Indonesia Mampu Jadi Pusat Fesyen Muslim Dunia

Kamis, 30/10/2014

NERACA

Jakarta – Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Nus Nuzulia Ishak menyatakan bahwa Indonesia mempunyai potensi untuk menjadi pusat fesyen muslim dunia. Kemendag akan berpartisipasi pada zona khusus produk fesyen muslim di ajang Indonesia Fashion Week (IFW) 2015.

“Ini merupakan langkah awal Kemendag mengimplementasikan dukungan dalam pengembangan fesyen muslim tanah air menuju pasar global,” ujar Nus saat peluncuran fesyen muslim dalam ajang Indonesia Fashion Week (IFW) 2015 di Jakarta, Rabu (29/10).

Nus menegaskan bahwa fesyen Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk terus dikembangkan agar Indonesia menjadi pusat mode di kawasan regional sampai di tingkat global. “Indonesia memiliki kekayaan budaya yang beragam dan dapat menjadi sumber inspirasi yang tak terbatas bagi pelaku fesyen Indonesia untuk terus mengembangkan kreativitas dan inovasinya,” ujarnya.

Menurut Nus, peluang pasar industri fesyen muslim sudah semakin besar karena terjadi peningkatan jumlah masyarakat kelas menengah Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini dapat menjadi salah satu faktor meningkatnya konsumsi masyarakat terhadap fesyen. Masyarakat kelas menengah sudah mulai menjadikan fesyen berkualitas dan bermerek tertentu sebagai kebutuhan.

Secara umum, dunia fesyen Indonesia memberi peningkatan nilai ekspor yang membanggakan. Nilai ekspor produk fesyen Indonesia pada 2013 mencapai US$ 11,78 miliar; sedangkan nilainya pada periode Januari-Juli 2014 sebesar US$ 8,47 miliar atau mengalami kenaikan 17,30% dibanding nilai ekspor periode yang sama tahun 2013. Sementara itu, tren pertumbuhan ekspor produk fesyen selama 2009-2013 mengalami pertumbuhan positif sebesar 10,59% per tahun.

Adapun lima negara utama tujuan ekspor produk fesyen Indonesia pada periode Januari-Juli 2014 adalah Amerika Serikat dengan nilai ekspor US$ 2,98 miliar dengan pangsa pasar 35,23%; Jepang US$ 530 juta (6,26%); Afrika Selatan US$ 526 juta (6,22%); Jerman US$ 501 juta (5,92%); dan Uni Emirat Arab US$ 416 juta (4,91%). “Melihat potensi tersebut, maka produk fesyen muslim Indonesia yang ditampilkan pada zona khusus IFW 2015 diharapkan menjadi highlight yang menunjukkan inovasi serta mengangkat keragaman budaya lokal dengan citra global sebagai inspirasi fesyen muslim internasional," tambah Nus.

IFW 2015 rencananya akan berlangsung pada 26 Februari-1 Maret 2015 di Jakarta Convention Center dengan mengangkat tema Bisnis dan Inovasi. Ajang ini mengangkat keunikan budaya mode Indonesia. IFW yang merupakan pameran dagang di bidang fesyen berbasis business to business (B2B) ini diselenggarakan oleh Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) dan PT. Kerabat Dyan Utama (Radyatama) yang bekerja sama dengan empat kementerian, yaitu Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, serta Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah.

5 Tantangan

Bukannya tak mungkin Indonesia mampu menjadi pusat mode busana muslim, karena Indonesia memiliki sumber daya yang kompeten, sampai bahan baku fashion yang unik dan beragam. Namun, diakui Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah Kementerian Perindustrian Euis Saedah, masih ada beberapa tantangan yang harus dihadapi untuk mewujudkan hal ini.

Pertama, masalahan bahan baku. “Sampai sekarang, masalah yang sering jadi kendala adalah bahan baku yang masih harus impor,” jelas Euis. Menurut dia, kain-kain yang biasa digunakan untuk industri fashion seperti kain katun dan sutera merupakan dua komoditas yang masih harus diimpor sampai saat ini. Salah satu cara yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi masalah ini adalah dengan mendirikan sebuah badan penyanggan kestabilan harga bahan baku fashion melalui BUMN.

Kedua, teknologi. Sekalipun Indonesia memiliki kekayaan budaya dan juga teknik pembuatan kain yang baik. Sebut saja batik tulis sampai kain tenun handmade, sayangnya hal ini menjadi salah satu kekurangan jika diproduksi massal. "Masyarakat masih banyak yang menggunakan alat tenun ATBM sehingga produksinya masih sangat terbatas dan proses produksinya lama," jelasnya.

Ketiga yaitu masalah Sumber Daya Manusia (SDM). Menurut dia, masalah sumber daya manusia ini bukan berarti tidak banyak orang yang berpotensi dan kreatif dalam dunia fashion. Namun, tantangan yang harus dihadapi adalah, masih banyak orang yang bergelut di fashion hanya sekedar hobi atau ikut-ikutan. Menyikapi hal ini, Euis dan beberapa asosiasi desainer mencoba untuk mengadakan pelatihan yang diselenggarakan oleh pemerintah untuk memajukan industri fashion.

Keempat, pemasaran. Sampai saat ini masih banyak IKM yang terhambat pemasaran produknya. Sekalipun produk yang mereka hasilkan bagus, namun tak ada gunanya jika pemasaran tak memadai. Upaya yang dilakukan pemerintah untuk membantu IKM adalah dengan membantu memasarkan berbagai produknya dengan mengikutsertakan mereka dalam pameran. "Setiap tahunnya, pemerintah memberi subsidi Rp. 1-2 M untuk membeli booth bagi IKM. Bahkan jika dinilai potensial dagang, maka pemerintah juga akan memberikan subsidi untuk ikut pameran di luar negeri," tukasnya.

Dan kelima yaitu modal. Ia menjelaskan salah satu masalah klasik yang dialami IKM di Indonesia adalah kurangnya modal yang dimiliki. IKM ini cenderung bingung untuk menjamin permodalan mereka karena bunga yang terlalu tinggi dari bank. "Bunga bank Indonesia memang yang paling tinggi se-Asia," kata Euis.