Kredit Tumbuh, NPL Terpangkas

Kinerja BTN Menghijau

Selasa, 28/10/2014

NERACA

Jakarta - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk berhasilmemangkas rasio kredit bermasalah atau nonperforming loan (NPL) dengan meningkatkan kualitas kredit pada triwulan III 2014. Hal itu tercermin dari tren penurunan rasio kredit yang berpotensi macet ataunonperforming loan (NPL) di level 4,85% (gross) atau 3,63% (net).

“Berbagai upaya sudah dilakukan untuk memperbaiki NPL yang dikontribusi oleh perbaikan kualitas kredit konstruksi dan KPR tanpa melakukanwrite off (pemutihan laporan keuangan). Kami terus berkomitmen memangkas NPL dan menargetkannya di bawah 4% pada akhir tahun 2014,” kata Maryono, Direktur Utama BTN, saat paparan kinerja perseroan per 30 September 2014, di Jakarta, Senin(27/10).

Berbagai strategi yang dilakukan BTN untuk mencapai target tersebut, diantaranya, membentuk dua unit kerja khusus, yaitu Consumer Collection & Remedial Collection(CCRD) yang bertanggungjawab mengelola kualitas kredit consumer dengan umur tunggakan kurang dari 360 hari.

Kemudian, Asset Management Division (AMD) yang bertanggungjawab menangani kualitas kredit konsumer dengan umur tunggakan lebih dari 360 hari dan melakukan penjualan atau pelelangan kredit komersial yang sudah tidak dapat ditagih atau direstrukturisasi bagi debitur yang kooperatif.

Adapun kualitas aset kredit BTNtercatat cukup baik. Hal ini tercermin dariasset recovery BTN yang berhasil dilakukan oleh perseroan. Pada 30 Desember 2013, total outstanding kredit NPL tercatat sekitar Rp4 triliun. Tahun ini, perseroan mempunyai target dapat melakukan recovery sekitar Rp1 triliun.

DPK dan kredit di atas industri

Pada triwulan III 2014, asset recovery telah mencapai sebesar Rp831 miliar. “Akhir tahun ini kami optimis (asset recovery) akan sesuai target,” jelas Maryono. Tak hanya itu. Maryono juga menyebutkan, BTN mencatatkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) dan kredit perseroan berada di atas rata-rata pertumbuhan industri perbankan nasional.

Sepanjang sembilan bulan tahun ini, pengumpulan DPK industri perbankan nasional hanya tumbuh sebesar 11,63% sementara penyaluran kredit hanya sebesar 13,43%. “Secara umum industri perbankan masih mengalami sejumlah tekanan diantaranya oleh ketatnya likuiditas serta situasi politik pasca pemilihan presiden beberapa waktu lalu yang turut berdampak pada perlambatan ekonomi nasional. Kendati demikian, kami mampu tumbuh di atas rata-rata industri," terangnya.

Kredit dan pembiayaan BTN pada triwulan III 2014 tumbuh 14,50% menjadi Rp110,54 triliun. Pertumbuhan kredit tersebut bersumber dari penyaluran pembiayaan perumahan dan konstruksi. Komposisi kredit hingga triwulan ketiga ini sebesar 88,61% atau sebesar Rp97,944 triliun pada pembiayaan KPR (housing loan), sisanya 11,39% atau sebesar Rp 12,593 triliun disalurkan padanonhousing loan.

Dana Pihak Ketiga BTN tumbuh 15% atau sebesar Rp101,84 triliun di triwulan III 2014. Sementara perolehan DPK tahun sebelumnya pada periode yang sama sebesar Rp88,54 triliun. Peningkatan DPK dan penyaluran kredit tersebut, otomatis meningkatkan total aset perseroan sebesar 15,5% dari Rp123,32 triliun di triwulan III 2013 menjadi Rp142,43 triliun.

Sementara itu laba bersih BTN mencapai Rp755 miliar dengan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) di level 14,33% di atas ketentuan regulator. "Bank BTN berkomitmen untuk menjadi bank fokus dengan menyalurkan pembiayaan ke sektor perumahan termasuk pembiayaan perumahan non subsidi guna memperkuat posisi Bank BTN sebagaimarket leaderdi segmen KPR," papar Maryono.

Rasio kredit turun

Dia menambahkan, BTN berhasilmenurunkan rasio kredit berbanding simpanan atauloan to deposit ratio(LDR), dari 109,04% pada triwulan III 2013 menjadi 108,54% di triwulan III 2014. Keberhasilan menurunkan rasio kredit ini akan lebih terlihat jika dilihat dariloan to funding ratio(LFR), di mana turun menjadi 87,92% di triwulan III 2014 dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 89,5%.

“Ini karenacore businessBank BTN dalam pembiayaan perumahan juga memanfaatkan sumber dana jangka panjang lainnya,” tambahnya. LFR menjadi ukuran yang dapat dipertanggungjawabkan untuk mengetahui tingkat likuiditas BTN secara riil.

Dalam LFR turut memperhitungkan sumber pendanaan lain di luar DPK (tabungan, giro,dan deposito).Komposisi pendanaan yang tidak semata mengandalkan DPK, sesuai dengan karakter bisnis perseroan di segmen pembiayaan perumahan bertenor 15-25 tahun.

Maryono menegaskan, likuiditas perseroan tetap terjaga dengan baik. BTN memilikisecondary reserveyang cukup kuat, sepertiobligasi, pinjaman berjangka panjang dan surat berharga likuid lainnya. Pada triwulan III 2014secondary reserveperseroan tercatat sebesar Rp6,8 triliun. [kam]