Akhir Pekan, Laju IHSG Belum Bergairah

NERACA

Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) Kamis sore, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup terkoreksi 15,207 poin (0,30%) ke level 5.058,849. Sementara Indeks LQ45 mundur 3,181 poin (0,37%) ke level 860,291.

Kepala Riset Woori Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada mengatakan, sebagian pelaku pasar kembali mengambil posisi ambil untung mengantisipasi penaikan harga bahan bakar minyak (BBM),”Kendati demikian, mayoritas laju bursa saham regional yang positif menahan tekanan lebih dalam," katanya di Jakarta, Kamis (30/10).

Dia menambahkan bahwa ekspektasi akan kinerja beberapa emiten yang positif pada periode kuartal III 2014 diiringi dengan fluktuasi rupiah yang stabil menahan indeks BEI melemah lebih dalam. Di sisi lain, sentimen positif juga terlihat dari kembali terjadinya aksi beli asing yang menahan koreksi IHSG BEI lebih dalam.

Sementara analis HD Capital Yuganur Wijanarko menambahkan, setelah adanya kepastian dari the Fed untuk menghentikan program "quantitative easing", pelaku pasar mulai beralih fokus ke rencana pemerintah menaikan BBM,”Pelaku pasar menunggu kepastian waktu rencana penaikan BBM untuk kembali bergerak ke kisaran level 5.100 poin,”ujarnya.

Berikutnya, indeks BEI Jum’at akhir pekan diproyeksikan akan bergerak konsolidasi dengan kecenderungan kembali melemah. Transaksi investor asing hingga sore tercatat melakukan pembelian bersih (foreign net buy) senilai Rp 256,969 miliar di seluruh pasar. Sedangkan untuk pasar reguler saja net buy Rp 108,731 miliar.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 200.161 kali dengan volume 4,784 miliar lembar saham senilai Rp 7,811 triliun. Sebanyak 120 saham naik, 169 turun, dan 85 saham stagnan. Nilai dan volume transaksi melonjak cukup tinggi gara-gara adanya transaksi pengalihan saham Bank Central Asia (BBCA) sebesar Rp 3,2 triliun di pasar negosiasi. Transaksi ini difasilitasi dua broker, yaitu Credit Suisse Securities (CS) dan Maybank Kim Eng Securities (ZP).

Bursa-bursa di Asia menutup perdagangan dengan mixed cenderung menguat. Hanya bursa Hong Kong yang melemah kena sentimen negatif aksi protes pemilu setempat. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Astra Agro (AALI) naik Rp 1.925 ke Rp 23.000, Elang Mahkota (EMTK) naik Rp 650 ke Rp 6.750, Samudera Indonesia (SMDR) naik Rp 150 ke Rp 8.800, dan Lippo Cikarang (LPCK) naik Rp 125 ke Rp 8.175.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 950 ke Rp 20.900, Unilever (UNVR) naik Rp 650 ke Rp 30.450, Matahari (LPPF) naik Rp 600 ke Rp 14.550, dan Gudang Garam (GGRM) naik Rp 575 ke Rp 56.350.

Perdagangan sesi pertama, IHSG ditutup melemah 33,305 poin (0,66%) ke level 5.040,751. Sementara Indeks LQ45 turun 6,830 poin (0,79%) ke level 856.642. Hanya sektor agrikultur yang bisa menguat dengan lonjakan cukup tinggi hingga lebih dari 3%. Tapi sembilan sektor lainnya terjebak di zona merah.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 112.131 kali dengan volume 2,627 miliar lembar saham senilai Rp 5,569 triliun. Sebanyak 84 saham naik, 175 turun, dan 87 saham stagnan. Bursa-bursa di Asia masih bergerak variatif hingga siang. Pelaku pasar regional merespons kebijakan The Fed berbeda-beda. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Astra Agro (AALI) naik Rp 1.700 ke Rp 22.775, Sampoerna (AGRO) naik Rp 110 ke Rp 2.125, Wilmar Cahaya (CEKA) naik Rp 100 ke Rp 1.750, dan Maya (MAYA) naik Rp 95 ke Rp 1.995. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 975 ke Rp 20.875, Matahari (LPPF) naik Rp 575 ke Rp 14.575, Unilever (UNVR) naik Rp 550 ke Rp 30.550, dan BCA (BBCA) naik Rp 375 ke Rp 13.000.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka melemah tipis sebesar 1,15 poin atau 0,02% menjadi 5.072,90. Sementara itu, dan indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 0,28 poin (0,03%) ke level 863,18,”Indeks BEI melemah di tengah keputusan bank sentral AS (the Fed) yang menghentikan program pelonggaran stimulus keuangan atau 'quantitative easing' (QE), sementara itu bursa saham di kawasan Asia merespons beragam, Nikkei bergerak menguat sedangkan Hang Seng melemah," kata analis Samuel Sekuritas, Tiesha Narandha Putri.

Dari dalam negeri, dia menambahkan bahwa pemerintah akhirnya memberikan pernyataan akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tahun ini. Sementara itu, Head of Research Valbury Asia Securities Alfiansyah mengatakan bahwa Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengemukakan Indonesia mungkin akan menaikkan harga BBM bersubsidi sebelum akhir tahun untuk menciptakan ruang fiskal lebih besar.

Menurut dia, ekonomi Indonesia saat ini mengalami pertumbuhan pada kecepatan paling lambat sejak tahun 2009 dan sedang menghadapi ancaman defisit transaksi berjalan yang berada di dekat rekor tertingginya. Kondisi itu bisa menjadi ancaman potensi arus keluar dana dari pasar modal Indonesia. Tercatat bursa regional, di antaranya indeks Bursa Hang Seng dibuka melemah 72,85 poin (0,31%) ke 23.747,02, indeks Nikkei naik 91,57 poin (0,59%) ke 15.645,48, dan Straits Times menguat 2,08 poin (0,06%) ke posisi 3.226,10. (bani)

Related posts