BBM Naik Bakal Kerek Harga Saham

Respon Positif Pasar Modal

Senin, 27/10/2014

NERACA

Jakarta – Kebijakan pemerintah Jokowi dan Jusuf Kalla yang bakal menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi pada awal Novemver mendatang tengah di nanti para pelaku pasar. Dimana para pelaku pasar akan melihat dampaknya kebijakan tersebut dimasyarakat, apakah direspon positif atau sebaliknya direspon negatif.

Menurut analis HD Capital Yuganur Wijanarko, pelaku pasar saham di dalam negeri cenderung mengambil aksi ambil untung pada perdagangan saham akhir pekan kemarin seraya mengantisipasi penaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi,”Pelaku pasar sedang mengantisipasi kenaikan BBM di awal November dan sentimen lainnya di dalam negeri," katanya di Jakarta, kemarin.

Dia menambahkan bahwa tertekannya indeks BEI juga dikarenakan faktor teknikal, indeks BEI telah mengalami kenaikan dalam beberapa hari terakhir sehingga mendorong pelaku pasar untuk mengambil posisi ambil untung."Keadaan jenuh beli di IHSG meyebabkan aksi 'profit taking' harian,"ujarnya.

Namun demikian, pelaku pasar saham dapat memanfaatkan momentum pelemahan indeks BEI untuk kembali mengakumulasi saham karena naiknya harga BBM bersubsidi nantinya akan berdampak positif karena beban defisit APBN menjadi ringan.

Hal senada juga disampaikan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hada, kenaikan harga BBM akan memberikan efek positif bagi pelaku pasar lantaran beban defisit APBN bisa dikurangi. Bahkan Muliaman menegaskan, bila rencana Presiden Joko Widodo (Jokowi) menaikan harga BBM bersubsidi berhasil terealisasi, maka dapat menaikan harga saham perusahaan tercatat di pasar modal.

Dirinya menjelaskan alasannya, yaitu karena ruang fiskal yang dimiliki pemerintah dari kenaikan harga tersebut dapat mendorong pergerakan sektor produktif lebih positif dari sebelumnya."Kalau harga BBM subsidi jadi dinaikkan, negara bisa menghemat biaya. Sehingga biaya bisa dialokasikan ke yang produktif, subsidi sekarang hampir Rp 300 triliun. Kalau separuh bisa kita manfaatkan ke infrastruktur, itu dampaknya ke ekonomi lebih signifikan dan persepsi orang akan positif,”ungkapnya.

Percepatan sektor produktif itu, lanjut dia, yang dapat meningkatkan kinerja perusahaan tercatat yang pada akhirnya dapat meningkatkan harga saham. Namun demikian, tambah dia, tetap akan ada emiten di sektor tertentu yang akan menerima imbas negatif dari hal tersebut. Salah satunya adalah sektor retail yang sangat bergantung pada daya beli masyarakat. "Kalau daya beli masyarakat terganggu, ritel akan turun," tuturnya.

Di lain pihak, sektor konsumsi dipandang dapat bertahan terhadap dampak kenaikan harga BBM subsidi karena masyarakat tetap akan mengkonsumsi barang-barang kebutuhan dasar seperti sabun makanan walaupun daya beli menurun. Asal tahu saja, saat ini pasar tengah memperhatikan kebijakan pemerintah baru yang akan menaikan harga bahan BBM bersubsidi pada tanggal 31 Oktober 2014 mendatang.

Dengan begitu, harga baru BBM bersubsidi yang baru akan mulai berlaku pada 1 November 2014. Rencananya, pemerintah akan menaikkan harga BBM bersubsidi sebesar Rp3.000 per liter. Disebutkan, kenaikan ini akan menghemat anggaran Rp20 triliun. Bersamaan dengan kenaikan harga BBM bersubsidi, pemerintah akan memberikan bantuan ke masyarakat miskin. (bani)