Panduan Masyarakat Berinvestasi di Bisnis Properti - BTN Housing Index

NERACA

Jakarta - Adagium yang dipopulerkan pengamat properti Panangian Simanungkalit, "tanya pakarnya sebelum membeli properti" tampaknya bakal segera hilang lalu berganti dengan, "baca BTN Housing Index sebelum membeli rumah.” Adagium baru ini muncul menyusul langkah PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk meluncurkan Housing Index beberapa waktu lalu.

BTN Housing Index adalah kumpulan data yang berisi perkembangan harga rumah di seluruh Indonesia, dari provinsi sampai kabupaten, sehingga konsumen calon pembeli rumah, baik rumah untuk investasi maupun untuk digunakanbisa memantau harga real rumah. Dengan demikian konsumen calon pembeli rumah tidak membeli rumah di atas harga wajar.

Menurut Sasmaya Tuhulele, Kepala Divisi Strategy and Planning BTN, data harga yang berada dalam BTN Housing Index merupakan data harga yang terjadi saat transaksi. "Bukan harga di brosur developer," jelasnya di Jakarta, pekan lalu.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama BTN, Maryono mengungkapkan, Housing Index yang disusun BTN dapat menjadi pengontrol harga jual rumah, yang terkadang melonjak tinggi. Dengan demikian, ancaman bubble property dapatdiminimalisasi.

Dalam kesempatan tersebut, Maryono juga mengutarakan keinginan pemerintah dan segelintir pihak yang ingin Indonesia memiliki bank besar bisa direalisasikan dengan pembentukanholdingperbankan.

“Jadi kalau mau punya bank besar, bikin sajaholdingperbankan di mana di bawahnya ada BTN, BNI, Mandiri dan BRI. Jadi tidak perlu digabungkan. Dengan begitu maka kita akan punya BUMN bank yang besar,” tandas Maryono.

Dia pun menegaskan, jika holding perbankan tersebut direalisasikan maka Indonesia akan mempunyai perusahaan investasi sekelas Temasek milik Singapura atau Khazanah milik Malaysia. Bahkan, bukan tidak mungkinholdingperbankan tersebut akan membeli bank di luar negeri.

Chief Economist BTN, Agustinus Prasetyantoko mengaku setuju dengan pandangan Maryono. Menurut dia, untuk mempunyai bank besar tidak perlu melakukan penggabungan. Saat ini bank BUMN yang ada, telah mampu menjalani tugasnya dengan baik.

“Holdingperbankan saya kira merupakan pilihan terbaik. Tinggal menajamkan fokus bank yang ada di bawahnya,” tegas Prasetyantoko.Dia memaparkan, agar lebih fokus maka bank BUMN di bawahholdingtersebut harus diberikan tugas untuk menggarap sektor khusus sehingga tidak tumpang tindih.

BTN, imbuh Prasetyantoko, merupakan bank besar yang mampu fokus pada bisnis perumahan. Sementara BNI fokus pada sektor infrastruktur, BRI dikhususkan pada sektor UMKM, pertanian dan nelayan. Sedangkan Bank Mandiri difokuskan untuk menggarap korporasi.

Untuk memperkuat peran perbankan, sebenarnya Presiden Joko Widodo pernah mendorong melakukan penguatan terhadap Bank BUMD. Caranya dengan memberi suntikan modal sesuai kebutuhan. Saat menjadi Gubernur DKI Jakarta, Jokowi telah menyuntikan modal tambahan ke Bank DKI hingga Rp1,5 triliun.

Dampaknya aset bank milik Pemprov DKI Jakarta tersebut langsung melonjak puluhan kali lipat. Jika pola tersebut dilakukan Jokowi terhadap Bank BUMN, maka perbankan pemerintah bakal menjadi motor penggerak mengatasi backlog perumahan yang sudah mencapi 15 juta. [kam]

Related posts