SDM Muda Indonesia Minim Melek MEA

Senin, 27/10/2014

NERACA

Jakarta - Masyarakat Ekonomi ASEAN bakal diberlakukan beberapa bulan lagi . Saat MEA nanti, Indonesia akan menghadapi gempuran berbagai produk asing yang masuk ke Tanah Air.

Hal serupa turut dialami sembilan negara ASEAN lainnya. Untuk itu, jelang pasar bebas tersebut, sejumlah negara ASEAN tengah 'mempercantik' diri agar dapat bersaing dengan negara lain.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta Eddu Kuntadi, mengatakan minimnya sosialisasi akan pemberlakuan MEA masih minim. Sehingga Sumber Daya Manusia (SDM) terutama generasi muda minim pengetahuan tentang MEA. "Menurut saya salah satu kelemahannya adalah sosialisasi," ungkap Eddy di Jakarta, Jumat (24/10).

Padahal, lanjut Eddy, peran generasi muda merupakan kunci utama bangsa Indonesia agar tidak terlindas gempuran berbagai produk asing nanti.

"Sekarang kita ke mahasiswa deh coba, mereka tahu enggak MEA itu apa. Mereka yang akan menjalankan dan mungkin belum tahu," tegasnya.

Saat ini, tambah Eddy, Indonesia sudah tertinggal jauh di belakang Malaysia. Negara tetangga tersebut sudah membahas MEA di tingkat pendidikan.

"Mereka aware, mereka tahu persoalannya adalah daya siang. Pemerintah di satu sisi harus menyiapkan instrumennya," tandasnya.

Sedangkan menurut Wakil Presiden Bidang Manajemen Pengetahuan dan Pembangunan Berkelanjutan ADB Bindu Lohani, penguatan sumber daya manusia harus secepatnya diatasi oleh pemerintah baru terutama menyambut MEA 2015.

"Membangun sektor berbasis pengetahuan cukup krusial untuk melanjutkan tren pertumbuhan ekonomi yang tinggi, dan memperkuat posisi Indonesia di ASEAN selepas 2015," ujarnya.

ADB menyatakan, selain penguatan institusi pendidikan, prasyarat mengembangkan ekonomi berbasis pengetahuan adalah perbaikan infrastruktur, mengurangi hambatan bisnis, serta menggelontorkan lebih banyak dana untuk penelitian.

Semua isu tersebut, perlu diatasi Indonesia sekaligus, bersama masalah rendahnya pendidikan mayoritas buruh juga menjadi masalah akut yang membuat daya saing Tanah Air relatif rendah jelang diberlakukannya MEA 2015.

Menurut guru besar ekonomi UGM Prof Sri Adiningsih, daya saing sumber daya manusia (SDM) Indonesia masih kalah dibandingkan negara tetangganya. "Menurut data, 50% pekerja di Indonesia hanya lulusan Sekolah Dasar, 90% pekerja tidak pernah ikut pelatihan. Data dari Human Development Index (HDI) kita kalah dari Malaysia, Singapura bahkan dari Filipina. Sudah pasti pekerja pekerja asing ini akan membanjiri Indonesia," ujarnya

Lebih lanjut lagi Sri mengatakan, sektor ketenagakerjaan kita dari segi kemampuan dan bahasa kita sangat lemah, negara kita tidak mempersiapkan itu semua. Untuk itu, dari pada tidak ada perbaikan sama sekali, pemerintah harus memberikan pelatihan dan sertifikasi para pekerja di dalam negeri. "Pemerintah terlalu terlena, dari dahulu kita terus menerus mengirim TKI dan TKW keberbagai negara tanpa dibekali dengan kemampuan dan yang lebih aneh lagi pemerintah bangga dengan itu," papar Sri.

Menurut dia, pada 2015 nanti, ribuan tenaga kerja dari Filipina akan masuk dan menyerbu pasar kerja di tanah air. Khususnya untuk level tenaga kerja di kelas menengah, masuknya ribuan tenaga kerja asal Filipina ke Indonesia tentunya harus diwaspadai. Kondisi tersebut, sudah terjadi di Singapura dan Dubai.

Di kedua negara tersebut, tenaga kerja asal Filipina, telah mendominasi dunia kerja kelas menengah. Bahkan, mereka sudah banyak yang mulai bekerja di Australia. "Tenaga kerja asal Filipina itu bahasa Inggrisnya lebih bagus dari kita. Biaya upahnya pun relatif lebih murah," ujarnya.

Menurut Sri, tenaga kerja asal Filipina memang bisa menjadi ancaman bagi para tenaga kerja dalam negeri. Apalagi, selama ini mereka pun telah mengisi dunia kerja yang ada di mal-mal besar yang ada di dunia. Khususnya di Singapura, Dubai, dan Australia. "Kami berharap, masyarakat dan semua pihak dapat lebih bersiap menghadapi itu, sehingga nantinya tidak kalah bersaing," tukas Sri. [agus]