Berlari Di Rel Kereta Api

Oleh: Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, Dosen UIN Malang

Selasa, 28/10/2014

Kiranya semua orang membayangkan bahwa, berlari itu selalu lebih cepat dibanding berjalan biasa. Akan tetapi pada kenyataannya, harus dilihat dulu, di mana orang yang sedang berlari itu. Jika ia berlari di tanah lapang, memang demikian, lebih cepat. Akan tetapi, umpama larinya itu di jalan raya yang sedang ramai, dan apalagi di rel kereta api, maka tidak selalu bisa lebih cepat dibanding berjalan kaki biasa.

Orang yang berlari di jalan raya yang sedang banyak kendaraan lewat maka harus berhati-hati. Jika tidak demikian, maka akan tertubruk oleh mobil, sepeda motor, gerobak atau lainnya. Demikian pula jika berlari itu di atas rel kereta api, bahwa selain licin, harus waspada ada kereta lewat, dan juga tidak akan bisa menyalip, maka siapapun pelari itu juara lari sekalipun, tidak akan bisa cepat. Mereka harus menghindar dari bahaya, agar selamat.

Berbeda dengan hal tersebut adalah berlari di tanah lapang, apalagi lapangan yang memang khusus disediakan untuk lomba lari. Siapapun akan bisa berlari lebih cepat. Sebab, di tanah lapang atau lapangan yang khusus untuk berlomba, maka para pelari tidak akan takut atau khawatir menabrak siapapun. Pelari di tanah lapang bisa bebas, dan atau leluasa melakukan apa.

Berlari di jalan raya dan atau di rel kereta api akan menjadi lebih sulit lagi dan mungkin juga akan lebih lambat jika dilakukan secara bersama-sama. Bayangkan saja, lari secara berkelompok atau gruop di rel kereta api akan sangat sulit. Jika tidak percaya, maka silahkan mencoba sendiri. Berlari bersama-sama di rel kereta api, akan lebih lambat dibanding berjalan sendiri-sendiri di jalan kampung.

Beberapa hari yang lalu, saya melihat gambar Pak Jokowi sedang berlari. Gambar itu sengaja ditampilkan untuk menunjukkan bahwa presiden yang baru saja dilantik itu akan mampu bekerja cepat seperti orang berlari. Gambaran itu kiranya cukup beralasan. Pak Jokowi dikenal sebagai pejabat yang suka blusukan, apalagi beliau ini berlatar belakang entrepreneur atau jelasnya sebagai saudagar. Sebagai seorang wirausahawan, semua pekerjaan bisa dilakukan secara cepat. Pedagang yang geraknya lambat akan kalah dengan para pesaingnya.

Namun yang perlu diingat bahwa, entrepreneur sekalipun, tatkala sudah berada di birokrasi pemerintahan akan mirip dengan pelari berkelompok di rel kereta api atau di jalan raya. Birokrasi pemerintah identik dengan jalan raya itu, banyak rambu-rambu lalu lintas, berbagai kendaraan lain yang lewat, dan jika tidak diperhatikan akan menubruk. Hal itu sama juga dengan berlari, apalagi berkelompok di rel kereta api yang licin. Selain khawatir jatuh, ada kereta api lewat, juga tidak bisa menyalip pelari lain, sehingga sekalipun berlari, maka masih juga akan lambat.

Mengibaratkan Pak Jokowi dan Pak Yusuf Kalla dengan orang berlari di jalan raya atau di atas rel kereta api, adalah untuk menggambarkan bahwa bekerja di birokrasi pemerintahan tidak akan bisa cepat, sebagaimana cara kerjanya para entrepreneur atau pedagang. Bekerja di birokrasi pemerintah harus berhadapan dengan peraturan yang sedemikian banyak. Siapapun tidak boleh melanggar. Jika berani keluar dari aturan itu, apalagi terkait dengan penggunaan anggaran, maka BPK dan apalagi KPK akan segera datang untuk meminta pertanggung-jawaban. Penyimpangan itu, sekalipun sebenarnya menguntungkan negara, tetap akan dianggap salah, dan akhirnya pelakunya akan diadili dan dihukum.

Oleh karena itu, kita harus sabar ketika presiden dan wakil presiden yang baru saja dilantik belum segera mengumumkan dan melantik para menterinya. Bekerja di birokrasi harus begitu. Semua prosedur dan segala macam peraturan harus dilalui. Mengubah struktur kabinet saja misalnya, harus meminta pertimbangan DPR, belum lagi juga pertimbangan dari para pihak-pihak lain yang harus dimintai persetujuan. Diumpamakan berlari kelompok, maka harus memperhatikan semua kelompoknya, agar tidak ada yang tertabrak atau tertinggal.

Mudah-mudahanlah ke depan, Pak Jokowi dan Pak Yusuf Kalla berkenan mengkombinasikan antara kultur birokrasi dengan kultur entrepreneur. Kebiasaan birokrasi tetap dijalankan tetapi juga masih memberi peluang untuk memaksimalkan keuntungan. Konsep itu mungkin tepat diberi nama entrepreneurbirokrasi. Jika pemerintahan ke depan, menggunakan konsep itu, maka kiranya kinerja birokrasi yang selalu lambat menjadi tidak keterlaluan. Kebijakan itu kiranya akan sesuai dengan watak dan kharakter wirausahawan, sebagaimana hal itu telah dimiliki oleh Pak Jokowi dan juga Pak Yusuf Kalla. Dengan begitu agar jalannya pemerintahan tidak seperti orang berlari di rel kereta api. Wallahu a'lam. (uin-malang.ac.id)