Komitmen Phapros Menuju World Class Company

Eksistensi Lewat Diversifikasi Produk

Selasa, 28/10/2014

NERACA

Jakarta – Indonesia termasuk satu diantara 17 negara “Pharmerging Market Country” yaitu negara-negara yang tingkat pertumbuhan pasar farmasinya mencapai 2 digit, dan menjadi motor penggerak utama pertumbuhan pasar farmasi dunia. Bahkan besarnya potensi pasar farmasi Indonesia yang diperkirakan mencapai 50% dari total pasar farmasi di Asia Tenggara membuat pengusaha asal China tertarik untuk berinvestasi di sektor ini. Potensi pasar tersebut dilirik oleh perusahaan asal China, Tianjin Pharmaceutical Group Co Ltd. Chairman of the Board Tianjin Lu Yan Chang pernah bilang, jika membuka bisnis di Indonesia dinilai mudah dan cepat berkembang, “Bisnis di Indonesia paling cepat. Kebijakan pemerintah Indonesia paling kondusif terutama dalam bidang farmasi," ujarnya.

Kondisi ini tentunya memberikan angin segar lantaran masuknya dana investor asing dan potensi membuka lapangan kerja baru. Namun disatu sisi, kondisi ini menjadi ancaman karena pasar farmasi dalam negeri bakal di jajah produk farmasi asing. Melihat hal tersebut, industri farmasi di Indonesia dituntut untuk bisa berkembang dan terlebih ekspansi mengusai pasar Asia seiring dengan diberlakukannya pasar bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada tahun 2015.

Maka menjawab tantangan tersebut, PT Phapros Tbk sebagai perusahaan farmasi milik pemerintah ini terus berbenah diri dan termasuk memenuhi standar internasional sebagai konsekuensi untuk mengembangkan pasar Asia dan Global. Direktur Utama Phapros Iswanto mengatakan, komitmen perseroan menjadi perusahan dunia terus dilakukan dengan peningkatan kapasitas produksi, serta penguatan stadarisasi produk dan laboratorium berbasis ISO,”Setelah melewati masa penuh tantangan di 2013 yang merupakan masa transisi menuju SJSN dan kondisi makroekonomi yang kurang menguntungkan, kami akan memperkuat langkah stabilisasi sehingga dapat menciptakan pertumbuhan yang positif tahun ini,” katanya.

Berbekal pengalaman dalam bisnis farmasi selama 60 tahun, menjadi keyakinan perseroan mampu menciptakan daya saing dengan industri farmasi negara tetangga. Bahkan, perseroan optimis produk yang dihasilkan mampu diterima pasar. Saat ini, perseroan telah berhasil melakukan ekspor produk farmasi perdana ke Kamboja. Sementara untuk meningkatkan pasar ekspor, perseroan akan masuk ke pasar Vietnam dan Afganistan. Disebutkan, negara Kamboja adalah negara pertama yang menjadi target eksport PT Phapros Tbk. Tahun ini nilai ekspor ke Kamboja diestimasikan mencapai US$ 101,245. Selain itu, Phapros bakal ekspansi ke negara Myanmar, Pakistan Bangladesh, Kenya, dan Nigeria.

Kata Iswanto, untuk pasar ekspor Vietnam, perseroan akan mengekspor obat-obatan dan suntikan. Sementara negara Afganistan ada beberapa obat-obatan serta multivitamin anak. Oleh karena itu, guna mengantisipasi permintaan pasar yang terus meningkat, perseroan juga memperluas pabrik guna meningkatkan kapasitas produksi. Rencananya perseroan akan bangun pabrik baru di Semarang di atas lahan 10 hektar. Pembangunan pabrik baru ini akan melengkapi 6 pabrik yang dimiliki perseroan.

Nantinya perusahaan akan menghasilkan 2 miliar tablet dari pabrik yang direncanakan selesai sampai 2018. "Kapasitasnya ada tablet 2 miliar, injeksi 300 juta, kapsul kecil sebanyak 50 juta, sirup 60 juta. Pembangunan bertahap sampai 2018 mulai beroperasi dan saat ini sudah tahap perizinan,”kata Direktur Keuangan Phapros, Budi Ruseno.

Pendanaan Lewat IPO

Untuk mendukung ekspansi pabrik baru tersebut, Phapros mematangkan niat mencari pembiayaan melalui pasar modal dengan mekanisme IPO. Ini sekaligus memberi kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal Phapros lebih dekat. Adapun dengan rencana melepas saham IPO sebesar 10-20% saham dari total modal disetor, Phapros berharap bisa meraup dana segar dari publik hingga Rp500 miliar. Dijelaskan, pembangunan pabrik baru ini merupakan komitmen perseroan untuk memperkuat fondasi dan stabilisasi di semua lini perseroan seperti perluasan pasar, penguatan standarisasi produk dan laboratorium berbasis ISO.

Budi menambahkan, adanya peningkatan kapasitas produksi yang tinggi dari pabrik baru lantaran perseoan menerapkan sistem teknologi tinggi untuk obat generik yang tinggi pula permintaanya, terutama melayani kebutuhan obat BPJS Kesehatan. Otomatis penerapan mesin berteknologi akan menekan biaya produksi,”Pabrik baru dominan produksi obat generik. Kita tekan biaya produksi dengan menerapkan sistem kerja mesin yang sudah komputerisasi dengan teknologi baru, sehingga lebih efisien karena man power-nya bisa berkurang hingga 300. Dengan efisensi, harga obat kita lebih kompetitif di pasar karena lebih murah," kata Budi.

Tidak hanya itu, perseroan juga mengembangkan diversifikasi produk. Dalam lima tahun ke depan, Phapros bakal mengembangkan produk implant, biosimilar, hingga herbal. Untuk produk agromed-herbal diperkirakan akan menjadi fokus utama perseroan di masa datang. Perseroan menilai, alasan masuk produk steam sel karena pasar masih besar dan produsennya masih minim, sementara di pasar global sudah sangat berkembang. Di Indonesia, setidkanya baru satu hingga dua perusahaan yang memproduksi steam sel, seperti Kalbe Farma dan Prodia.

Selain itu, Phapros, terus mengembangkan produk sendiri dengan dukungan riset multisenter yang terpadu, yang telah terbukti menjadikan Phapros pelopor di bidang fitofarmaka melalui kompetensi dan keunggulan komparatif obat-obatan alami yang dikembangkan di bawah naungan divisi agromed atau herbal. Maka dengan demikian, peran perseroan dalam menyehatkan Indonesia disamping bisnis, diharapkan mampu mampu memberikan kemandirian bidang farmasi. (bani)