Menteri Ekonomi Baru Diminta Tingkatkan Daya Saing

Perbankan BUMN

Senin, 27/10/2014

NERACA

Jakarta -Menteri Keuangan dan Menteri BUMN Kabinet Joko Widodo - Jusuf Kalla diminta meningkatkan daya saing bank-bank BUMN agar bisa bersaing saat liberalisasi perbankan Asia Tenggara pada 2020 mendatang.Sekretaris Komite Ekonomi Nasional, Aviliani mengusulkan, salah satu upaya yang dapat dilakukan yakni pemerintah tidak menerima dividen dari bank-bank BUMN, sehingga perolehan laba bisa diakumulasi menjadi laba ditahan untuk memperbesar modal.

"Tahun 2017, dividen bank-bank BUMN harus dikumpulkan dahulu, tidak dibagikan ke pemegang saham," ujar Aviliani di Jakarta, Minggu (26/10). Dia justrumengkhawatirkan, jika tingkat pertumbuhan kredit lebih tinggi, bank-bank BUMN harus melakukan dua opsi untuk menambah modalnya, yakni menawarkan obligasi atau menambah saham (rights issue) yang bisa berdampak pada terdilusinya kepemilikan para pemegang saham, termasuk pemerintah selaku pemilik mayoritas jika tidak ikut serta.

Untuk itu, lanjut Aviliani, guna mempersiapkan diri menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), sebaiknya pemerintah mengubah struktur besaran deviden yang dibagikan (dividend pay out ratio), yang saat ini berjumlah 30% dari laba bersih. "Kalau perlu dividennya nol agar bank-bank BUMN dapat memiliki modal yang kuat. Paling tidak sekitar 5%-10%," katanya.

Menurut Aviliani, peningkatan daya saing mutlak dilakukan sesegera mengingat saat ini bank-bank BUMN menghadapi ketidakmampuan untuk memperbesar akses modal dan perluasan pasar.Jika hal ini tidak dilakukan pemerintahan Jokowi-JK, bank-bank BUMN akan sulit mempertahankan penguasaan pasar domestik ketika bank-bank asing dari kawasan ASEAN agresif masuk pada 2020.

Pemerintah juga dapat membentuk holding bank BUMN agar mereka dapat berbagi tugas, kemudian segera melakukan konsolidasi, dan memperkuat modal bank-bank BUMN.Meski saat ini rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) bank-bank BUMN masih tinggi, namun seiring dengan tingginya ekspansi kredit, bank-bank BUMN diprakirakan membutuhkan tambahan modal yang besar pada 2017.

Oleh karena itu, Periset Network of Market Investor (NMI) Franky Rivan menambahkan, masalah utama yang dihadapi bank-bank BUMN sekarang adalah ketidakmampuan untuk memperbesar akses permodalan dan perluasan pasar.Padahal, kedua elemen ini sangat penting dan dibutuhkan guna menghadapi persaingan dengan bank-bank asing yang agresif memperluas ekspansinya.

"Patut diingat, dalam menyambut MEA 2020, bank asing akan lebih bebas dalam berekspansi hingga pelosok Nusantara," ujar Franky.

Dia mengatakan, konsolidasi bank merupakan teknik tercepat guna meningkatkan daya saing bank-bank BUMN. Ia mencontohkan, langkah Malaysia yang sukses mengonsolidasikan perbankannya melalui mega merger CIMB Group - RHB Capital - Malaysia Building Society (MBS), sehingga membuat CIMB Group menjadi bank terbesar ketiga di Asean dengan total aset Rp2.300 triliun.

"Apabila kita sukses melakukan merger terhadap empat bank BUMN terbesar kita, total aset merger tersebut sekitar Rp1.820 triliun Apabila tidak dilaksanakan, maka jumlah asetnya akan kalah jauh sekali dengan bank-bank top di ASEAN. Ini jelas akan sangat mempengaruhi kemampuan bank dalam mengakses modal dan memperbesar market share," ujar Franky. [ardi]