PLN Memajukan Kelistrikan Indonesia

HLN ke-69

Senin, 27/10/2014

NERACA

Jakarta -PT PLN (Persero) bersama stakeholders kelistrikan memperingati Hari Listrik Nasional (HLN) ke – 69 yang jatuh tanggal 27 Oktober 2014 dengan mengusung tema “Bersama Memajukan Kelistrikan Indonesia”. Tema tersebut dirasa sangat tepat apabila meninjau dari sejarah, perkembangan, kondisi terkini hingga tantangan yang dihadapi oleh seluruh elemen bangsa Indonesia dalam menyediakan energi listrik. PLN bersama seluruh stakeholders kelistrikan memiliki tanggung jawab bersama untuk memajukan kelistrikan tanah air.

Sedikit menengok sejarah, pengelolaan ketenagalistrikan tidak terlepas dari sejarah bangsa Indonesia, yang dimulai sejak akhir abad ke-19, saat beberapa perusahaan Belanda yang mengelola pabrik gula dan teh mendirikan pembangkit listrik untuk keperluan sendiri.

Pengelolaan perusahaan itu diambil Jepang antara 1942-1945. Peralihan kekuasaan kembali terjadi di akhir Perang Dunia II pada Agustus 1945, saat Jepang menyerah kepada Sekutu. Kesempatan ini dimanfaatkan pemuda dan buruh listrik dan gas untuk mengambil alih perusahaan-perusahaan listrik dan gas yang dikuasai Jepang.

Setelah berhasil merebut perusahaan listik dan gas dari Jepang, melalui delegasi Buruh/Pegawai Listrik dan Gas bersama Pimpinan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) berinisiatif menghadap Presiden Soekarno untuk menyerahkan perusahaan-perusahaan tersebut kepada Pemerintah Republik Indonesia.

Presiden Soekarno membentuk Jawatan Listrik dan Gas di bawah Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga pada 27 Oktober 1945 untuk menampung perusahaan -perusahaan listrik tersebut.. Saat itu kapasitas pembangkit tenaga lisrik sebesar 157,5 Mega Watt (MW). Peristiwa nasinalisasi perusahaan -perusahaan listrik tersebut kemudian diperingati sbagai Hari Listrik Nasional.

Tantangan yang dihadapi sub sektor ketenagalistrikan diantaranya adalah menjaga kecukupan pasokan listrik untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan terus meningkatkan angka rasio elektrifikasi yang hingga saat ini sudah mencapai 81%. Dengan tantangan tiap tahun terdapat minimal 3 juta pelanggan baru yang harus disambung.

Fakta ini menuntut kesiapan penyediaan infrastruktur untuk mendukung pertumbuhan konsumsi listrik sebesar 8% – 9% per tahun atau setara dengan penambahan daya listrik sebesar 5.000 MW per tahun. Saat ini kapasitas terpasang pembangkit secara nasional telah mencapai 49.701 MW, dimana 37.464 MW dimiliki oleh PLN dan sisanya dimiliki oleh swasta san sewa

Selain itu, pembangunan infrastruktur kelistrikan harus sejajar dengan pengembangan produksi dalam negeri, sehingga industri dalam negeri perlu terus didorong. Dengan belanja modal sebesar Rp 60 triliun per tahun, PLN akan selalu menjaga prinsip “Bersih, Profesional, Beretika” dalam melaksanakan kerja sama dengan berbagai pihak. Hal ini untuk mengoptimalkan belanja modal tersebut agar dapat turut mendorong pertumbuhan ekonomi.

Dalam melaksanakan pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan, semua stakeholder diajak untuk mendukung upaya PLN agar semua masyarakat dapat menikmati listrik yang pada akhirnya dapat meningkatkan kemajuan perekonomian Indonesia.

Di usianya yang ke – 69 tahun PLN mendapatkan penghargaan istimewa, yaitu menjadi salah satu dari sedikit perusahaan di Indonesia yang masuk dalam Fortune Global 500. Berada dalam posisi ke 477 dari 500 perusahaan yang memiliki pendapatan terbesar di dunia, PLN terus memaksimalkan kinerjanya untuk terus memajukan kelistrikan di tanah air. [agus]