Menangkap Peluang Pasar Biosimilar

Phapros Optimalkan Laboratorium

Kamis, 30/10/2014

NERACA

Jakarta – Kalimat bijak yang mengatakan mencegah lebih baik daripada mengobati menjadi gambaran betapa pentingnya dan mahalnya sebuah kesehatan. Apalagi biaya pengobatan tiap tahunnya terus naik, sehingga dirasakan memberatkan bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan finansial. Namun bila sudah tertimpa musibah penyakit, kadang sebagian masyarakat kurang memperhatikan dan cermat memilah mana obat yang asli dan palsu.

Soal harga yang lebih murah menjadi senjata untuk mengelabui masyarakat agar terjebak konsumsi obat palsu, khususnya obat-obat kimiawi. Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Roy A. Sparringa mengatakan, peredaran obat, obat tradisional, dan kosmetik palsu ilegal sudah semakin marak dan transaksi melalui online telah menjadi tren. Maka guna menekan peredaran obat palsu, tidak hanya dituntut peran serta apoteker dan awarnes masyarakat, tetapi juga peran dari industri farmasi. Oleh karena itu, pemerintah lewat BPOM memperketat aturan dengan standar tinggi dan termasuk keamanan dan manfaat obat-obat kimiawi, baik yang asli maupun yang jiplakan, dengan mengawasi kualitas pembuatannya dan kualitas produknya dengan tolok ukur GMP (good manufacturing practice) dan BA/BE (bioavailability dan bioequivalence).

Pentingnya penerapan standarisasi dan kualitas menjadi perhatian penting bagi produsen obat PT Phapros Tbk sebagai perusahaan farmasi tertua di Indonesia. Apalagi Phapros termasuk satu dari lima perusahaan di Indonesia yang pertama kali mendapatkan sertifikasi cara pembuatan obat yang baik pada 1990. Standar kualitas bertaraf internasional juga terbukti dengan perolehan Sertifikat ISO 9001, Sertifikat ISO 14001, dan Sertifikasi OHSAS 18001.

Tidak hanya itu, perseroan menjadi pionir atau CoordinatorManufacturingOrganization(CMO) dalam mengembangkan jasa produk injeksi. Bahkan belum lama ini, Phapros kembali mengembangkan kompetensinya selaku CMO untuk jasa laboratorium kalibrasi. Ini sejalan dengan diperolehnya sertifikasi akreditasi ISO 17025 dari Komite Akreditasi Nasional (KAN) untuk laboratorium kalibrasi Phapros.“Selama ini Laboratorium Kalibrasi kita hanya untuk memenuhi kebutuhan internal. Dengan adanya ISO, kita bisa juga akan mengembangkan CMO untuk kalibrasi. Dan ini sebenarnya telah menjadi trend produsen obat di dunia, yang lebih dikenal istilahCoordinatorDevelopmentManufacturingOrganization(CDMO),”kata Direktur Utama PT Phapros Tbk, Drs Iswanto.

Kalibrasi merupakan hal esensial dalam prosesgood manufacturing practice. Pasalnya, melalui laboratorium kalibrasi tersebut, indikator dalam proses pembuatan obat harus ada kepastian yang tinggi, sehingga akurasi menjadi salah satu poin yang sangat krusial. Saat ini, Phapros bisa mengukur kalibrasi lima dimensi dan diharapkan dengan ISO, laboratorium kalibrasi tidak lagi khusus untuk internal, tapi juga buka untuk industri.

Komitmen Phapros menjadi perusahaan kelas dunia, tidak hanya bicara standar tinggi tetapi juga pengembangan diversifikasi produk. Rencananya, hingga lima tahun kedepan Phapros akan mengembangkan produk implant, biosimilar, hingga herbal. Phapros yang sudah 60 tahun menyehatkan Indonesia bakal mengembangkan pasar biosimilar dengan menggandeng perusahaan farmasi asal Korea. Besarnya potensi pasar biosimilar lantaran kebutuhannya yang terus meningkat seiring dengan pola penyakit di masyarakat modern mulai bergeser dari dominasi penyakit infeksi ke penyakit degeneratif.

Diakui Iswanto, pasar biosimilar di dunia telah mencapai 16% dari total market farmasi global. Produk-produk biosimilar telah menjadi tren di pasar kelas menengah ke atas seperti produk insulin dan anti kanker,”Rencananya, lima tahun lagi kita masuk ke produk biosimilar dan ini sudah jadi tren dunia,”ungkapnya.

Jadi Profit Center

Sejalan dengan pengabdian Phapros dalam melayani kebutuhan kesehatan masyarakat Indonesia, Iswanto menjelaskan bahwa perseroan berupaya untuk meningkatkan semua kapasitas dan kemampuan yang ada. Antara lain, dengan bertindak sebagai CMO, Phapros sebagai salah satu produsen obat terkemuka, mencoba untuk terus meningkatkan semuacostcentermenjadiprofitcenter.“Intinya untuk mendukung peningkatanqualitymanajemensystem. Sejauh ini beberapacostcenterkita, seperti untuk produk injeksi, kita tingkatkan menjadi profit center dengan memenuhi permintaan injeksi dari perusahaan di luar. Prospeknya bagus, antara lain untuk tahun ini, sudah kita hasilkan Rp34 miliar,” papar Iswanto.

Kendati demikian, dirinya belum mematok target khusus untuk pendapatan dari jasalaboratorium kalibrasi. Terutama untuk menyumbang pendapatan tahun ini. “Target tahun ini belum kita budgetkan. Tahun depan mungkin sudah ada pemasukan tetapi kita masih pada orientasi pasar,” kata Iswanto.

Hingga September 2014, pendapatan Phapros tumbuh 12% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Demikian juga dengan perolehan laba yang juga terkerek naik hingga 24% periode yang sama tahun lalu. Dijelaskan, peningkatan pendapatan terjadi oleh karena pertumbuhan yang tinggi dari permintaan obat generik dari rumah sakit yang melayani program BPJS Kesehatan.Kendati penjualan obat generic meningkat, namun pihaknya terlambat mengantisipasinya. Pasalnya, obat-obatan ethical yang biasa dipasarkan melalui rumah sakit mengalami penurunan.“Memang terjadi pergeseran portofolio produk. Ada kebijakan dari RS dalam melayani peserta BPSJ Kesehatan yang mendorong penggunaan obat generic. Jadi permintaan generik sangat besar, produk ethical-branded tertekan. Tetapi tahun depan sudah ada penyesuaian,”kata Iswanto.

Dia menambahkan, BPJS Kesehatan ke depan akan mejadi target pertumbuhan pasar, yang mana tahun ini saja Phapros memperkirakan akan mensuplay kebutuhan obat BPJS Kesehatan di kisaran Rp140 miliar – Rp150 miliar. Ke depan, pasti lebih besar permintaanya karena ada target wajib untuk menjadi peserta BPJS Kesehatan di 2019.“Nah pabrik baru kita yang akan kita bangun mulai awal tahun depan itu untuk menangkap peluang itu. Sementara untuk pabrik yang ada saat ini, kita lebih ke perluasan kapasitas kosong,” pungkas Iswanto. (bani)