Siapkah Industri Penerbangan Domestik Hadapi ASEAN Open Sky?

Oleh: Damayanti, Pemerhati Penerbangan

Kamis, 30/10/2014

Pasar penerbangan tunggal untuk ASEAN yang dikenal dengan proyek ASEAN Open Sky akan berlaku pada Desember 2015. Tentu, beragam tantangan dan peluang akan muncul bagi Indonesia, khususnya bagi industri penerbangan. Meskipun itu akan mampu meningkatkan industri transportasi udara di ASEAN yang berdampak positif terhadap sektor pariwisata dan lainnya, kesiapan industri penerbangan dalam negeri menjadi hal yang patut dipertanyakan.

Indonesia memiliki pasar penerbangan yang potensial. Dengan lebih dari 18.000 pulau yang tersebar, penerbangan merupakan akses yang lebih memungkinkan. Meski demikian, hingga kini pemanfaatan maskapai penerbangan di Tanah Air belum terasa maksimal. Infrastruktur yang kurang mendukung, harga tiket yang belum terjangkau oleh sejumlah lapisan masyarakat, tingkat keamanan yang belum memadai, masih menjadi kendala dalam industri penerbangan.

Peluang

Walau begitu, data Angkasa Pura II menunjukkan bahwa minat dan penggunaan transportasi udara tiap tahun meningkat. Antara tahun 2010 dan 2014, Indonesia diekspektasikan menjadi pasar dengan pertumbuhan penumpang internasional tertinggi keenam. Di tahun 2014, Indonesia akan berada di posisi pasar domestik terbesar kesembilan dan berada di peringkat 10 besar untuk kargo internasional. Kemajuan ini menunjukkan akan semakin banyak warga baik di dalam maupun di luar negeri yang memilih menggunakan pesawat daripada transportasi lain mengingat waktu tempuhnya yang lebih cepat dan lebih murah.

Hasil penelitian Mott MacDonald mengungkapkan bahwa ASEAN Open Sky akan menambah sekitar Rp.2,9 triliun ($2,7 miliar) terhadap produk domestik bruto (PDB) dan lapangan pekerjaan sekitar 16.000 pada 2025. Para maskapai penerbangan dan operator bandara akan mendapat manfaat dengan pemberlakuan integrasi ASEAN, membuat bisnisnya dapat bebas bergabung lintas batas dan meraup keuntungan dari peningkatan frekuensi penumpang dan pesawat.

Para pelaku industri penerbangan seharusnya jeli melihat peluang di pasar regional, terlebih lagi pasar domestik yang sangat potensial. Potensi penerbangan di Tanah Air sangat tinggi karena lokasi Indonesia berada di tengah Asia Tenggara. Untuk itu, Indonesia semestinya mampu mendulang banyak keuntungan dengan mempersiapkan industri penerbangan sebaik mungkin memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Tantangan

Beberapa pertanyaan yang harus dijawab antara lain: Mungkinkah industri penerbangan dalam negeri mampu bersaing dengan industri ASEAN lainnya? Sudahkah pemerintah menyiapkan infrastruktur untuk itu? Apakah pemerintah telah mewaspadai dampak isi perjanjian multilateral terhadap ekonomi domestik?

Persoalan terumit kemungkinan akan dihadapi oleh para maskapai penerbangan. Untuk dapat menyaingi maskapai penerbangan negara lain, sejumlah hal patut dipertimbangkan guna meningkatkan daya saing industri dalam negeri seperti peningkatan armada pesawat, kualitas pelayanan, daya saing harga serta keamanan penerbangan.

Citylink

Dari banyak maskapai penerbangan yang ada di Indonesia, hingga kini, Citylink tampil sebagai maskapai penerbangan yang berbiaya rendah dan masuk dalam peringkat ke-4 dari 10 maskapai penerbangan terbaik di Indonesia pada 2014. Citilink juga masuk dalam daftar maskapai berbiaya rendah pada 2012, dan pernah menjual tiketnya seharga Rp.55ribu. Ia juga satu dari maskapai penerbangan domestik yang diperbolehkan mendarat di Eropa. Di ASEAN, Indonesia dapat berbangga Citylink masuk dalam maskapai berbiaya kompetitif, bersaing dengan JetStar Singapura dan Air Asia Malaysia.

Perusahaan maskapai tersebut mendorong kemajuan industri penerbangan tidak hanya di Tanah Air tetapi juga di ASEAN, memungkinkan banyak kelas menengah ke bawah tidak merasa berat mengeluarkan ongkos untuk naik pesawat. Harapannya, Citylink mampu berkompetisi pada ASEAN Open Sky dan semakin banyak maskapai yang mengikuti jejaknya. Guna mendukungnya, banyak pihak harus terlibat, terutama pemerintah.

Hal utama yang krusial dilakukan mendorong pembangunan infrastruktur. Indonesia akan menghadapi MEA, tapi kualitas bandara udaranya sangat jauh di bawah negara-negara ASEAN. Kualitas infrastruktur pun bervariasi di seluruh provinsi, dan jasa penerbangan hingga kini masih terkonsentrasi di Indonesia bagian barat. Oleh karenanya, dibutuhkan sinergi antara pemerintah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti operator bandara, dan perusahaan swasta untuk mendorong percepatan pembangunan infrastruktur bandara udara, khususnya di Sumatera Utara Bandara Kualanmu, Jakarta Soekarno Hatta, dan bandara baru di wilayah Jabodetabek, Yogyakarta, Bali Utara, dan Banten.

Mendorong penambahan hub alternatif. Akibat terkonsentrasi di bagian barat, banyak penumpang penuh di Bandara Soekarno-Hatta.Indonesia memiliki sekitar 299 bandara komersial di seluruh nusantara tetapi setengah dari penumpangnya datang ke Tanah Air melewati Jakarta. Hingga kini beberapa provinsi yang potensial belum dijadikan sebagai hub alternatif. Dengan berlakunya MEA, keharusan untuk menambah hub alternatif untuk koneksi internasional semakin mendesak.

Penambahan sumber daya manusia (SDM) prima bagi sektor industri penerbangan patut diperhatikan. Untuk menambah armada pesawat, meningkatkan kualitas pelayanan, serta tingkat keamanan penerbangan, dibutuhkan banyak tenaga profesional. Indonesian National Air Carriers Association (INACA) menyebutkan, setiap tahun dibutuhkan 500 pilot, yang tersedia hanya 300. Hingga 2015, Indonesia diperkirakan akan kekurangan 2.400 pilot. Itu artinya, dibutuhkan banyak sekolah yang mampu menghasilkan tenaga penerbangan yang handal saat ini dan di masa mendatang.

Selain itu, Indonesia perlu memajukan kerjasama dengan negara-negara di luar ASEAN. Berdasarkan data INACA, rute penerbangan internasional intra-ASEAN mencapai 47,4 persen, sisanya di luar daripada regional tersebut. Indonesia yang memiliki posisi strategis urgen untuk mendorong kerjasama dengan berbagai negara-negara lain untuk merambah pasar yang lebih besar.

Pemerintah telah mulai membahas berbagai persoalan yang berkaitan dengan peraturan dan infrastruktur bandara. Kita berharap seluruh upaya yang dikerahkan untuk meningkatkan kualitas infrastruktur, membuka hub alternatif, mendukung kemajuan maskapai penerbangan, dan meningkatkan kerjasama dengan negara di luar ASEAN, dan berbagai upaya lainnya, memungkinkan industri penerbangan domestik siap menghadapi ASEAN Open Sky. (analisadaily.com)