BI Desak untuk Diprioritaskan

Pemangkasan BBM Subsidi

Selasa, 28/10/2014

NERA CA

Jakarta – Gubernur Bank Indonesia, Agus DW Martowardojo mendesak dilakukannyapemangkasan subsidi bahan bakar minyak oleh Menteri Ekonomi Kabinet Kerja Joko Widodo sebagai terobosan mengatasi defisit ganda atautwin defisit."Ada twin defisit, kalau yang terkait defisit fiskal yang pertama adalah subsidi, khususnya subsisdi BBM perlu dilakukan pengendalian dan pengelolaan yang dilakukan secara baik," katanya di Jakarta, Senin (27/10).

Kemudian, pemerintah, kata Agus Marto, harus lebih fokus pada penerimaan pajak. Pasalnya, selama ini penerimaan pajak pemerintah masih banyak yang belum diraih. "Kalau transaksi berjalan juga terkait yang paling utama adalah tekanan BBM dan yang utama adalah upayakan ada perbaikan neraca jasa dan pendapatan paling tidak setiap tahun memberikan tekanan US$3,7 miliar," ujarnya.

Agus Marto juga mendukung jika memang pemerintah baru menaikan BBM subsidi, mengingat postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2014 masuk dalam kategori sulit."Di tahun ini, APBN kita mengalami tekanan yang cukup besar, kalau nanti diputuskan (BBM naik) kita sambut baik," ungkapnya.

Sedangkan menurut Eko Listiyanto, Peneliti Institute for Development of Economics and Finance mengatakan, pemerintah baru akan dihadapkan situasi yang tidak telalu baik, terutama dalam konteks APBN Perubahan 2014 warisan pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Batas defisit anggaran di APBN-P 2014 adalah 2,4% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Namun, ada ancaman defisit anggaran bisa melebihi jumlah tersebut. Penyebabnya adalah subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang bisa melebihi pagi Rp246,5 triliun karena pelemahan nilai tukar rupiah. Sementara di sisi lain, penerimaan pajak diperkirakan tidak mencapai target, hanya 94%.

Mengatasi persoalan ini, mau tak mau pemerintah harus menaikkan harga BBM bersubsidi. Kenaikan harga akan menekan konsumsi sehingga subsidi bisa dihemat.“Cara menjaga defisit adalah dengan penghematan. Paling mungkin itu di pagu subsidi BBM dengan cara menaikkan harga,” pungkasnya. [agus]