Pengusaha Roti Kesulitan Cari Bahan Baku Lokal

Dunia Usaha

Jumat, 24/10/2014

NERACA

Jakarta - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Bakery Indonesia Chris Hardijaypa menyatakan bahwa para pelaku usaha merasa kesulitan bahan baku lokal untuk mengembangkan bahan baku pembuatan kue dan roti. Pasalnya selama ini pelaku usaha lebih mengandalkan gandum yang lebih banyak diimpor. Padahal, kata Chris, bahan baku lokal seperti ubi dan labu mempunyai potensi yang besar sebagai bahan pencampur pembuatan roti. Pun, pemanfaatannya bisa mengurangi porsi impor gandum setiap tahunnya.

"Industri mau maju takut (kekurangan bahan baku), berbeda dengan singkong yang sudah massal," ujar Chris di Jakarta, Kamis (23/10).

Ia mengungkapkan, pasokan ubi belum berkelanjutan dan produksinya cenderung menurun. Hal tersebut disebabkan petani ubi belum tersosialisaikan dengan baik. Perhatian pemerintah pun dirasa kurang sehingga pengetahuan cara bercocok tanam yang baik dan efisien belum sepenuhnya dilakukan. Ditambah, pasokan bibit berproduktifitas tinggi belum memadai.

Alhasil, harga ubi masih relatif tinggi sehingga tidak ekonomis dalam perhitungan komponen biaya produksi. Saat ini harga ubi berkisar Rp6 ribu per kilogram sedangkan nilai yang ekonomis untuk kegiatan produksi sekitar Rp2 ribu per kilogram. "Ongkosnya juga tinggi karena harga jatuh bertangan-tangan," katanya.

Padahal, Chris menambahkan, ubi bisa manjadi bahan pencampur dalam pembuatan roti. Dengan begitu, bisa mengurangi ketergantungan impor gandum yang mencapai 6,2 juta ton di 2013. Manfaat lainnya, nilai nutrisi yang terkandung dalam produk roti bertambah dan tekstur roti lebih lembut. "Kalau dibudayakan bisa berdampak pada impor. Petani akan juga dapat dampak yang lebih baik, plus turunannya (produk ubi) semakin banyak. Saya harap pemerintah mempeloporinya," ucapnya.

Meski perhatian pemerintah masih dirasa minim, Chris akan membuat percontohan industri hulu ubi. Pada tahap awal dibidik dua wilayah di Pulau Jawa. Namun, dia belum bisa spesifik menyebutkan nama wilayah.

Menurutnya, biaya untuk membangun sebuah pabrik pengolahan ubi berkisar Rp15 miliar-Rp20 miliar dengan kapasita produksi yang ideal sebesar 2 ribu ton per bulan. Seiring hal tersebut, dia juga tengah berupaya meningkatkan produktivitas ubi dari 17 ton menjadi 30 ton per hari. "Tepung industri hulunya ada cuma belum efektif. Oleh karena itu, kita akan buat proyek percontohan antara Jawa dan Sumatera," tukasnya.

Terkait pengembangan teknologi, dia berharap pelaku industri bakery dalam negeri bisa mengambil manfaat dari gelaran bakery internasional IBA 2015 yang berlangsung di Munich, Jerman selama 12-17 September 2015. Pelaku usaha bisa memanfaatkan teknologi dan mempelajari proses pengolahan roti yang lebih efisien dari gelaran tersebut.

President of the German Baker's Confederation Peter Becker mengatakan, dalam beberapa dekade IBA menjadi pemimpin dalam gelaran perdagangan bakery, kopi, manisan, industri perhotelan, dan perdagangan makanan ritel. Gelaran IBA di antaranya menampilkan produk-produk teknologi produksi, teknologi pengemasan, produk dan jasa kebersihan dan higienitas, bahan baku, serta makanan ringan. "Di IBA, artisan baker atau industri berskala menengah dan kecil akan menemukan produk yang tepat untuk skala perusahaan mereka," ujar Peter.

Peter mengungkapkan, industri bakery di Jerman sendiri terus mengalami peningkatan. Saat ini konsumsi roti di Jerman 56 kilogram per orang. Terpaut di atas Italia yang sekitar 40 kilogram. Sementara Turki sudah mencapai 150 kilogram. "Jerman mempunyai kebiasan populer untuk sarapan di rumah, ini merubah konsumsi roti," katanya.

Kementerian Perdagangan yang menjabarkan bahwa impor bahan pangan tertinggi sepanjang 2013 adalah gandum, mencapai 6,3 juta ton senilai US$ 2,3 miliar. Australia jadi pemasok gandum terbesar buat Indonesia, mencapai 4,4 juta ton, disusul Kanada (930.600 ton), India (107.500 ton), dan Ukraina (30.500 ton).

Terobosan Baru

Ketua Komite Tetap Kebijakan Publik Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Utama Kajo menciptakan terobosan baru. Ia telah sukses menghasilkan gandum berkualitas tidak kalah dari produk impor. Varietas gandum itu bisa bertahan di iklim Indonesia karena sebelumnya dimutasi dengan sinar gamma, hasil teknologi Badan Tenaga Nuklir Indonesia (BATAN).

Kajo mengatakan bahwa kegiatan tersebut dilakukan dengan menerapkan kemitraan bersama petani di Malino, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. "Tiga minggu lalu saya berhasil panen gandum Indonesia. Itu tujuh hektar hasil menanam selama tiga bulan. Ini gandum hasil mutasi dan sudah disesuaikan dengan iklim Indonesia," ujarnya.

Kajo mengatakan, kendati sukses membuktikan bahwa Indonesia bisa menanam gandum sendiri, varietas hasil rekayasa nuklir itu belum mampu diproduksi massal. Tanpa sokongan pemerintah, perusahaan belum akan bersedia menyerap produksi gandum dalam negeri karena kebutuhan amat besar. "Dari penelitian kita, lahan yang laik untuk gandum di Indonesia itu sebanyak 3.000 hektar. produksinya baru 12 ton. Itu mesin PT Bogasari sekali putar dalam sehari ya cuma ngotor-ngotori gigi rodanya," kata Kajo.

Sementara itu, Pengamat dan ahli pangan Indonesia Bustanul Arifin mengatakan, tahun lalu Indonesia mengimpor gandum 7 juta ton. Angka tersebut bisa terus meningkat jika Indonesia tidak segera melakukan terobosan baru untuk menghasilkan gandum sendiri.

Bustanul menyatakan, sebenarnya ada beberapa wilayah di Indonesia yang cocok ditanami gandum, hanya saja butuh kesungguhan dalam menanamnya dan ada dukungan pemerintah. Wilayah-wilayah itu meliputi Padang, Cirebon, Solo, dan Malang.

Institut Teknologi Bandung (ITB) pernah melakukan studi di Cirebon, Padang, Solo, dan Malang yang bisa ditanami gandum. “Sama halnya bawang putih, gandum sebenarnya bisa cocok ditanam di Indonesia, tapi harus manipulasi seperti menggunakan gas rumah kaca jadi mengontrol suhu, air, dan udara tapi investasinya cukup tinggi. bisa kok kalau mau usaha,” kata Bustanul.

Dia mengatakan, secara kultur memang tidak banyak petani yang mau menanam gandum karena tidak mau ambil risiko. Menanam produk hortikultura lain yang lebih menguntungkan menjadi salah satu alasannya. Seperti halnya anggur, Indonesia bisa memproduksinya sendiri, namun secara kuantitas tidak mampu memenuhi kebutuhan permintaan konsumen. “Kalau anggur dan kiwi memang agak susah, tapi kalau bawang putih atau gandum bisa kalau diusahakan,” ujarnya.