Menjawab Kebutuhan Pasar Yang Dinamis

Kembangkan C-BEST Next-G

Jumat, 24/10/2014

NERACA

Jakarta – Efisiensi, kemudahan transaksi, transparansi, perlindungan hukum serta akurasi data investor menjadi kunci sukses untuk meningkatkan daya saing industri pasar modal menghadapi tantangan pasar bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA 2015) dan juga mengantisipasi lonjakan transaksi saham. Maka guna menjawab tantangan tersebut, industri pasar modal butuh infrastruktur yang siap melayani kebutuhan nasabah yang terus dinamis seiring dengan positifnya pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Bagaimanapun juga, kesiapan infrastruktur menjadi landasan untuk memacu industri pasar modal bisa memiliki daya saing, baik itu dari nilai kapitalisasi pasar saham, jumlah emiten dan termasuk jumlah nasabah,”Indonesia harus membangun infrastruktur pasar modal domestik yang kuat agar siap menghadapi persaingan yang ketat dengan negara lain,”kata Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D. Hadad.

Menurut Muliaman, tuntutan membangun infrastruktur yang kuat sesuatu hal yang tidak bisa ditunda lagi. Apalagi, investor menuntut kesiapan infrastruktur dalam menghadapi persaingan ketat dengan negara lain. Apalagi, pengembangan infrastruktur merupakan modal dasar yang sangat penting di setiap industri. Dengan semakin baik infrastruktur yang dibangun, semakin kokoh dan konsisten pula pertumbuhannya.

Menjawab kebutuhan investor dan tantangan kedepannya, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama lembaga SRO lainnya, agresif mengembangkan infrastruktur pasar modal. Langkah inilah yang dilakukan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai lembaga penyelesaian dan penyimpanan transaksi saham di pasar modal dengan menghadirkan pengembangan proyek Central Depository and Book Entry Settlement System (C-BEST) Next Generation (Next-G).

Kata Direktur Utama KSEI, Heri Sunaryadi, sebagai sistem utama KSEI, C-BEST merupakan plaftorm elektronik terpadu yang telah mendukung aktivitas penyelesaian transaksi Efek secara pemindahbukuan sejak tahun 2000, tepatnya pada saat implementasi perdagangan tanpa warkat (scripless) di pasar modal Indonesia, “Lebih dari empat belas tahun beroperasi, C-BEST memerlukan beberapa perubahan seiring dengan adanya perkembangan pasar modal serta kebutuhan pasar,”ujarnya.

Melalui kerjasama dengan Nasdaq yang lebih dahulu maju, diharapkan pengembangan C-BEST Next-G akan menghadirkan performa yang lebih tinggi dan lebih terintegrasi dengan aplikasi pendukung lainnya. Hal ini dilakukan guna mengantisipasi peningkatan nilai kapitalisasi pasar, jumlah investor dan volume transaksi di pasar modal Indonesia pada masa mendatang. "Sistem C-BEST yang ada saat ini dapat mengakomodir hingga 3.000 penyelesaian transaksi Efek per menit. Sedangkan C-BEST Next-G ditargetkan mampu menangani hingga 3 juta investor pasar modal Indonesia dengan kapasitas pemrosesan penyediaan transaksi yang ditingkatkan lebih dari 6 kali lipat kapasitas sebelumnya atau sekitar 20.000 penyelesaian transaksi per menit,”kata Heri Sunaryadi.

Berdasarkan data yang dimiliki KSEI, pada tahun 2013, total penyelesaian transaksi bursa melalui C-BEST sebesar 1,34 triliun unit dengan frekuensi mencapai 37,5 juta. Jumlah ini mengalami peningkatan dari tahun 2012, dengan jumlah penyelesaian transaksi sebesar 1,05 triliun unit dengan frekuensi sebesar 29,9 juta. Peningkatan jumlah ini diprediksi akan terus berlanjut setiap tahun.

Program C-BEST Next-G yang dikembangkan nantinya dapat mengakomodir message dengan format SWIFT ISO 20022 yang berlaku internasional. Hal ini akan memudahkan KSEI dalam melakukan Cross Border Settlement dengan negara lain kedepannya. "Ini juga menjadi upaya untuk mengantisipasi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tahun depan dimana persaingan pasar akan lebih ketat dan berada pada level internasional. Dari beberapa tahapan pengembangan yang harus dilakukan, sistem C-BEST Next-G ini ditargetkan dapat selesai diimplementasikan pada Desember 2016," tambahnya. (bani)