Agar Hidup Tidak "Besar Pasak Daripada Tiang"

Buka Mata Untuk Financial Plan

Jumat, 24/10/2014

NERACA

Jakarta – Siapa pun pasti punya mimpi, bahkan orang yang sukses harus mempunyai mimpi dan terlebih bagi mereka keluarga muda yang baru berumah tangga, banyak impian yang di inginkan, seperti memiliki rumah idaman, kendaraan pribadi, membiayai pendidikan anak hingga menyiapkan masa hari tua. Bagaimana mewujudkannya, tentu mimpi saja belumlah cukup dan diperlukan tindakan secara nyata, untuk itulah diperlukan sebuah pengungkit atau pendobrak dari mimpi.

Lalu bagaimana caranya, perencanaan keuangan adalah solusinya dan bukan hanya sekedar menambung saja. Pasalnya, menabung saja dengan menyisihkan dari penghasilan tidaklah cukup. Sejatinya, mengelola keuangan demi masa depan bukanlah sesuatu hal yang sangat rumit dan sulit untuk dilakukan. Namun ironisnya, kemampuan perencanaan keuangan masyarakat Indonesia ternyata masih minim. Hanya sebagian kecil saja yang mampu disiplin beranggaran.

Citi Indonesia menunjukkan hasil penelitiannya dalam Citi Fin Q bahwa hanya 32% masyarakat Indonesia yang mampu menetapkan anggaran dan memiliki disiplin untuk mengelola keuangan berdasarkan anggaran atau lebih singkatnya memiliki perencanaan keuangan yang baik. Selain itu, survei Citi juga mengungkapkan hanya sekira 44% masyarakat Indonesia mempunyai cadangan keuangan yang hanya cukup untuk tiga bulan ke depan dan hanya 26% masyarakat Indonesia memiliki perencanaan hari tua yang matang.

Kata Citi Country Officer for Indonesia, Shariq Mukhar, jumlah tersebut tentunya masih sangat minim. Padahal, disiplin anggaran dibutuhkan untuk menghindari terjadinya ‘besar pasak daripada tiang’, serta memastikan adanya keuangan yang cukup apabila sewaktu-waktu terdapat pengeluaran yang mendesak, “Dengan berdisiplin dalam menerapkan anggaran, masyarakat sebaiknya dapat memiliki tingkat keuangan yang memadai apabila mereka tertimpa situasi keuangan yang memburuk, misalnya di-PHK,”ujarnya.

Oleh karena itu, menggugah kesadaran masyarakat untuk lebih cerdas dalam mengelola keuangan sangat diperlukan guna mencapai masa depan sejahtera. Maka tak heran, edukasi dan sosialisasi perencanaan keuangan sejak dari dini penting dilakukan agar terbiasa disiplin keuangan dan bisa menikmati masa tua dengan bahagia, bukan merana. Diharapkan, dari perencanaan keuangan bisa dirasakan adanya “arah dan arti” keputusan finansial seseorang. Melalui pengelolaan keuangan, seseorang bisa mengerti bagaimana setiap keputusan keuangan yang dibuat berdampak ke area lain dari keseluruhan situasi keuangan dirinya.

Tentunya, dengan melihat setiap keputusan finansial sebagai bagian dari suatu keseluruhan, seseorang dapat mempertimbangkan efek jangka pendek dan jangka panjang atas tujuan-tujuan hidupnya. Tidak hanya itu, tujuan akhir dari perencanaan keuangan yaitu kebebasan finansial (financial freedom), yang dapat diartikan: bebas dari utang, tersedianya arus penghasilan dari investasi yang telah dilakukannya, serta terproteksi secara finansial dari risiko apa pun yang mungkin terjadi.

Namun, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa saat ini masyarakat hidup dalam era konsumerisme. Hampir semua jenis barang dan jasa menjadi sangat mudah didapatkan. Dengan makin maraknya tawaran pembelian barang secara mencicil, semua barang yang sebelumnya sulit untuk didapatkan, menjadi lebih mudah untuk didapatkan. Di satu sisi, kondisi ini tentunya memberikan manfaat dan kemudahan bagi masyarakat. Tetapi di sisi lain, jika tidak bijaksana menyikapinya, dapat terjebak menjadi orang yang lebih mengutamakan "keinginan" dan melupakan "kebutuhan" dasar yang seharusnya diprioritaskan.

Menjawab Tantangan

Menurut CEO and Chief Financial Planner ZAP Finance, Prita Ghozie, tantangan bagi masyarakat untuk memulai perencanaan keuangan adalah membiasakan hidup tidak konsumtif atau membangkitkan good money habit. Hal ini menjadi pondasi terpenting dalam mencapai kesejahteraan finansial,”Tanpa memiliki good money habit, hampir mustahil seseorang dan pasangannya dapat hidup nyaman tanpa beban di masa pensiun,”ungkapnya.

Dirinya menuturkan, unsur utama untuk menjalankan sebuah rencana keuangan adalah kemampuan dan komitmen untuk menabung dan berinvestasi. Kemampuan dan komitmen adalah dua unsur yang tidak bisa dipisahkan. Mampu, punya dananya, tapi tidak disiplin melakukan proses menabung dan investasi, bisa pastikan gaji hanya melayang untuk hal-hal yang tidak prioritas. Kemudian punya komitmen tetapi sumbernya tidak cukup, artinya hidup di luar batasan kemampuan,”Seseorang dapat dikatakan memiliki good money habit apabila mampu untuk membayar dirinya terlebih dahulu dibandingkan kepentingan lain,”ujarnya.

Diakuinya, karakter ini tidak dapat dimiliki dalam sekejap. Namun, harus dibangun perlahan demi perlahan sehingga akan lebih kokoh. Itulah sebabnya, penting sekali mengajarkan arti uang sedari dini untuk anak. Menjawab kebutuhan masyarakat untuk cerdas dalam mengelola keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama ersama Asosiasi Lembaga Jasa Keuangan dari seluruh industri keuangan meluncurkan Program Strategi Nasional Literasi Keuangan.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Muliaman D. Hadad mengatakan, dengan literasi keuangan diharapkan tingkat pemahaman masyarakat terhadap produk jasa keuangan semakin meningkat dan termasuk bijak menyikapi uang dan terampil dalam mengelola keuangan untuk masa depan yang lebih sejahtera. (bani)