Luas Perkebunan Teh Rakyat Semakin Berkurang

DPD Minta Pemerintah Berikan Perhatian

Jumat, 24/10/2014

NERACA

Jakarta - Ketua Umum Dewan Teh Indonesia Rachmat Badruddin mengungkapkan bahwa saat ini luas perkebunan teh yang dikelola oleh rakyat jumlahnya semakin berkurang. Pasalnya, perkebunan teh lebih banyak dikelola oleh BUMN dan pihak swasta sehingga porsi perkebunan teh rakyat semakin menurun. "Dalam sepuluh tahun terakhir, kebun teh rakyat yang dibabat mencapai 30 ribu hektare. Saat ini, lahan kebun teh yang ada di Pulau Jawa dan Sumatera tersisa 120 ribu hektar dengan produksi 130 ton per tahun," ungkapnya, di Jakarta, Kamis (23/10).

Atas dasar itu, Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Irman Gusman pun meminta agar pemerintah Jokowi - JK bisa memberikan perhatian yang kongkret melihat perkembangan industri teh rakyat yang terus melorot. Menurut dia, dukungan pemerintah terhadap perkembangan industri teh rakyat sangatlah minim. Padahal, Indonesia adalah negara penghasil teh terbesar ke-empat di dunia.

"Kita harapkan Pak Jokowi mendengarkan aspirasi ini. Pilihlah menteri pertanian yang tepat, sehingga bisa membuat kebijakan yang berpihak kepada petani, khususnya petani teh," kata Irman.

Namun begitu, pada kesempatan sebelumnya, Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi justru memproklamirkan bahwa Indonesia masuk dalam 10 besar negara di dunia yang mempunyai produksi terbesar di komoditas perkebunan. Komoditas tersebut antara lain teh, cokelat (kakao) dan kopi. "Indonesia ini menjadi top ten atas 3 produk yaitu teh peringkat 7 dunia, produksi kopi peringkat 5 dunia dan cokelat peringkat 3 dunia," ungkap Bayu.

Produksi teh kering Indonesia mencapai 150.000 ton per tahun. Sedangkan produksi biji kakao mencapai 800.000 ton/tahun. Untuk produksi kopi per tahun bisa mencapai 600.000 ton. Tetapi Bayu khawatir 2 dari 3 produk komoditas perkebunan yaitu teh dan kopi mengalami defisit dari sisi produksi maupun kualitasnya. Hal ini karena lahan untuk 2 komoditas perkebunan mengalami defisit dari tahun ke tahun.

"Di satu sisi ada pengurangan lahan khususnya untuk teh sebesar 10.000 hektar sampai 15.000 hektar. Ada juga perubahan sisi kualitas teh hal ini juga terjadi pada kopi. Namun cokelat agak lebih positif baik dari sisi kualitas dan produksinya," imbuhnya.

Menurut Bayu hal itu bukan tanpa sebab karena serbuan teh dan kopi impor dari negara lain banyak masuk ke Indonesia. Apalagi teh impor yang masuk ke Indonesia adalah teh dengan kualitas rendah.

Ia menyarankan agar para pelaku usaha kreatif membuat kemasan, lalu petani lebih giat lagi untuk meningkatkan produktivitas. Sehingga dengan kemasan menarik dan produksi yang tinggi maka ketiga produk komoditas perkebunan itu akan menjadi kebutuhan masyarakat yang berkelanjutan.

"Sekarang ini kami sedang menangani permintaan domestik yang tinggi termasuk permintaan global. Di Indonesia hampir semua komoditas meningkat signifikan. Itu tidak hanya berdasarkan angka tetapi juga mengenai kualitas. Teh, kopi dan cokelat telah menjadi lifestyle. Timbul pertanyaan bagaimana kita menyediakan produk, packaging dan meningkatkan produksinya," sebutnya.

Berdasarkan catatan dari Kementerian Pertanian, pada 2014 luas perkebunan teh nasional mencapai 122.206 hektar (ha), menghasilkan 145.575 ton teh kering. Sentra pengembangan teh di Indonesia berlokasi di Jawa Barat dengan luas areal 95.496 ha atau 77,62% dari luas areal teh nasional. Lokasinya tersebar di Kabupaten Bandung, Bandung Barat, Garut, Tasikmalaya, cianjur, Sukabumi, Bogor, Subang, Purwakarta, Sumedang, Ciamis, dan Majalengka. Total produksi teh Jawa Barat mencapai 109.314 ton/tahun.

Dari total luas perkebunan nasional itu, 56.258 ha (46,3%) merupakan perkebunan rakyat. Seluas 38.103 ha (31,18%) milik perkebunan besar negara dan seluas 27.845 ha (22,79%) di perkebunan besar swasta. Sementara itu, lanjut dia, ekspor teh Indonesia pada 2013 sebanyak 70,8 ribu ton yang senilai US$157,5 juta. Sedangkan impornya sendiri sebesar 20,5 ribu ton dengan nilai US$29,3 juta. Pemerintah pun telah mengalokasikan dana sebesar Rp50 miliar untuk melakukan perbaikan perkebunan teh seluas 3.200 ha serta pengembangan, peningkatan produksi, dan mutu teh nasional.

Alih Fungsi Lahan

Menurut Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian Gamal Nasir mengakui bahwa sebagian besar perkebunan teh oleh rakyat yang pengelolaannya belum memenuhi standar teknis. "Di samping itu juga sebagian besar perkebunan teh di Indonesia sudah berumur tua dengan populasinya masih di bawah standar," jelas Gamal.

Laju konversi tanaman teh ke komoditas lain dan alih fungsi lahan perkebunan teh menjadi kawasan wisata juga memberikan sumbangsih penurunan luas lahan. Total pengurangan luas kebun rakyat, kebun besar negara, dan kebun swasta rata-rata 3.000 ha/tahun.

Dirjen menambahkan, kegiatan peningkatan produktivitas, mutu teh rakyat, dan menjaga keberlanjutan teh nasional tidak bisa hanya dilakukan Kementan. Tapi perlu peran serta pelaku usaha, pemerintah daerah, lembaga pendidikan dan penelitian dan perusahaan. Karena itulah Kementan menggandeng Pemda Jawa Barat maupun Dewan Teh Indonesia (DTI) melakukan perbaikan, penerapan praktik budidaya teh yang baik (Good Agricultural Practices-GAP), sertifikasi perkebunan teh rakyat yang mengacu pada prinsip kelestarian dan penyebaran teknologi dari beberapa penelitian terkait peningkatan mutu hasil perkebunan teh di Indonesia.

Petani, tegas Gamal, juga akan mendapatkan bantuan melalui kegiatan rehabilitasi seperti benih, pupuk NPK, pupuk organik, herbisida agens pengendali hayati, dan alat pertanian. Untuk rehabilitasi butuh bibit sebanyak 7,5 juta setek. Sementara itu Pusat Penelitian Teh dan Kina, Gambung, Bandung, sebagai penyedia bebit tengah mempersiapkan bahan tanam unggul dengan klon GMB sebanyak 10,5 juta setek.