Gaya Kepemimpinan Jokowi

Selasa, 28/10/2014

Presiden Joko Widodo (Jokowi) kini menciptakan tradisi baru pelantikan para menteri yang tergabung dalam Kabinet Kerja 2014-2019, yaitu dengan menggunakan baju batik. Bahkan sebelumnya saat pengumuman nama-nama menteri, Jokowi mengharuskan para pembantunya memakai baju dan celana putih di halaman Istana Negara, Jakarta. Tradisi ini baru pertama kali dalam sejarah pelantikan kabinet dari zaman Presiden Soeharto hingga SBY, yang umumnya menggunakan stelan jas rapi.

Tidaklah mengherankan dengan gaya kepemimpinan Jokowi yang khas itu. Tanpa menafikan kenyataan bahwa Kepala Negara saat ini tengah menjadi sosok media darling, serangkaian gaya Jokowi sejak awal masa kepemimpinannya di DKI Jakarta terkesan otentik, tidak di buat-buat. Sigap dan tanggap bertandang ke permukiman warga miskin yang terkena bencana kebakaran atau banjir dengan tanpa ekspresi canggung, yang menguatkan kesan otentik tersebut.

Lihat saja usai pengucapan sumpah di MPR beberapa waktu lalu, Presiden Jokowi bersama Wapres Jusuf Kalla (JK) langsung memulai tradisi baru, yaitu naik kereta kuda dari Bundaran HI hingga Istana Negara dengan diiringi ribuan warga Jakarta yang mengelu-elukan, bahkan berjabat tangan selama konvoi perjalanan bersejarah pemimpin baru di negeri ini.

Tak hanya itu. Jokowi tetap tampil dengan logat kental Jawa, tanpa usaha untuk mengubah. Kata,'' ... anu'' sering terlontar namun sungguh ''ajaib'' publik metropolitan terbesar di Indonesia itu terkesan menerima Jokowi apa adanya.

Menurut William George dalam buku Rediscovering the Secrets to Creating Lasting Value Leadership (2003), bahwa yang diperlukan zaman sekarang ini adalah pemimpin yang otentik. Model kepemimpinan ini adalah sosok berintegritas tinggi, memiliki komitmen untuk mengembangkan lembaga di mana dia berada. Pemimpin yang yang memiliki tekad kuat dan mendalam guna mewujudkan lembaganya berguna, bukan saja bagi segenap orang yang kena-mengena, melainkan juga bagi masyarakat yang lebih luas.

Salah satu karakter utama pemimpin otentik adalah mandiri dan swakarsa, menjadi sosok yang otonom dan penuh prakarsa. Untuk memiliki karakter utama ini, seseorang tentu harus berani menghadapi tantangan besar, harus mampu menenggang tekanan dari segala penjuru.

William menyebutkan, seorang pemimpin otentik harus siap mengalami ''kesepian seorang pelari jarak jauh'' (the loneliness of the long distance runner). Dengan seringnya pemimpin mengambil keputusan dan bertindak yang dianggap tak lazim maka dia harus siap kesepian. Kekukuhan sikap untuk berani berbeda dari mayoritas, demi tujuan baik yang diyakini, adalah syarat esensial seorang pemimpin otentik.

Tokoh selalu lahir dalam ruang dan saat yang tepat, tetapi tak semua orang yang hadir di ruang dan saat yang sama, menjadi tokoh. Hanya mereka yang mampu membaca situasi dan mengambil sikap tindakan yang menonjol akan menjadi tokoh. Stephen Covey dalam bukunya The 8th Habit menyebutkan, ''You will discover that such influence and leadership comes by choice, not from position or rank'', bahwa prakarsa adalah persoalan pilihan. Pilihan itulah yang disebut sebagai kepeloporan atau leadership.

Dalam kasus Jokowi tampaknya masyarakat telah merasakan otentitas kepemimpinannya. Semoga kepercayaan kepada Jokowi bukan hanya lahir dari kerinduan masyarakat yang sangat akut akan kehadiran pemimpin yang otentik di negeri ini. Ini tantangan terbesar Jokowi untuk membuktikan diri sebagai pemimpin yang otentik di tengah harapan masyarakat yang begitu besar. Adalah Kabinet Kerja 2014-2019 merupakan wujud nyata kepemimpinan Jokowi bersama JK.

Harapan yang begitu besar untuk pemecahan seabrek masalah pelik Indonesia, dapat berisiko menggelincirkan sosok Jokowi menjadi superhero, seperti superman atau spiderman, yang tidak boleh gagal dan salah. Padahal sesuai ungkapan rocker juga manusia, pastilah Jokowi juga manusia yang tidak pernah sempurna. Semoga dia dapat menyurusi alur perjalanan kepemimpinannya tanpa harus tergelincir akibat perilaku pembantunya.