Pergerakan IHSG Masih Tren Menguat

Kamis, 30/10/2014

NERACA

Jakarta – Derasnya aksi beli investor memicu transaksi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak aktif sehingga membawa sentiment positif terhadap laju indeks harga saham gabungan (IHSG) yang terus menguat sejak diawal perdagangan hingga akhir perdagangan. Tercatat, mengakhiri perdagangan Rabu (29/10), IHSG ditutup melesat 72,752 poin (1,45%) ke level 5.074,056. Sementara Indeks LQ45 ditutup melaju 16,941 poin (2,00%) ke level 863,472.

Kata Direktur Utama BEI, Ito Warsito, pergerakan indeks BEI akhir-akhir ini lebih banyak mengikuti tren global. Selain tren global, pergerakan pasar saham juga banyak dipengaruhi oleh kinerja emiten dan stabilitas makro ekonomi global dan domestik, diharapkan sentimen dari dalam negeri maupun eksternal kondusif,”Kalau semuanya kondusif maka kinerja emiten akan mencapai target," katanya di Jakarta, Rabu (29/10).

Hal senada juga disampaikan Head of Research Valbury Asia Securities Alfiansyah, salah satu faktor yang mendorong IHSG positif pada perdagangan saham yakni membaiknya bursa saham Amerika Serikat,”Diharapkan sentimen dari publikasi kinerja emiten kuartal III 2014 menambah sentimen positif bagi indeks BEI setelah meredanya sentimen politik di Indonesia,”ujarnya.

Berikutnya, indeks BEI Kamis diproyeksikan akan bergerak menguat seiring sentiment positif laporan keuangan emiten kuartal tiga. Perdagangan kemarin, saham-saham unggulan paling banyak diincar. Indeks sektoral bisa menguat hingga rata-arat lebih dari dua persen. Investor asing kembali berburu saham. Transaksi pemodal asing hingga sore tercatat melakukan pembelian bersih (foreign net buy) senilai Rp 1,9 triliun di seluruh pasar. Transaksinya di pasar reguler hanya Rp 509 miliar.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 232.082 kali dengan volume 5,771 miliar lembar saham senilai Rp 11,973 triliun. Sebanyak 232 saham naik, 91 turun, dan 67 saham stagnan. Volume dan nilai perdagangan hari ini melonjak tinggi karena ada transaksi penjualan saham PT Link Net Tbk (LINK) oleh beberapa broker. Link memang berniat menjual sebagian sahamnya kepada investor strategis.

Transaksi saham LINK di pasar negosiasi hari ini mencapai Rp 6,8 triliun. Sahamnya rata-rata dijual di harga Rp 6.200. Bursa-bursa regional berhasil mempertahankan momentum penguatan hingga sore dan ditutup kompak di zona hijau. Penguatan bursa global semalam memberi sentimen positif.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Merck (MERK) naik Rp 13.000 ke Rp 173.000, Unilever (UNVR) naik Rp 1.225 ke Rp 31.100, HM Sampoerna (HMSP) naik Rp 1.100 ke Rp 72.000, dan Astra Agro (AALI) naik Rp 1.100 ke Rp 21.075. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Multi Bintang (MLBI) turun Rp 50.000 ke Rp 1,25 juta, Link Net (LINK) turun Rp 500 ke Rp 6.300, Goodyear (GDYR) turun Rp 500 ke Rp 16.500, dan Samudera Indonesia (SMDR) turun Rp 450 ke Rp 8.650.

Perdagangan sesi pertama, IHSG ditutup menguat 42,978 poin (0,86%) ke level 5.044,282. Sementara Indeks LQ45 menanjak 9,716 poin (1,15%) ke level 856,247. Indeks terus menanjak hingga ke titik tertingginya hari ini di 5.050. Seluruh sektor saham kompak menguat, dipimpin oleh sektor tambang dan konsumer.

Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 126.851 kali dengan volume 2,139 miliar lembar saham senilai Rp 2,234 triliun. Sebanyak 208 saham naik, 68 turun, dan 68 saham stagnan. Bursa-bursa regional melaju semakin kencang hingga siang. Rata-rata penguatan pasar saham Asia lebih dari 1%.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Maskapai Reasuransi (MREI) naik Rp 925 ke Rp 6.200, Unilever (UNVR) naik Rp 900 ke Rp 30.775, Gudang Garam (GGRM) naik Rp 650 ke Rp 56.875, dan Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 575 ke Rp 21.775. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Link Net (LINK) turun Rp 400 ke Rp 6.400, SMART (SMAR) turun Rp 400 ke Rp 7.550, XL Axiata (EXCL) turun Rp 325 ke Rp 5.425, dan Multi Prima (LPIN) turun Rp 300 ke Rp 6.200.

Diawal perdagangan, IHSG dibuka naik 18,18 poin atau 0,36% menjadi 5.019,48, sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) menguat 4,55 poin (0,54%) ke level 851,08. Analis Samuel Sekuritas Tiesha Narandha Putri mengatakan, bursa saham Asia bergerak menguat, termasuk IHSG BEI merespons penguatan bursa saham Amerika Serikat,”Meningkatnya bursa saham AS itu seiring dengan meningkatnya data kepercayaan konsumen Amerika Serikat yang di atas estimasi," katanya.

Kendati demikian, lanjut dia, penguatan IHSG BEI diperkirakan masih terbatas. Hal itu dikarenakan mencuatnya ketidakpastian kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Sebelumnya, pasar mengekspektasi akan terjadi kenaikan pada awal November. Namun, hingga saat ini pemerintah belum memberikan sinyal akan terjadi kenaikan harga.

Di sisi lain, dia menambahkan bahwa kinerja sebagian perusahaan tercatat atau emiten yang di bawah ekspektasi juga turut menjadi pemberat bagi laju IHSG BEI. Head of Research Valbury Asia Securities Alfiansyah menambahkan, setelah sentimen politik, sentimen dari laporan keuangan emiten pada kuartal ketiga tahun ini belum memberikan dukungan bagi pergerakan IHSG BEI,”Pasar masih mencemaskan kondisi perekonomian Indonesia yang akan dihadapkan pada tantangan yang tidak mudah, seperti normalisasi kebijakan the Fed dan isu harga BBM serta perlambatan ekonomi Tiongkok,”paparnya.

Tercatat bursa regional, di antaranya indeks Bursa Hang Seng dibuka menguat 208,77 poin (0,89%) ke 23.729,13, indeks Nikkei naik 190,87 poin (1,22%) ke 15.517,35, dan Straits Times menguat 16,56 poin (0,51%) ke posisi 3.227,80. (bani)