Iklim Investasi Bakal Diperbaiki

Kamis, 30/10/2014

NERACA

Jakarta - Bank Dunia merilis data terkait daftar negara terbaik untuk dijadikan tempat berbisnis. Indonesia sendiri menempati urutan ke 118.

Menanggapi hal itu, Menteri KeuanganBambang PS Brodjonegoro meminta iklim investasi untuk berbisnis di Indonesia diperbaiki. Indonesia di urutan 118, berbeda dengan negara seperti Singapura yang menempati urutan pertama selama sembilan tahun berturut-turut. "Ya nanti kita perbaiki yang masih jelek lah," kata Bambang di kantornya, Jakarta, Rabu (29/10).

Bambang menambahkan, pada dasarnya perbaikan dari segala lini memang harus segara dilakukan, seperti halnya perizinan, karena hal tersebut menjadi salah satu hambatan investasi di RI.

Berdasarkan laporan Bank Dunia Indonesia mencatatkan poin 59,15 di atas Ekuador namun di bawah negara bernama Palau. Posisi Indonesia ini jauh di bawah negara tetangga seperti Malaysia yang berada pada posisi 18 dan Thailand 26. Bahkan Indonesia juga di bawah Vietnam yang berada di posisi 78.

Penetapan ranking ini menggunakan metrik seperti waktu yang dibutuhkan untuk membuka dan menutup usaha, mendapatkan izin konstruksi, pembayaran pajak, pasokan energi. Kemudian waktu pengiriman barang ekspor dan impor (distribusi) dan lainnya.

"Daftar ini masih sangat mirip dengan tahun lalu.Perekonomiannegara dengan posisi di atas 20 terus meningkatkan lingkungan aturan bisnis mereka," jelas laporan tersebut.

Survei, yang pertama kali diterbitkan pada tahun 2004, diperluas tahun ini mencakup kota bisnis terbesar kedua di negara-negara yang memiliki lebih dari 100 juta penduduk.

Secara keseluruhan, laporan ini melihat adanya kemudahan lebih besar untuk melakukan bisnis secara global di negara maju dan berkembang karena mereka mengadopsi praktek-praktek yang lebih baik dan reformasi peraturan yang memudahkanbisnis.

Sebelumnya, mantan Menteri Perindustrian (Menperin) MS Hidayat mengatakan Indonesia masuk dalam daftar 10 negara yang menjadi tujuan investasi asing di dunia. "Itu berdasarkan survei prospek investasi dunia yang dilakukan UNCTAD (United Nation Conference on Trade and Development) pada 2010," ujarnya.

Hal itu, kata dia, setidaknya terlihat dari realisasi investasi di Indonesia yang terus meningkat. Pada semester pertama 2012 realisasi investasi naik 28,1 persen menjadi Rp148,1 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu. "Jumlah tersebut terdiri dari investasi asing langsung sebesar Rp107,6 triliun dan investasi dalam negeri sebesar Rp40,5 triliun," kata Hidayat.

Untuk mendukung iklim investasi, lanjut dia, pemerintah terus membangun infrastruktur dan melakukan percepatan pembangunannya melalui program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang fokus pada konektivitas enam koridor ekonomi. "Dalam lima tahun ke depan, proyek infrastruktur di Indonesia dibagi dalam 11 sektor yang membutuhkan dana hingga 931,7 miliar dolar AS," kata Hidayat.

Kesebelas sektor itu adalah transportasi udara, darat, laut, kereta api, jalan bebas hambatan, pasokan air bersih, telekomunikasi, dan energi listrik. [agus]