Waspadai Potensi Kredit Macet Lilit Perbankan - TRANSAKSI KARTU KREDIT MELEJIT Rp14,7 T/BULAN

Jakarta – Kematian nasabah Citibank bernama Irzen Octa pasca berurusan dengan jasa penagih utang (debt collector) pada akhir Maret silam ternyata tidak menciutkan nyali sikap konsumerisme masyarakat pengguna kartu kredit di negeri ini. Justeru sebaliknya, sepanjang semester I-2011 perilaku belanja para konsumen kartu kredit menunjukkan tren yang kian meningkat. Bahkan, menurut catatan pengurus Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI), pada semester I-2011 nilai transaksi (sales volume) kartu kredit menembus angka Rp88 triliun, atau melonjak 14,4% dibanding periode yang sama pada 2010 yang mencapai Rp76,9 triliun.

NERACA

Sementara itu, total kredit yang dikucurkan oleh 20 bank penerbit kartu kredit sampai Juni 2011 menembus angka Rp 40 triliun. Sedangkan jumlah transaksi kartu kredit semester I-2011 sebesar 102,7 juta atau naik 6,8% dibanding 2011. “Setiap bulannya, rata-rata jumlah transaksi kartu kredit sebesar 17,1 juta atau 396 transaksi per menit dengan rata-rata belanja masyarakat mencapai Rp 14,7 triliun per bulannya," ungkap Direktur Eksekutif AKKI Dodit W. Probojakti kepada Neraca, Minggu (4/9).

Dodit menambahkan jumlah kartu kredit yang beredar juga naik secara year on year (yoi) sebesar 11% dari 12,8 juta pada Juni 2010 menjadi 14,2 juta pada Juni 2011. Lebih jauh General Manajer Kartu Kredit BNI itu mengungkapkan, jumlah kartu kredit BNI sampai dengan Juni 2011 sebesar 1,82 juta atau meningkat 28% dibanding 2010. “Nilai transaksi mencapai pertumbuhan 46% atau sebesar Rp7,3 triliun sampai Juli 2011, dan asset growth mencapai pertumbuhan 27% menjadi Rp3,7 triliun sampai Juli 2011," imbuhnya.

Kendati pertumbuhan kartu kredit memang sejalan dengan tujuan Bank Indonesia untuk menciptakan less cash society, akan tetapi di tengah perilaku masyarakat yang semakin menjurus kepada budaya konsumtif, penggunaan kartu kredit kerapkali dipraktikkan secara keliru.

Berutang di kartu kredit dianggap sebagai “sumber penghasilan tambahan” bagi pemegangnya sehingga “lebih besar pasak daripada tiang”. Artinya, pengeluaran lewat kartu kredit lebih besar daripada penghasilan. Jadilah sang kreditor terjerat utang besar kepada bank, bahkan sampai berurusan dengan debt collector.

Nah, menanggapi hal itu, dosen FEUI Lana Soelistianingsih berpendapat pertumbuhan kartu kredit yang signifikan menandakan semakin konsumtifnya masyarakat. Lebih-lebih fenomena pemakaian kartu kredit yang melonjak lebih tajam menjelang hari raya atau hari besar. ”Menurut data yang saya dapatkan, ada beberapa ritel selama menjelang hari raya yang omsetnya naik sangat tinggi mencapai 300%. Ini memperlihatkan pemakaian kartu kredit di masyarakat sudah sangat memprihatinkan,” tukasnya.

Lebih lanjut, Lana menyerukan masyarakat untuk merubah paradigma tentang kartu kredit, agar jangan terlalu berlebihan dalam pemakaiannya. Menurut dia, meski pencegahan pemakaian kartu kredit yang berlebihan oleh masyarakat memang sulit untuk dilakukan saat ini, namun bisa diatasi dengan cara mendidik masyarakat lewat Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) tentang ”bahaya” pemakaian kartu kredit yang berlebihan.

Potensi Kredit Macet

Senada dengan Lana, guru besar FE Univ. Trisakti Prof. Dr. Sofyan S. Harahap menilai sulit menghilangkan kebiasaan masyarakat Indonesia memakai kartu kredit. Sebab, kata dia, bangsa Indonesia adalah bangsa konsumtif dan perekonomian negara didorong oleh konsumsi domestik. “Ini kan berarti sejalan. Saya kira untuk mengendalikan (pemakaian kartu kredit) tidak mungkin. Tapi diarahkan bisa, yaitu masyarakat harus membeli barang buatan sendiri (dalam negeri) dan bukan impor,” jelas dia kemarin.

Disinggung soal potensi kredit macet (NPL-non performing loan) bank yang tinggi akibat melesatnya pertumbuhan kartu kredit, dia menegaskan ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Yaitu, bank harus mewaspadai agar jangan terlalu mudah memberikan akses pemakaian kartu kredit kepada nasabah. Oleh karena itu, pemberian aplikasi kartu kredit harus diperketat.

“Posisi bank memang dilematis. Di satu sisi harus taat aturan dalam memberikan akses kartu kredit, tapi di sisi lain, jika longgar maka NPL semakin tinggi. Jalan tengahnya adalah bank harus bijak dan pintar milah-milah nasabah,” ujar Sofyan.

Sedikit berbeda dengan analisis Sofyan, Dodit menjelaskan pertumbuhan kartu kredit justeru berbanding terbalik dengan kenaikan NPL. “NPL kita tahun ini justru turun. Kalau tahun lalu berkisar 8-9%, NPL tahun ini hanya 4%. Padahal kartu kredit tumbuh 14,4% pada semester I-2011. Kenapa begitu? Menurut saya, mungkin nasabah kartu kredit sekarang lebih bijak. Apalagi kalau mereka tidak bayar kewajiban, data mereka masuk ke BI dan mereka tidak bisa mengajukan aplikasi kredit lain,” terang Dodit.

Dia memprediksi, jika pertumbuhan kartu kredit sepanjang 2010 berkisar 18%, maka di akhir tahun ini, pertumbuhannya bisa menembus 20%. Faktor kemudahan bertransaksi, kemudahan akses kartu kredit serta iming-iming fasilitas tambahan seperti diskon dan cicilan merupakan magnet penarik minat masyarakat untuk menjadi nasabah kartu kredit. Meski demikian, dia juga mengingatkan, jika pengelolaan kartu kredit tidak ditangani dengan baik, potensi kredit macet akan benar-benar melilit dunia perbankan.

Pada kesempatan lain, di tengah pertumbuhan kartu kredit yang sangat menakjubkan, mantan Deputi Gubernur Senior BI Miranda S. Goeltom justru menilai kinerja perbankan masih jauh dari efisien karena biaya operasional yang cukup besar. Karena itu suku bunga kredit perbankan di Indonesia masih cukup mahal. “Bank Indonesia (BI) mesti fokus kepada efisiensi perbankan karena bank-bank di Indonesia masih boros jika dibandingkan negara lain,” kata Miranda akhir pekan lalu.

Miranda mengutarakan, efisiensi perbankan memang sangat penting namun butuh investasi tinggi untuk memperbaiki sistem-sistemnya menjadi lebih baik. Maka, lanjut Miranda, perbankan harus lebih rajin mendidik pegawainya untuk menjalankan bisnis dengan efisien. "Bank juga sepertinya kurang memiliki visi untuk mengembangkan metode pemasarannya sehingga lebih efisien. Jadi efisiensi itu penting, sebab kalau efisien maka pemilik tidak perlu lagi kasih bunga mahal," pungkasnya. vanya/iwan/ardi/munib

Related posts