Ekspor CPO ke India Anjlok 26%

NERACA

Jakarta - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menyatakan, ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) asal Indonesia ke India turun 26% menjadi 3,3 juta ton pada periode Januari hingga September 2014 dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 4,5 juta ton akibat pemerintah India menaikkan tarif bea masuk impor minyak sawit.

“Penurunan ekspor ke India mendorong pelemahan total ekspor CPO asal Indonesia sebesar 1,75% menjadi 15 juta ton pada Januari hingga September 2014 secara tahunan. Dengan dibebaskannya bea keluar CPO, diperkirakan Oktober ini ekspor agak sedikit mengalami kenaikan dari bulan sebelumnya,” kata Direktur Eksekutif Gapki, Fadhil Hasan di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Pada Agustus hingga September tahun ini, menurut Fadhil, terjadi penurunan jumlah ekspor CPO jika dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya. “Penurunan ekspor tersebut disebabkan karena terjadi penurunan permintaan di negara-negara pengimpor,” paparnya.

Penurunan permintaan di India, lanjut Fadhil, disebabkan ada tambahan tarif bea masuk impor untuk produk turunan CPO, sehingga menyebabkan daya saing produk CPO Indonesia kurang kompetitif dibanding minyak nabati lainnya.

“Dengan kondisi tersebut, importir di India lebih memilih mengimpor minyak nabati lain seperti minyak kedelai. Seiring dengan itu, permintaan di China dan Eropa juga melemah karena pada umumnya perbedaan harga CPO dan harga minyak nabati lainnya mengecil,” ujarnya.

Fadhil menambahkan, kinerja ekspor CPO dan produk turunannya di semester II akan lebih tinggi dibanding semester I tahun ini. Pihaknya menargetkan kinerja ekspor CPO dan produk turunannya di semester II mencapai 11 juta ton. “Secara total, kinerja ekspor tahun ini sekitar 19 juta ton hingga 20 juta ton, masih lebih rendah dibanding tahun lalu sebesar 23 juta ton,” tuturnya.

Lebih jauh lagi, Fadhil mengatakan meradangnya pengapalan minyak sawit ke India diperparah oleh penerapan kebijakan kenaikan bea masuk (BM) CPO oleh pemerintah setempat, serta depresiasi nilai tukar rupee terhadap dolar AS yang memicu tingginya inflasi di negara tersebut.

Di China, ekspor CPO September hanya mampu tercatat 56.260 ton, turun 31% dari bulan sebelumnya. Secara agregat, ekspor CPO ke Negeri Panda tahun ini tercatat berjumlah 1,6 juta ton alias turun 10% dari periode Januari-September 2013.

“Permintaan China lesu karena, sama seperti India, mereka kesulitan memperoleh kredit bank. Selain itu, China ini juga mengeluarkan regulasi baru standar residu pestisida termasuk untuk minyak makan,” tutur Fadhil.

Tercatat, ekspor CPO ke Uni Eropa pada September juga turun 12% dari bulan sebelumnya menjadi hanya 302.000 ton. Penjualan ke Pakistan juga turun 7% menjadi hanya 181.000 ton. Ekspor ke AS justru meroket 86% menjadi 68.800 ton.

Untuk diketahui, harga rata-rata CPO di Rotterdam bulan lalu adalah sekitar US$680-US%730 per metrik ton. Harga rata-rata pada bulan itu adalah US$712/metrik ton, turun 5,4% dibandingkan harga rata-rata pada Agustus.

Sementara itu, harga harian CPO di pasar global terpantau terus tergerus sejak pekan pertama hingga pekan ketiga Oktober ke kisaran US$695-US$730 per metrik ton. Tekanan harga diperkirakan akan berlanjut hingga akhir bulan ini. “Melihat kondisi ini, kami memperkirakan harga CPO hingga akhir Oktober bakal cenderung bergerak moderat di kisaran harga US$700-US$730 per metrik ton,” imbuh Fadhil.

Kementerian Perdagangan menetapkan harga patokan ekspor (HPE) CPO Oktober pada level US$640 dengan besaran BK 0%, mengacu pada referensi harga rerata tertimbang di Rotterdam, Kuala Lumpur, dan Jakarta pada level US$710/metrik ton. Menurut Fadhil, tren harga CPO global kemungkinan akan terus bergerak di bawah US$750/metrik ton. Oleh sebab itu, dia memperkirakan besaran BK CPO untuk periode selanjutnya akan tetap menempati level 0%.

J.Joelianto, Direktur PT Sinar Mas Agro Resources and Technology (SMART) Tbk, memaparkan saat ini impor India masih sebagian besar dalam bentuk CPO karena industri disana menginginkan industri mereka tetap berjalan. Namun, tahun lalu Olein yang masuk cukup tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya akibat kebijakan BK CPO Indonesia yang kompetitif dibandingkan olein Malaysia.

Related posts