Sampah dan Teknologi Pertanian

Oleh: Gurgur Manurung, Alumnus Pascasarjana Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan IPB Bogor

Rabu, 29/10/2014

Sampah acapkali di definisikan sebagai produk sisa dalam bentuk padat akibat aktivitas manusia yang dianggap sudah tidak bermanfaat dan harus dikelola agar tidak membahayakan lingkungan. Padahal, sampah dalam bentuk apapun dapat dimanfaatkan asalkan kita memiliki inovasi. Sampah dalam bentuk limbah Bahan Berbahaya Beracun (B3) pun dapat bermanfaat bagi kehidupan. Bahkan, kini limbah B3 menjadi barang mahal. Harga limbah B3 kini menjadi barang dengan harga kompetitif. Limbah B3 dapat digunakan untuk bahan baku semen dan berbagai manfaat lain. Paradigma defenisi pemahaman kita soal sampah dan limbah B3 inilah yang sejatinya harus diubah.

Dalam tulisan ini, hal yang hendak dibahas adalah sampah rumah tangga untuk kebutuhan pertanian. Sampah rumah tangga dibagi dalam kategori organik, anorganik dan padat. Manajemen sehari-hari, biasanya disediakan tempat sampah organik, anorganik dan sampah padat. Di beberapa sekolah unggulan biasanya tiga tempat sampah ini disediakan. Konyolnya, dalam pengangkutan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) ketiga jenis sampah itu digabung kembali. Usaha pengelola sekolah dan komitmen anak-anak sekolah untuk memisahkan ketiga jenis sampah itu sia-sia saja.

Sampah secara umum bisa dimanfaatkan menjadi sumber energi listrik dan kompos. Saya tidak merekomendasikan sebagai energi listrik karena akan terjadi kontraproduktif. Bayangkan, kalau sumber energi listrik kita berasal dari sampah. Konsekuensinya adalah kita mengharapkan sampah banyak agar sumber energi listrik kita banyak. Jika ini terjadi maka inovasi kita dalam pemanfaatan sampah terpasung.

Sampah Untuk Pertanian

Dalam tulisan ini, saya tidak menyajikan data-data produk sampah di Kabupaten/kota di Indonesia. Sebab, sulit dipercaya data-data yang ada. Dari observasi yang dilakukan menunjukkan hampir di semua sudut kota sampah menjadi persoalan yang teramat serius. Sampah telah menjadi sumber penyakit, atau minimal sumber bau yang tidak dapat dihindari. Di hampir semua perumahan dan padat penduduk terjadi tumpukan sampah yang amat jorok. Dengan kata lain peradaban makin jauh.

Melihat fakta sampah di ibu kota Kabupaten/kota di berbagai daerah, maka teknologi yang cocok untuk provinsi Sumatera Utara adalah teknologi hidrotermal. Universitas riset terkemuka di Jepang - Tokyo Institute of Technology, memperkenalkan teknologi Hidrotermal yang dinamai dengan RRS (Resource Recycling System), dengan memanfaatkan tekanan dan uap suhu tinggi (30 atm, 200ºC) yang lebih ramah lingkungan, relatif murah, dan teknologi yang lebih sederhana sehingga kandungan lokal komponennya bisa mendekati 90%, artinya uang tidak perlu keluar ke negara lain.

Teknologi ini sesuai dengan kebutuhan pengolahan sampah di Indonesia yang umumnya terdiri dari 80% bahan organik dan campuran dengan plastik. Sampah campuran ini dapat menghasilkan bahan bakar padat yang bisa dicampur (co-firing) dengan batu bara yang bisa digunakan sebagai bahan bakar pada pabrik semen, pembangkit PLTU, dan keperluan rumah tangga. Karena punya nilai ekonomis, maka investasi yang ditanam dapat kembali dalam waktu yang tidak terlalu lama (Bayu Indrawan).

Hal yang menarik dari teknologi ini adalah produksinya dapat dijadikan pupuk. Bayangkan, jika sampah-sampah yang menjadi sumber penyakit dan sumber bau di perkotaan dijadikan pupuk oleh petani kita yang kekurangan pupuk. Petani kita kini hanya mengandalkan pupuk buatan yang harganya tidak terjangkau. Lagi pula, hal yang sangat dibutuhkan tanah-tanah pertanian yang telah lelah karena pupuk buatan adalah pupuk organik.

Sadar atau tidak nasib petani kita amat menderita karena kekurangan pupuk. Tentu saja penderitaan petani kita tidak hanya karena kekurangan pupuk. Pertanian mereka juga minim sentuhan teknologi. Mulai dari minim teknologi benih, kebutuhan air, pengelolaan, panen, pasca panen dan harga yang tidak pasti.

Petani di Sumatera Utara bisa jadi petani kaya jika pupuk tersedia, teknologi benih, sistem pengairan, sistem pengelolaan, teknologi panen, pasca panen dan harga yang relatif stabil. Faktanya, sampah di perkotaan menjadi sumber penyakit dan bau di satu sisi. Di sisi lain petani kita menderita karena kekurangan pupuk.

Meminjam istilah Presiden terpilih Jokowi, apakah niat atau tidak. Betapa mudahnya membuat petani kita sejahtera secara ekonomi. (analisadaily.com)