Inflasi Oktober Diproyeksikan Tinggi

NERACA

Jakarta - Gubernur Bank Indonesia Agus DW memproyeksikan, inflasi pada bulan Oktober akan lebih tinggi jika dibandingkan dengan rata-rata bulan Oktober lalu. Bank Indonesia memprediksikan karena dipengaruhi oleh aspek makanan olahan dan juga beberapa komoditas seperti cabai.

"Kita melihat di bulan Oktober bisa lebih tinggi dibanding rata-rata 5 tahun inflasi bulan Oktober, kita ingin perhatikan aspek volatile food dan kita khususnya yang klasik seperti cabai," katanya di Jakarta, pekan lalu.

Menurutnya, komoditas cabai harus mendapat perhatian. Karena cabai dibutuhkan di seluruh bagian Indonesia.

Sementara itu untuk komoditas lain, lanjut Agus, dalam arti volatile food malah menunjukkan perbaikan terjadi deflasi.

"Tetapi kita perkirakan inflasi di minggu kedua Oktober masih di kisaran 0,4 persen dibandingkan di 5 tahun terakhir dibanding 5 tahun terakhit yang ada di kisaran 0,16 persen," jelas Agus.

Dirinya juga menyebutkan inflasi sedang menunjukkan tekanan dari berbagai hal seperti kondisi panas. "Kondisi panas yang kita khawatirkan el nino, juga ada faktor ledakan gunung sinabung, itu semua berdampak," tuturnya.

Sebelumnya, Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati memprediksi secara akumulatif inflasi hingga akhir 2014 berada pada 5,5 persen jika tidak terjadi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

“Sampai akhir tahun, inflasi bisa di bawah enam persen kalau pemerintah tidak menaikkan harga BBM,” kata Enny.

Enny mengatakan, angka inflasi bisa berubah apabila pemerintah menaikkan harga BBM. Diperkirakan, dampak dari kenaikan harga BBM menyumbang satu hingga dua persen inflasi.

“Secara hitung-hitungan ekonomi, dampak langsung dan tidak langsung terhadap kenaikan harga BBM itu menjadikan inflasi tidak lebih dari tujuh persen. Tapi, tergantung antisipasi dari pemerintah,” ucapnya.

Menurut Enny, pemerintah perlu membuktikan bahwa kenaikan harga tersebut mampu menggenjot pembangunan infrastruktur, sehingga menarik financier untuk berinvestasi di Indonesia.

“Saat BBM naik, pemerintah perlu memiliki perencanaan yang konkret, yang bisa meyakinkan dunia usaha untuk mau berinvestasi. Jadi, konsumsi masyarakat yang turun akibat tingginya inflasi, bisa dikompensasi melalui investasi yang masuk untuk mendorong pertumbuhan ekonomi,” tuturnya.

Dengan demikian, lanjutnya, pemerintah dapat mengarahkan investasi tersebut kepada masyarakat kelas bawah melalui Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), yang akan terkena dampak langsung terhadap kenaikan harga BBM tersebut.

Artinya, lanjut Enny, dengan inflasi tujuh persen, investasi bisa naik dan justru menahan perlambatan pertumbuhan ekonomi ke angka 5,5 persen pada akhir 2014.

Enny menambahkan, dampak dari kenaikan BBM tersebut diprediksi akan berlangsung selama tiga bulan, mengingat mulai ada ekspektasi positif terhadap penghematan subsidi BBM.

“Kalau kenaikan tahun ini masih aman, asal tidak ada kegaduhan atau akrobat politik yang juga perlu dipertimbangkan. Apabila ini terjadi, maka hitung-hitungan ekonomi tersebut seringkali tidak berlaku,” tukasnya. [agus]

Related posts