Industri Perbenihan Perlu Kembangkan Riset

Pertanian

Kamis, 30/10/2014

NERACA

Jakarta – Kementerian Pertanian mendorong industri benih di Tanah Air untuk mengembangkan riset dan mampu menciptakan varietas sendiri, guna meningkatkan daya saing perbenihan nasional di tengah persaingan global. Direktur Perbenihan Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Bambang Budhianto mengatakan, saat ini masih banyak industri benih di Tanah Air yang hanya bertindak sebagai penangkar dan enggan mengembangkan riset untuk menemukan varietas-varietas yang baru.

Dia mengungkapkan, 90% varietas padi yang beredar di pasaran saat ini merupakan hasil pengembangan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, sedangkan industri benih hanya memperbanyak untuk dikomersilkan. "Ke depan harus dikembangkan perusahaan (benih) yang punya riset, karena yang dijual perusahaan itu teknologi. Kita dorong yang seperti ini," tukas Bambang sebagaimana dilansir dari Antara di Jakarta, Rabu.

Untuk itu, tambahnya, pemerintah akan memberikan fasilitas misalnya sertifikasi benih yang dihasilkan industri tersebut, namun bagi perusahaan yang sudah mampu dapat melakukan sertifikasi sendiri. Sebelumnya pada Senin (27/10), Direktur Perbenihan sempat melakukan kunjungan ke industri benih PT Agri Makmur Pertiwi (AMP) di Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

Dalam kunjungan tersebut pihaknya menyaksikan pengembangan lahan riset yang dilakukan perusahaan benih nasional tersebut, guna mendukung program pemerintah meningkatkan ketahanan benih dalam negeri serta mengurangi impor.

Bambang menyatakan, PT AMP merupakan salah satu industri benih nasional yang mampu mengembangkan riset dari sekian banyak perusahana benih multinasional di Tanah Air. "Tidak banyak perusahaan yang mampu mengembangkan riset, bahkan perusahaan benih milik BUMN saja tidak mampu," ungkapnya.

Untuk mengembangkan riset, lanjutnya, diperlukan investasi yang tidak sedikit antara lain pengadaan lahan, infrastruktrur, pembangunan gedung, laboratorium serta sumber daya manusia yang berkualitas.

Sementara itu Direktur Utama PT AMP Junaidi Sungkono menyatakan, pada 2009 awalnya pihaknya hanya menyiapkan lahan seluas 2 hektare untuk riset perbenihan. Namun, lanjutnya, saat ini telah menyiapkan 6 hektare lahan untuk riset khususnya pembenihan tanaman pangan, 11 hektare di Kota Batu untuk tanaman sayur, 5 hektare di kecamatan Ngantang Tulungagung, serta 12 hektare di Kediri.

Varietas yang dikembangkan untuk benih tanaman pangan yakni padi dan jagung, sedangkan sayuran seperti kacang panjang, cabai, tomat, sawi, pare, sementara buah-buahan yakni melon. "Kami melakukan riset dan pengembangan untuk tanaman sayuran baik dataran rendah, menengah hingga dataran tinggi," paparnya.

Junaidi mengatakan, sejak 2009 hingga kini, pihaknya telah melepas 75 varietas tanaman ke pasaran, di mana 45 di antaranya mendapatkan sertifikat Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) dari Kementerian Pertanian. "(Yang kami lakukan) ini untuk menyongsong kemandirian dan kedaulatan pangan, seperti yang diprogramkan pemerintah saat ini," tukasnya.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Amran Sulaiman menargetkan Indonesia mencapai swasembada pangan dalam tiga sampai empat tahun ke depan. "Untuk mecapai swasembada pangan perlu memprioritaskan irigasi, bibit, mekanisasi, dan jaminan pasar," kata Amran Sulaiman di Kementerian Pertanian, Jakarta, seusai serah terima jabatan menteri, Selasa.

Menurutnya jaminan pasar menjadi penting agar saat masa panen mencapai puncak, ada pasar yang dapat menampung komoditas tersebut. Komoditas pangan yang peningkatan produksinya menjadi prioritas Kementerian Pertanian adalah padi, jagung, kedelai, dan gula karenan Indonesia masih sering mengimpor bahan pangan tersebut. Selain itu, perluasan wilayah juga menjadi fokus program kerja Kementerian Pertanian. "Lahan sudah ada, tinggal sinergi dengan direktorat lain. Ini harus dilakukan terintegrasi tidak boleh berdiri sendiri-sendiri," kata dia.

Sementara itu, Mantan Menteri Pertanian Suswono dari kabinet Indonesia Bersatu II periode 2009-2014, Selasa melakukan serah terima jabatan kepada penggantinya Amran Sulaiman dari Kabinet Kerja periode 2014-2019 di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta.

Dalam sambutannya, Suswono mengatakan ia sudah menunggu saat tersebut karena untuk menyelesaikan masalah pertanian harus dilakukan secara cepat. "Pekerjaan ini sangat mulia, karena para petani di desa kebanyakan masyarakat duafha. Para petani di pedesaan, 60 persen adalah petani penerima raskin," katanya.

Ia mengatakan hampir sebagian besar masyarakat Indonesia adalah petani, jika masalah pertanian dapat diselesaikan dengan baik maka pemerintah telah menyelesaikan sebagian besar masalah di Indonesia. Ia sangat mengapresiasi visi misi dari Kabinet Kerja untuk memperluas lahan pertanian yang kini semakin sempit.

Menurutnya untuk mewujudkan swasembada dan kedaulatan pangan, banyak tantangan yang harus dihadapi seperti perubahan iklim yang tidak dapat diprediksi, lahan yang semakin sempit, irigasi, sumber daya manusia dan modal.