Tingkatkan Program "Aku Cinta Produk Indonesia"

Hadapi MEA 2015

Senin, 27/10/2014

NERACA

Jakarta - Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015, daya saing produk Indonesia masih kalah jauh dibandingkan dengan negara-negara lainnya. Namun begitu, pemerintah mempunyai program "Aku Cinta Produk Indonesia" yang dapat diandalkan dalam menghadapi serbuan impor sambil meningkatkan daya saing nasional. Hal tersebut seperti diungkapkan Sekretaris Daerah Jawa Timur, Ahmad Sukardi, seperti dikutip Antara, akhir pekan kemarin.

Ia mengemukakan, untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015, salah satu strategi penting yang harus dilakukan adalah menumbuhkan kecintaan terhadap produk Indonesia. "Implikasi pemberlakuan MEA adalah semakin derasnya arus barang, jasa, dan investasi ke dalam pasar domestik, untuk menangkalnya maka kecintaan terhadap produk Indonesia harus kita tumbuhkan," kata Sukardi.

Dia mengatakan, masyarakat perlu ditumbuhkan kesadarannya bahwa dengan membeli produk lokal, mereka juga telah ikut membantu saudaranya yang sebangsa dan setanah air. "Dengan membeli produk UMKM kita, bisa dibayangkan berapa banyak saudara kita, pekerja Indonesia yang telah kita bantu, dari pada membeli produk impor yang keuntungannya lari ke negara lain," ujar dia.

Menurut dia, kebiasaan membeli barang impor hanya berdasarkan prestise sebaiknya tidak dipelihara. "Kita harus bangga mengenakan produk dalam negeri karena terbukti produk kita juga berkualitas," tambahnya.

Meskipun beberapa produk tertentu seperti kain tenun produksi lokal relatif lebih mahal dibandingkan produk kain pabrikan dari negara lain, menurut dia, hal ini wajar karena ada nilai seni dan keunikan dalam produk tersebut. "Kain tenun yang dibuat dengan tangan dengan kerumitan motif yang menggambarkan kekayaan budaya kita itu sangat unik, pembuatannya membutuhkan waktu lama, jadi wajar bila harganya relatif lebih mahal," katanya.

Menurut pandangan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X, gerakan Bela dan Beli produk Indonesia dan aku cinta produk Indonesia tidak akan sukses tanpa dukungan masyarakat. Karena itu, Sultan HB X meminta agar masyarakat mau mendukung gerakan ini.

Agar gerakan ini dikenal masyarakat, lanjut dia, maka perlu dilakukan sosialisasi kepada seluruh lapisan masyarakat. "Bisa saja ada kebijakan dari Pemda (pemerintah daerah) untuk menggunakan produk lokal. Namun permasalahannya, apakah kebijakan itu akan diikuti masyarakat? Perda belum tentu ampuh," kata Sultan HB X.

Dijelaskan Sultan HB X, semboyan Aku Cinta Produk Indonesia seharusnya dikampanyekan seluruh jajaran pemerintah secara berkesinambungan. Hal ini sebagai upaya menegakkan semangat penggunaan produk-produk dalam negeri di tengah jebakan globalisasi.

“Dengan menggunakan produk dalam negeri akan menjadikan aktivitas ekonomi terus mengalir, pergerakan ekonomi tetap stabil dan meningkatkan perkembangan ekonomi. Sehingga kondisi ini akan mengantarkan masyarakat Indonesia menjadi sejahtera dan sekaligus mengangkat harkat dan martabat bangsa,” tandasnya.

Lebih lanjut, Sultan HB X mengatakan saat ini kehadiran produk luar negeri lebih cepat dikenal dibandingkan dengan produk dalam negeri. Hal ini dikarenakan produk luar negeri memiliki system promosi yang konsisten, berkesinambungan, dan menyentuh semua lapisan.

“Saat ini, kehadiran produk luar negeri telah menggeser produk dalam negeri. Ironisnya, banyak masyarakat Indonesia cenderung memilih produk luar negeri dengan anggapan produk luar lebih berkualitas, up to date, inovatif dan menampilkan presitise,” jelasnya.

Karena itu, kata Sultan, pasca pencanangan ini perlu dilanjutkan dengan kegiatan yang mencerahkan masyarakat akan pentingnya menggunakan produk local. Di antaranya, melalui penyuluhan, menggelar pameran penggunaan produk local secara berkesinambungan. Selain itu, juga dilakukan survey dan studi keunggulan produk local, serta memfasilitasi dan menyebarkan informasi data produk local DIY oleh setiap instansi terkait.

Sudah banyak produk local DIY yang terkenal dan berkualitas, di antaranya, kaos Dagadu, Motor MAKA (Mega Andalan Kalasan), Cokro Telo, bakpia Pathok, salak pondoh Sleman, dan gula semut Kulonprogo. “Saya mengimbau kepada para wakil rakyat DIY, baik di DPR RI dan DPD RI, agar mengkritisi kebijakan pro system eknomi neo-liberalisme dan menggusahakan agar semangat ekonomi free trade diubah menjadi fair trade yang pro rakyat,” tandasnya.

Bagi bangsa Indonesia, kata Sultan HB X, kemandirian bangsa merupakan factor penting, sebab kemandirian tidak hanya mencakup kecukupan diri di bidang ekonomi, tetapi juga meliputi faktor manusianya yang mengandung unsure penemuan diri berdasarkan kepercayaan diri.

“Kemandirian adaah sikap yang mengutamakan kemampuan diri dalam mengatasi masalah demi mencapai tujuan nasional, tanpa menutup diri terhadap kerja sama yang bersifat mutual benefits,” katanya.