Adaro Energy Lunasi Obligasi US$ 800 Juta

Raih Pinjaman US$ 1 Miliar

Senin, 27/10/2014

NERACA

Jakarta – PT Adaro Energy Tbk (ADRO) melalui anak usahanya PT Adaro Indonesia telah melakukan pelunasan obligasi perseroan sebesar US$ 800 juta atau setara Rp 9,6 triliun pada 22 Oktober 2014 lalu. Disebutkan, dana pelunasan obligasi yang dilakukan perseroan sebagian berasal dari dana hasil pinjaman sebesar US$ 1 miliar atau setara Rp12 triliun (kurs Rp12.000) yang diperoleh dari perjanjian pemberian fasilitas pinjaman pada tanggal 25 Agustus 2014 lalu.

Head of Corporate Secretary & Investor Relation DivisionCameron Tough dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin mengatakan, adapun fasilitas pinjaman amortizing memiliki biaya rendah dibanding obligasi. Selain itu, lanjutnya, disamping dari hasil pinjaman untuk lunasi obligasi, perseroan juga mengalokasikan dari dana kas internal.

Menurut Cameron, pelunasan obligasi dengan menggunakan kombinasi antara fasilitas pinjaman dan kas internal ini akan memperpanjang tanggal jatuh tempo utang, menurunkan biaya pendanaan, dan mempertahankan struktur pemodalan yang kuat. Maka dengan dilunasinya obligasi tersebut, perseroan dapat menghemat beban bunga mencapai US$ 40 juta per tahun atau setara Rp 480 miliar.

Sementara Direktur danChief Financial OfficerAdaro David Tendian menuturkan, aktivitasrefinancingini sejalan dengan strategi perseroan untuk mempertahankan neraca yang kuat dan likuiditas yang fleksibel,”Di tengah kondisi harga batu bara yang sulit kami akan fokus untuk menjaga tingkat permodalan, efisiensi biaya, dan pengurangan jumlah utang. Kami tetap berada di jalur yang tepat untuk mencapai target tahun ini dan menjalankan strategi jangka panjang kami,"paparnya.

Tercatat sepanjang semester pertama tahun ini, PT Adaro Energy Tbk mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 31% menjadi US$ 172 juta dibanding periode yang sama tahun lalu senilai US$ 249 juta. Dijelaskan, turunnya laba bersih perseroan pada paruh pertama tahun ini lantaran keuntungan dari akuisisi Balangan dimasukkan dalam laporan keuangan semester I/2013.

Sementara pendapatan usaha perseroan naik tipis 7% menjadi US$ 1,69 miliar dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1,58 miliar didukung naiknya volume penjualan sebesar 13% menjadi 28,2 juta ton dari 25 juta ton, meski harga jual rata-rata turun 5% karena berada dalam tekanan.

Kendati laba bersih menurun, Presiden Direktur Adaro Garibaldi Thohir meyakini bahwa fundamental jangka panjang untuk batu bara tetap utuh dan ketika pasar menemukan titik keseimbangan, harga batu bara akan membaik dan akan memberi imbas positif bagi perusahaan,”Likuiditas yang kuat membuat kami lebih fleksibel menghadapi tekanan pasar saat ini. Strategi kami tidak berubah dan terus fokus memberikan pasokan kepada pelanggan kami, memperbaiki efisiensi dan memperkuat struktur permodalan," kata dia.

Adapun likuiditas Adaro tetap kuat dengan akses kas dan total fasilitas pinjaman jangka panjang yang belum digunakan sebsar US$ 1 miliar, sehingga Garibaldi optimistis, perusahaan mampu menghadapi siklus yang menurun. Struktur modal perusahaan meningkat dengan berkurangnya total utang berbunga sebesar 4% dan meningkatnya posisi kas sebesar 68% menjadi US$ 938 juta.

Tahun ini, perseroan menargetkan mampu memproduksi batu bara sebesar 54 juta ton sampai 56 juta ton. Pada kuartal pertama tahun ini, produksi batu bara perseroan sebanyak 13,84 juta ton. Menurut Corporate Secretary PT Adaro Energy Tbk, Devindra Ratzarwin, Adaro tetap mendapatkan permintaan yang solid untuk batubaranya selama kuartal ini dan dapat menjual 14,47 juta ton. (bani)