Investor Diminta Perhatikan Dua Faktor

Beli Saham Perdana Blue Bird

Selasa, 28/10/2014

NERACA

Jakarta – Meskipun PT Blue Bird tengah tersandung masalah hukum karena gugatan dengan mantan direksi yang juga masih saudara soal penggunaan nama brand taksi Blue Bird, tidak mempengaruhi pelaksanaan penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) perseroan.

Bahkan menurut kajian PT Daewoo Securities di Jakarta, Senin (27/10) mengungkapkan, IPO perusahaan jasa transportasi darat PT Blue Bird diperkirakan akan diminati investor Meski demikian ada sejumlah hal yang patut diperhatikan pelaku pasar. Diantaranya, di tengah kemacetan dan buruknya infrastruktur kota Jakarta naik taksi masih menjadi solusi.

Dalam kajian tersebut menyebutkan, Blue Bird merupakan operator taksi terbesar di Indonesia dengan pangsa pasar sekitar 33% yang beroperasi di 17 kota di Indonesia. Tak dapat dipungkiri, Blue Bird merupakan merek taksi yang sangat terkenal di Jakarta. Tingginya permintaan taksi Blue Bird telah mendorong soppir Bleu Bird mudah menemukan pelanggannya tanpa harus mengendarai ugal-ugalan di jalan untuk mencapai target setoran harian.

Kenyamanan tersebut menjadi alasan lain pengguna jasa taksi untuk tetap memilih Blue Bird dan mengesampingkan penawaran argo bawah (lebih murah) dari operator taksi lainnya. Namun demikian, tulis riset Daewoo, beberapa hal sebaiknya menjadi perhatian investor. Pertama, perpindahan pelanggan akibat perkembangan infrastruktur mass rapit transportation, meskipun diyakini tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Dimana paling tidak MRT tahap awal tahun 2018.

Kedua adalah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang berakibat kenaikan tarif taksi sehingga menekan tingkat pengguna taksi. Sesuai dengan jadwal, PT Blue Bird akan mencatatkan sahamnya (listing) pada tanggal 3 November 2014. Sebelumnya, perseroan menawarkan 531,4 juta lembar saham setara dengan 20% di kisaran harga Rp 7.200 – Rp 9.300 per saham dengan target perolehan dana Rp 4,94 triliun yang kemudian direvisi menjadi 376,5 juta lembar (14,2%) dengan harga Rp 6.500 per saham dan target peroleh dana Rp 2,4 triliun.

Penciutan (downsize) dan penurunan harga penawaran menunjukkan mahalnya valuasi perseroan sebelumnya.Disebutkan, total dana yang diraup dari IPO itu kemungkinan terbesar di pasar modal sepanjang 2014. Rencananya, penggunaan dana IPO sekitar 50% akan digunakan untuk membiayai belanja modal termasuk pembelian kendaraan dan akuisisi pool, sekitar 35,71% untuk melunasi pinjaman, dan sekitar 14,29% akan digunakan sebagai modal kerja perseroan dan entitas anak.

Untuk pembayaran utang, perseroan akan merestrukturisasi pemilikan pinjaman kepada BCA sebesar Rp 400 miliar. Lalu perseroan melunasi pinjaman kredit kepada Bank Permata, DBS, Bank Bukopin, Bank CIMB Niaga, Bank ANZ Indonesia, BCA, dan Bank OCBC NISP."Melalui IPO perseroan akan makin berkomitmen untuk mengembangkan bisnis dan memperkuat posisi kami di bidang jasa transportasi," kata Presiden Direktur PT Blue Bird Tbk, Purnomo Prawiro. (bani)