Ketika Pasar Modal Mudah Diakses Pedalaman

Terobosan Dalam Infrastruktur

Rabu, 29/10/2014

NERACA

Jakarta – Ambisi PT Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk bisa meningkatkan jumlah investor pasar modal menjadi 2 juta atau setidaknya 1% dari total jumlah penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 240 juta jiwa, terus digalakan dengan melakukan sosialisasi dan edukasi. Saat ini jumlah investor di pasar modal baru sekitar 0,2% dari seluruh penduduk Indonesia. Maka untuk meningkatkan jumlah investor lokal, pihak BEI bersama lembaga SRO lainnya mengincar investor potensial dari kalangan mahasiswa atau akademisi. Apa yang dilakukan pihak BEI dimaksudkan untuk memperkuat basis investor lokal sebagai fondasi utama industri pasar modal.

Tentunya diharapkan, dengan fondasi yang kuat pasar modal dalam negeri tidak lagi mudah rapuh ketika derasnya dana asing yang keluar. Pasalnya, selama ini pasar modal mudah rapuh lantaran dominasi investor asing di pasar modal masih besar atau sekitar 60% kepemilikan sahamnya. Maka guna meningkatkan minat masyarakat berinvestasi di pasar modal, diperlukan pendekatan khusus dan termasuk optimalisasi pelayanan. Suka tidak suka, selama ini masyarakat awam masih menganggap investasi di pasar modal dinilai mahal dan termasuk aksesnya yang sulit.

Maka menjawab tantangan tersebut, BEI bersama lembaga SRO lainnya dituntut untuk melakukan perubahan dan termasuk kemudahan masyarakat mengakses pasar modal. Langkah inilah yang telah dilakukan PT Kustodian Sentral Efek Indonesi (KSEI) yang telah membangun dan mengembangkan infrastruktur pasar modal agar lebih mudah diakses dan termasuk pelayanan yang lebih optimal kepada investor, hingga ke pedalaman. Sehingga, stigma pasar modal hanya untuk masyarakat berduit dan orang-orang tinggal di kota besar bisa diluruskan.

Direktur Utama KSEI, Heri Sunaryadi mengatakan, pengembangan infrastruktur pasar modal sesuai dengan komitmen perseroan bahwa implementasi yang telah dilaksanakan harus terus dievaluasi dan perlu dilakukan pengembangan berikutnya untuk memenuhi permintaan pasar,“Untuk itu, kami juga berupaya melaksanakan pengembangan fungsi beberapa infrastruktur yang telah diimplementasikan," ujarnya.

Dirinya menyakini, pengembangan infrastruktur merupakan modal dasar yang sangat penting di setiap industri. Dengan semakin baik infrastruktur yang dibangun, semakin kokoh dan konsisten pula pertumbuhannya. Sejatinya, pengembangan infrastruktur juga dimaksudkan untuk memenuhi permintaan pasar yang terus bergerak dinamis. Pasalnya, survivel suatu industri bukan di lihat kuat atau cerdasnya, tetapi mampu beradaptasi terhadap perubahan. Maka atas dasar itulah, KSEI diminta untuk beradaptasi terhadap perkembangan pasar.

Sementara Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Muliaman D Hadad menegaskan, kesiapan infrastruktur pasar modal menjadi kunci sukses menghadapi pasar bebas MEA. Menurutnya, infrastruktur domestik menjadi salah satu dari tiga tantangan yang dihadapi pasar modal Indonesia jika berintregasi di ASEAN pada 2015,”Indonesia harus membangun infrastruktur pasar modal domestik yang kuat agar siap menghadapi persaingan yang ketat dengan negara lain,”ujarnya.

Menjadi Daya Saing

Menurut dia, tuntutan membangun infrastruktur yang kuat di bursa modal menjadi prioritas OJK karena investor menuntut kesiapan infrastruktur dalam menghadapi persaingan ketat dengan negara lain. Apalagi, kesiapan infrastruktur dapat memperkuat daya saing pasar modal. Dirinya menambahkan, pendalaman pasar dapat dicapai dengan meningkatkan sisi supply yaitu jumlah emiten dan produk, sisi demand dengan meningkatkan jumlah investor, pengembangan infrastruktur serta peraturan-peraturan pendukungnya. Saat ini ada tiga rencana kerja besar dalam rangka pengembangan infrastruktur pasar modal yang dilaksanakan KSEI pada tiga tahun mendatang dan saling berhubungan satu sama lain.

Rencana kerja besar ini dimaksudkan untuk mendukung program pendalaman pasar dengan menyediakan infrastruktur yang dapat memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi investor serta pelaku pasar. Rencana kerja pertama KSEI terkait dengan pengembangan proyek The Central Depository and Book Entry Settlement System Next Generation (C-BEST Next-G) dan termasuk kerjasama dengan vendor terpilih asal Amerika, Nasdaq OMX. Meski kapasitas C-BEST yang ada saat ini masih dapat memenuhi penyelesaian transaksi Efek di pasar modal, namun sistem ini dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan hingga 3 juta investor dengan kapasitas yang meningkat hingga lebih dari enam kali lipat.

Tak hanya dari sisi kapasitas, C-BEST Next-G juga akan ditambahkan beberapa fitur yang nantinya dapat mengakomodir message dengan format SWIFT ISO 20022 yang berlaku internasional. Hal ini akan memudahkan KSEI dalam melakukan Cross Border Settlement dengan negara lain kedepannya, serta diharapkan dapat meningkatkan peran KSEI selaku Central Securities Depository Indonesia di tingkat regional. Berdasarkan rencana, proyek pengembangan C-BEST Next-G ditargetkan telah tuntas pada Desember 2016.

Selain itu, KSEI juga mengembangkan sistem Pengelolaan Investasi Terpadu di Indonesia. Adanya kebutuhan sistem yang terpusat untuk penyederhanaan business flow di pasar Reksa Dana menjadi alasan utama dikembangkannya sistem tersebut. Tentunya diharapkan, diterapkannya Sistem Pengelolaan Investasi Terpadu dapat memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan Nilai Aktiva Bersih (NAB) Reksa Dana, meningkatkan porsi kepemilikan lokal di pasar modal Indonesia sekaligus meningkatkan likuiditas transaksi Efek yang menjadi portofolio Reksa Dana.

Fokus ketiga mencakup pengembangan AKSes (Acuan Kepemilikan Sekuritas) Financial Hub untuk memberikan kemudahan akses dan aktivitas investasi bagi investor hingga ke pelosok. Pengembangan ini didasarkan pada penerapan Single Investor Identification (SID) yang telah menjadi kewajiban bagi investor pasar modal Indonesia sejak tahun 2012. Tentunya, dengan pengembangan tersebut, pendalaman pasar bukan lagi sebuha mimpi, tetapi keniscayaan. (bani)