SUPM Ladong Kembangkan Udang Windu Terbaik Aceh

Senin, 27/10/2014

NERACA

Jakarta – Dalam rangka mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) kompeten di sektor kelautan dan perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), melalui Badan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan (BPSDM KP), menyelenggarakan kegiatan pendidikan bagi masyarakat di sektor kelautan dan perikanan, di samping kegiatan pelatihan dan penyuluhan. Hal ini terungkap dalam keterangan tertulis yang sampai di meja redaksi, Minggu (26/10).

Masih menurut siaran tersebut, pendidikan yang diselenggarakan menggunakan program vokasi dengan pendekatan teaching factory. Arah pendidikan vokasi pada satuan pendidikan KKP adalah pengembangan pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill) dan karakter (character building). Adapun pendekatan teaching factory menghadirkan dunia usaha dan dunia industri yang sesungguhnya di dalam kampus, dengan porsi 70% praktek dan 30% teori. Peserta didiknya 40% dari kapasitas, berasal dari anak pelaku utama kelautan dan perikanan, seperti nelayan, pembudidaya ikan, pengolah ikan, dan petambak garam. Sedangkan 40% lainnya berasal dari masyarakat umum, dan 20% mitra kerja sama.

Untuk mencapai keberhasilan pembelajaran, maka strategi pendidikan yang digunakan pada setiap satuan pendidikan adalah partisipatif, dinamis, fleksibel, dan inovatif. Partisipatif artinya penyelenggaraan pendidikan dilakukan dengan melibatkan stakeholder terkait. Dinamis mengandung makna bahwa pendidikan diselenggarakan dengan mengikuti perkembangan teknologi yang ada sehingga lulusannya tidak tertinggal. Sementara fleksibel artinya pendidikan dikembangkan dengan mempertimbangkan kekuatan sumberdaya alam dan kearifan lokal yang ada di lokasi kampus. Dan strategi yang terakhir adalah inovatif yang memberikan ruang kepada tenaga pendidikan maupun peserta didik untuk berinovasi dalam pengembangan ilmu dan teknologi.

Sebagai contoh, Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM) Negeri Ladong, Aceh, yang merupakan salah satu dari sembilan SUPM lingkup KKP, memiliki lokasi di pinggir pantai, sehingga sangat tepat untuk dikembangkan budidaya air payau, seperti tambak, dengan mempertimbangkan bahwa periaran Aceh itu memiliki sumberdaya udang windu (panaeus monodon) yang kualitas induknya terbaik di Indonesia. Maka, jenis udang ini pun menjadi perhatian untuk dikembangkan agar tidak mengalami kepunahan. Karena itu kegiatan pendidikan di sekolah ini menyelenggarakan kegiatan pembenihan dan pembesaran jenis udang ini, di samping juga jenis udang vanamae yang berkembang luas di Indonesia. Sekolah ini juga menyadari bahwa hutan mangrove yang salah satu fungsinya sebagai necessary ground bagi udang windu dan sebagian besar di pantai Aceh mengalami kerusakan karena tsunami. Karena itu kegiatan penanaman kembali hutan mangrove di pantai sekitar kampus juga telah dimulai dengan harapan masyarakat dapat mengikutinya.

Di samping itu, kearifan lokal lain yang juga ikut mewarnai pendidikan di SUPM Ladong adalah kearifan yang terkandung dalam Panglima Laôt (atau Panglima Laot). Panglima Laot merupakan suatu struktur adat di kalangan masyarakat nelayan di provinsi Aceh, yang bertugas memimpin persekutuan adat pengelola Hukôm Adat Laôt. Hukôm Adat Laôt dikembangkan berbasis syariah Islam dan mengatur tata cara penangkapan ikan di laut (meupayang), menetapkan waktu penangkapan ikan di laut, melaksanakan ketentuan-ketentuan adat dan mengelola upacara-upacara adat kenelayanan, menyelesaikan perselisihan antar nelayan serta menjadi penghubung antara nelayan dengan penguasa (dulu uleebalang, sekarang pemerintah daerah). Pengaturan waktu penangkapan ikan ini bertujuan untuk memberi kesempatan sumberdaya ikan dapat berkembang, tidak ditangkap secara terus-menerus.

Saat ini SUPM Negeri Ladong memiliki empat Program Keahlian, yaitu Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan (TPHP), Nautika Perikanan Laut (NPL), Teknika Perikanan Laut (TPL), dan Teknologi Budidaya Perikanan (TBP). Untuk mendukung kegiatan usaha penangkapan ikan, SUPM Ladong juga memberikan keterampilan kepada peserta didiknya dalam bidang pembuatan kapal fiber glass sebagai upaya untuk mengantisipasi semakin langkanya kayu yang digunakan sebagai bahan baku kapal selama ini.

Sampai saat ini lulusan SUPM Ladong telah terserap di dunia usaha dan dunia industri maupun di pemerintahan. Sebagai contoh, lulusan Tahun Pelajaran 2013/2014 yang diwisuda pada Juni lalu, telah bekerja di antaranya di PT. Global Rafa Marine Jakarta; PT. Intraco Agroindusty Kab. Deli Serdang; PT. Karya Fahmi Lamreng; PT. Charoen Pokphan Medan. Bahkan beberapa di antaranya menjalankan usaha tambak masyarakat yang ada di Desa Beurheut; tambak percontohan kepiting soa milik Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Aceh; atau berwirausaha di bidang perikanan.

Pengembangan SDM kelautan dan perikanan ini dirasa sangat penting karena mengelola sumberdaya alam pada hakekatnya adalah mengelola SDM-nya, terlebih lagi dalam rangka menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015, yang memungkinkan masuknya tenaga kerja antar negara. Hal ini disampaikan Kepala BPSDM KP, Suseno Sukoyono, pada kunjungan kerjanya, Jumat (24/10), di kampus SUPM Negeri Ladong.