Pertumbuhan Ekonomi Diproyeksikan 5,1%

Senin, 27/10/2014

NERACA

Jakarta - Direktur Indef Enny Sri Hartatai memproyeksikan pertumbuhan Ekonomi kuartal III 2014 5,1%-5,3%. Perkiraan tersebut didasari oleh beberapa faktor seperti pemotongan anggaran belanja Kementerian dan Lembaga (K/L) yang dilakukan pemerintah.

Menurutnya, biasanya pada kuartal III dan IV yang memiliki peran signifikan adalah belanja K/L. Namun dengan pemotongan yang dilakukan pemerintah memberikan dampak pada pergerakan pertumbuhan ekonomi.

"Yang paling disoalkan itu pemotongan belanja K/L, biasanya kan kalau di kuartal III dan IV belanja pemerintah punya peran yang signifikan, tapi di 2014 ini dipotong jadi pengaruh ke pertumbuhan," katanya di Jakarta akhir pekan kemarin.

Dirinya juga menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi pada kuartal III ini tidak cukup optimistis. Baik terhadap investasi, perdagangan dan sektor impor ekspor.

Selain itu pihaknya mengatakan bahwa kenaikan harga Elpiji dan harga listrik membuat daya beli masyarakat menurun. hal itu juga berdampak pada pertumbuhan ekonomi di kuartal III.

"Kabarnya pertumbuhan ekonomi tidak optimistis, saya kira sampai kuartal III ini masih di bawah target atau sekitar 5,1 sampai 5,33 persen yoy," paparnya.

Pada kesempatan berbeda, Wakil Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro memproyeksikan angka pertumbuhan pada kuartal III-2014 naik tipis dibanding kuartal sebelumnya. Dia memperkirakan ekonomi akan tumbuh 5,1-5,2 persen. "Sumber utama pertumbuhan tetap pada konsumsi masyarakat, ditambah dengan laju ekspor dan investasi" ujar Bambang

Menurut dia, konsumsi pemerintah mulai tumbuh pada kuartal ketiga dan akan meningkat pada kuartal keempat. Namun ia tak menyebutkan proyeksi pertumbuhan hingga akhir tahun terkait dengan kemungkinan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi pada kuartal keempat. "Dampak positif kenaikan harga BBM baru akan dirasakan 2015." Ujarnya.

Sedangkan menurut Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo memprediksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga tak berbeda jauh dengan kuartal kedua. Ia mengatakan, Bank Indonesia melihat pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga ini 5,1-5,5 persen.

Ia mengatakan terdapat pelemahan dalam konsumsi rumah tangga pada kuartal ketiga. Namun konsumsi pemerintah dan investasi tetap meningkat. Selain itu, arus investasi juga dinilai membaik. "Secara umum, faktor yang paling berpengaruh adalah konsumsi," katanya.

Sebelumnya, seperti diketahui pemerintah menurunkan target pertumbuhan ekonomi dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2014 menjadi 6,4%-6,9% dari target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2014 sebesar 7,0% - 7,7% karena belum pulihnya ekonomi global.

Armida Salsiah Alisjahbana, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Era Presiden SBY, mengatakan belum pulihnya kondisi ekonomi dunia diperkirakan masih berdampak terhadap ekonomi dalam negeri. "Kita tidak lagi mengikuti asumsi makro yang sudah ditentukan dalam RPJMN 2014 yang pertumbuhannya ditargetkan minimal 7%," jelasm

Armida mengatakan sumber pertumbuhan ekonomi 2014 tidak hanya ditopang dari sisi internal, tetapi juga dari eksternal, yaitu ekspor. "Ekspor ini yang buat kita sulit mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi, ini kita exercise serealistis mungkin dan kemudian nanti dibahas di DPR," jelasnya.

Dalam RKP 2014, pemerintah menetapkan pagu indikatif belanja pemerintah sebesar Rp 1.567 triliun meningkat Rp 26 triliun dibandingkan RKP 2013 sebesar Rp 1.541 triliun. Dengan defisit anggaran sebesar 1,5% terhadap produk domestik bruto (PDB). Inflasi ditargetkan dikisaran 3,5%-5,5%. Pemerintah juga menargetkan tingkat kemiskinan turun menjadi 10% dan tingkat pengangguran minimal 6%.

Leo Putra Rinaldy, Ekonom PT Mandiri Sekuritas, memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2014 sebesar 6,6%. Pencapaian tersebut tergantung dari perkembangan ekonomi global dan dalam negeri tahun ini. Namun pertumbuhan ekonomi dapat tumbuh di atas 6,6% jika pemerintah bisa merealisasikan semua target pembangunan infrastruktur. Artinya, belanja modal 2014 bisa diserap 100% dan ini akan mendorong pertumbuhan lebih tinggi hingga mendekati 7%. [agus]