Pelaku Pasar Modal Sudah Mengantisipasi

Lambat Umumkan Kabinet

Jumat, 24/10/2014

NERACA

Jakarta – Belum adanya kepastian pengumuman kabinet baru presiden Jokowi atau molor dari rencana di awal yang sejatinya bakal di umumkan sehari pasca pelantikan, kini mulai menuai keraguan investor pasar modal. Sehingga investor lebih memilih wait and see terhadap kondisi yang belum pasti tersebut.

Kata Asosiasi Analisis Efek Indonesia (AAEI), Haryajid Ramelan, meskipun terjadi tarik menarik dibalik molornya pengumuman kabinet baru Jokowi, dipastikan market tidak terdampak dengan hal tersebut. Pasalnya, pelaku pasar sudah mengantisipasi penundaan pengumuman peta susunan kabinet,”Penundaan pengumuman kabinet Jokowi, market sudah antisipasi itu," katanya Jakarta, Kamis (23/10).

Dia mengatakan, yang ditunggu dan akan berdampak terhadap pasar saat ini adalah lambatnya autopilot berjalannya pemerintahan ini. Sebab, susunan kabinet yang akan menjalani pemerintahan tak kunjung muncul."Pengumuman nama menteri Jokowi akan berdampak pada optimisme dan ekspektasi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Yang berdampak adalah lambatnya autopilot berjalannya pemerintahan ini," jelasnya.

Menurutnya, nama-nama menteri yang saat ini tengah muncul sebagai kandidat pembantu Jokowi di bidang ekonomi adalah nama-nama yang cukup kompeten. Kendatipun demikian, dirinya tidak menapik bila lambatnya pengumuman kabinet membuat keraguan sebagian investor sehingga lebih memilih wait and see,”Orang-orang masih akan melihat menteri-menteri baru atau pejabat-pejabat terkait dalam hal perekonomian di Indonesia. Diharapkan, pemerintahan Jokowi-JK nanti, dapat membuat pasar modal Tanah Air akan lebih baik lagi," ujarnya.

Sebelum Jokowi dilantik sebagai Presiden RI periode 2014-2019, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat melemah lantaran minimnya kepercayaan investor terhadap situasi politik di Indonesia.Dimana salah satu hal yang dikhwatirkan orang, ketika Jokowi akan dijegal pada pelantikan, tetapi kenyataannya tidak,”Kondisi ini sudah mencerminkan kedewasaan politik dan ini yang membuat optimisme pasar. Jadi tinggal mementain IHSG ke level 5.300,”tandasnya.

Sementara bagi analis First Asia Capital, David Sutyanto, ekspektasi pasar yang terlalu tinggi terhadap Presiden Joko Widodo (Jokowi) bisa menjadi boomerang. Alasannya, tingkat elektabilitas Jokowi yang tinggi menjadikan pasar menaruh harapan besar terjadinya perbaikan dalam perekonomian Indonesia,”Setelah Pilpres kemarin, optimisme pasar ke Jokowi sangat besar. Ini bisa menjadi boomerang ke depan,”ujar David.

Lebih lanjut dia mengatakan, meski Jokowi akan melakukan perbaikan terhadap perekonomian Indonesia, namun jika hal tersebut tidak sesuai dengan yang diharapkan, maka pelaku pasar akan kecewa."Kalau enggak sesuai ekpektasi, Jokowi nanti akan di cap jelek. walaupun Jokowi sudah berusaha untuk membuat kebijakan yang bagus," tuturnya.

Seperti diketahui, tingkat kepercayaan pelaku pasar yang besar terhadap Jokowi terlihat saat Mantan Gubernur DKI Jakarta ini menang dalam pemilihan umum dan kemudian IHSG meroket. (bani)