Proyek Tol Laut Butuh Infrastruktur Pendukung

Sistem Logistik

Jumat, 31/10/2014

NERACA

Jakarta – Asisten Deputi Sistem Logistik dan Fasilitas Perdagangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Erwin Raza mengatakan pembangunan tol laut dipastikan akan memakan waktu lama karena membutuhkan sejumlah komponen sarana pendukung.

Menurut dia, pembangunan tol laut sebagai program yang digadang-gadang oleh Presiden Joko Widodo sejak kampanye pemilihan umum presiden lalu paling tidak membutuhkan sejumlah komponen pendukung yakni pengembangan sarana dan prasarana multimoda; prasarana pelabuhan dan pendukungnya; sarana kapal; sistem pengembangan sumber daya manusia.

"Jadi tol laut itu tidak sederhana. Kita harus siapkan komponen-komponen utama itu," kata Erwin dikutip dari Antara, di Jakarta, Kamis.

Menurut Erwin, meski masuk sebagai program prioritas pemerintah Jokowi dan sudah dibahas dalam rapat koordinasi dengan jajaran menteri, konsep tol laut masih belum jelas. "Sampai sekarang kan belum jelas konsep tol laut itu seperti apa. Kami harap nanti Kemenko Kemaritiman bisa menginisiasi seperti apa konsepnya," katanya.

Selain konsep tol laut yang belum jelas, masih ada sejumlah tantangan dalam pembangunan jalur yang bertujuan untuk memperkuat sektor maritim Indonesia itu. Salah satunya adalah bagaimana bisa mempersiapkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di sepanjang jalur laut agar terjadi perputaran ekonomi.

"Yang dikeluhkan teman-teman dari sektor pelayaran adalah mereka tidak bisa bolak-balik. Mereka mungkin bisa berangkat ke pelabuhan tujuan, tapi saat balik kosong. Tidak bawa muatan apa-apa," katanya.

Alternatif lain, lanjut Erwin, adalah dengan menyiapkan angkutan "feeder" (pengumpan) yang membawa muatan dalam jumlah kecil untuk dikumpulkan dan kemudian disalurkan. "Kita tidak bisa paksakan ke pelaku usaha. Makanya kita harus bangun pusat pertumbuhan dulu. Menurut saya, tetap saja ini akan butuh waktu yang panjang," ujarnya.

Proyek pembangunan tol laut merupakan salah satu wujud janji pemerintah Joko Widodo-Jusuf Kalla untuk memperkuat sektor maritim. Percepatan pembangunannya menjadi program kerja utama Kementerian Koordinator bidang Kemaritiman dengan mengkoordinasikan empat kementerian yaitu Kementerian Energi dan Seumber Daya Mineral, Kementerian Pariwisata, Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta Kementerian Perhubungan.

Sementara itu, masih dari laman yang sama, General Manager Reed Panorama Exhibitions James Boey selaku penyelenggara Indonesia Transport, Supply Chain and Logistic (ITSCL Industri logistik Indonesia perlu semakin diperkuat agar mampu bersaing dengan negara lain saat diberlakukannya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015.

"Dengan diberlakukannya MEA 2015, maka sangat penting bagi industri untuk memperkuat logistik, infrastruktur dan 'supply chain' agar mampu meningkatkan daya saing dan memanfaatkan setiap peluang era MEA," katanya.

Ia mengatakan melalui ITSCL, diharapkan para pelaku bisnis logistik mendapatkan solusi dan inovasi dalam pameran tersebut, sehingga logistik dan transportasi Indonesia ke negara lain bisa menjadi lebih cepat dengan biaya yang semakin murah. "Jadi industri logistik Indonesia dapat lebih kompetitif dibandingkan negara lain, karena biaya logistik di Indonesia saat ini bisa dibilang tidak murah," kata dia.

Dalam pameran yang berlangsung pada 29-31 Oktober di JIExpo Kemayoran tersebut, hadir 102 perusahaan dari 16 negara yang menawarkan berbagai solusi, inovasi dan teknologi bidang logistik dan transportasi. "Permintaan pasar yang besar telah membuka kesempatan dan membangkitkan keinginan untuk memperkenalkan teknologi dan aplikasi baru yang menambah nilai dalam 'supply chain'," kata James.

Sementara Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Suryo Bambang Sulisto mengatakan, bisnis logistik di Indonesia telah menunjukkan angka pertumbuhan dari tahun ke tahun. "Sistem logistik Indonesia disebut-sebut bermasalah tetapi terus tumbuh, bahkan pertumbuhannya lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional," katanya.

Oleh karena itu, lanjutnya, fokus bisnis logistik Indonesia ke depan adalah menjaga pertumbuhan bisnis logistik, peta jalan logistik nasional dan mendorong efisiensi pengiriman untuk meningkatkan daya saing Indonesia di kawasan Asia Tenggara dan dunia.