Menuai Untung Dari Sistem Informasi Terpadu

Bank Kustodian Dinilai Lebih Efisien

Senin, 27/10/2014

NERACA

Jakarta –Guna meningkatkan efisiensi dan daya saing, kini industri pasar modal mulai menerapkan Sistem Pengelolaan Informasi Terpadu untuk pasar reksa dana. Hal ini mendapatkan respon positif dari pelaku pasar yang dinilai lebih terintegrasi, efisiensi dan transparan.

Wakil Ketua Asosiasi Bank Kustodian Indonesia (ABKI) Supranoto Prajogo menilai, Sistem Pengelolaan Informasi Terpadu (SPIT) untuk pasar reksa dana sangat menguntungkan bank kustodian (BK). Dengan adanya SPIT, biaya operasional semakin efisien.

Sebagai gambaran, biaya pengiriman konfirmasi atas satu subscribe mencapai Rp 5.000 hingga Rp 8.000 melalui jasa kurir. Dengan adanya sistem elektronik, konfirmasi bisa dikirim lewat email,”Kalo bisa free akan lebih baik lagi, tapi kita sadar ada pembuatan sistem dan maintenance, saya harapsetelah ada SPIT biaya yang dibebankan tidak lebih mahal dari sekarang," katanya di Jakarta, kemarin.

Dari sisi input subscribe, BK tidak perlu menginput ulang secara manual. Setiap harinya, ada ratusan hingga puluhan ribu subscription yang harus diinput ulang secara manual oleh BK,”Dengan sistem elektronik banking, nasabah bisa input subscribe, kita tidak usah input ulang karena data Manager Investasi (MI) sudah ada di sistem," tambahnya.

Hingga 16 Septmenber, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat ada 822 reksa dana dengan 129 milliar unit penyertaan (UP) yang dikelola oleh 75 perusahaan MI. Dengan adanya SPIT, jumlah transaksi maupun subscriber pasar reksa dana diperkirakan dapat meningkat lebih dari 3 kali lipat.

Sebelumnya PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menggandeng Korea Security Deposito dalam mengembangkan SPIT yang ditargetkkan terealisasi pada 2016 mendatang. SPIT mengadopsi Fundnet, sistem serupa yang sukses mengembangkan pasar modal Korea Selatan dan mampu menghemat biaya hingga US$ 67 juta per tahunnya.

Selama priode triwulan III-2014, KSEI mencatatkan total nilai aset yang tercatat di C-BEST mengalami kenaikan 6,21% atau Rp184,06 triliun dibandingkan dengan periode triwulan II-2014 (Juni 2014) yang sebesar Rp2.965,28 triliun menjadi Rp3.149,34 triliun.

Salah satu penyebab kenaikan karena adanya peningkatan nilai aset pada jenis Efek saham sebesar Rp117,48 triliun di triwulan II ke Triwulan III. Disebutkan, peningkatan tersebut juga disebabkan adanya pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mengalami kenaikan sejak penutupan di akhir bulan Juni hingga September 2014 sebesar 259,00 poin atau 5,31%.

Total aset yang tercatat di KSEI tersebut didominasi oleh jenis Efek saham dengan total nilai sebesar Rp2.856,88 triliun atau sekitar 90% dari total nilai aset. Kepemilikan saham selama triwulan III-2014 masih didominasi oleh porsi investor asing sebesar 65% dari total kepemilikan saham. (bani)