasanya. Dari gambaran diatas, menjadi penting akan sebuah pengalihan risiko dengan berasuransi. Kalimat bijak sedia payung sebelum hujan menjadi alasan, kenapa seseorang dinilai perlu memiliki asuransi baik itu asuransi jiwa, kesehatan, pendidikan, hari tua, asuransi perjalanan dan termasuk asuransi kendaraan. Apalagi, dalam perkembangannya saat ini produk asuransi berkembang kompleks seiring dengan kebutuhan pasar yang selalu tumbuh.

Saat ini penetrasi asuransi di Indonesia masih rendah. Data Otoritas Jasa Keuangan menyebutkan, sekitar 18% masyarakat yang melek asuransi dari total populasi 240 juta jiwa. Bahkan dari jumlah itu, yang benar-benar sudah merasakan produk asuransi hanya 12% atau hanya 28,8 juta penduduk saja. Rendahnya penetrasi asuransi banyak berbagai faktor dan salah satunya soal minimnya sosialisasi dan edukasi literasi asuransi. Dimana sebagian masyarakat beranggapan masih banyak kebutuhan lain yang lebih mendesak ketimbang menyisihkan sebagian penghasilan untuk keperluan proteksi diri dan harta bendanya.

Apalagi, jika mengharapkan masyarakat memandang asuransi sebagai instrumen investasi dan gaya hidup, mungkin masih terlalu jauh. Hasbullah Thabrany, profesor Fakultas Kesehatan Publik Universitas Indonesia menilai, belum sadarnya masyarakat pentingnya asuransi karena kecenderungan masyarakat Indonesia untuk tidak terlalu mempedulikan risiko disebabkan belum melihat jangka panjang sehingga cenderung menganggap sebelah mata terhadap kepentingan untuk memiliki proteksi risiko.

Melek Asuransi Sejatinya, dengan daya beli masyarakat yang terus meningkat bisa ikut mengerek pertumbuhan asuransi, namun ironisnya minimnya melek asuransi menjadi hambatan pertumbuhan asuransi di Indonesia, atau ketinggalan dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Menurut Direktur Pengaturan Penelitian dan Pengembangan Industri Keuangan Non Bank OJK, Yusman, manfaat dari asuransi adalah membangun kesiapan finansial. "Asuransi adalah komponen krusial dalam perencanaan keuangan,”ujarnya.

Maka untuk meningkatkan kesadaran asuransi, OJK bersama lembaga industri keuangan dan ternasuk salah satunya dengan industri asuransi meluncurkanprogram Strategi Nasional Literasi Keuangan.Program ini disambut baik PT Asuransi Allianz Utama Indonesia dengan terus berinovasi melakukan kegiatan edukasi guna meningkatkan minat masyarakat untuk berasuransi,"Ini merupakan tantangan bagi para praktisi asuransi di Indonesia termasuk untuk Allianz Indonesia," kata Country Manager dan Dirut Allianz Life Indonesia, Joachim Wessling.

Menurutnya, dalam kurun waktu lima tahun terakhir, Allianz Indonesia telah melakukan berbagai kampanye pengenalan asuransi melalui kegiatan-kegiatan edukasi dan pelatihan literasi keuangan kepada berbagai lapisan masyarakat. Pasalnya, diakui masih banyak nasabah Allianz yang belum paham tentang asuransi, termasuk asuransi perjalanan.

Head of Personal Accident Travel and Health, Asuransi Allianz Utama Indonesia, Mariani Solihah bilang, banyak paratravelersyang salah mengartikan soal penggunaan travel insurance atau asuransi perjalanan, terutama dari sisimedical expense(biaya pengobatan). Asuransi perjalanan memang memberikan pelayanan kepada paratravelersyang sakit saat melakukan perjalanan. Namun, banyak kesalahan persepsi dari paratravelersyang menggunakan asuransi tersebut disalahgunakan.“Asuransi perjalanan tersebut malah dijadikan untuk berobat.Travel insuranceitu meng-coverpenyakit selama perjalanan, bukan penyakit bawaan, misalnya, saat travel salah makan dan menjadi sakit perut, biaya berobatnya bisa di klaim di asuransi,” ujar Mariani.

Danya kondisi tersebut, lanjutnya, paratravelersyang menggunakan asuransi perjalanan ini, masih banyak yang belum paham betul bagaimana mengklaimtravel insurance, “Banyak yang salah persepsi soalmedical insuranceyangtravelingsekalianmedical check up,padahal cuma US$3.000 yang di-covertapi klaimnya bisa sampai US$100 ribu, ini yang biasanya menjadi salah persepsi mereka,”ungkap Mariani.

Allianz sendiri mencatat pertumbuhantravel marketIndonesia sejak 2008 sampai 2012 sebesar 8,5% dengan jumlahtravelermencapai 7,6 juta orang. Dari total jumlah tersebut masih minimtravelersIndonesia yang mengikutitravel insurance.Saat ini, PT Asuransi Allianz Utama mencatat kontribusi premi dari produk asuransi perjalanan (travel insurance) masih rendah, yakni di bawah 10% dari total produk premi perusahaan. Kata Mariani Solihah, pada beberapa tahun mendatang, perusahaan berharap kontribusi premi dapat meningkat hingga 100% per tahunnya. Harapan peningkatan kontribusi premi itu juga tak lepas dari potensi sektor pariwisata Indonesia, yang menurut Mariani, akan terus meningkat dengan pertumbuhan di kisaran delapan persen. Pada 2008-2012, Allianz mencatat pertumbuhan pelancong sebesar 8,5% per tahun. Akhirnya dengan kesadaran masyarakat berasuransi dari berbagai aspek, bisa menjalani hidup dengan senyuman karena ada jaminan pengalihan risiko yang dihadapi. [bani]