Penyaluran Kredit Tumbuh, Aset Bank DKI Rp37,5 Triliun

Kamis, 23/10/2014

NERACA

Papua - Bank DKI yang baru-baru ini mempertahankan Juara 1 Annual Report Award (ARA) 2013 kategori BUMD Listed tiga tahun berturut-turut, kembali mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan. Berdasarkan laporan keuangan Bank DKI periode September 2014, posisi aset Bank DKI per September 2014 mencapai Rp37,51 triliun, tumbuh 22,41% dibanding periode yang sama (year on year/yoy) tahun sebelumnya. Perolehan dana pihak ketiga (DPK) dan penyaluran kredit tercatat mengalami pertumbuhan masing-masing sebesar 15,30% dan 28,02%. "Per September ini, Bank DKI juga berhasil membukukan laba sebesar Rp665 miliar," ungkap Direktur Utama Bank DKI, Eko Budiwiyono, di sela-sela persiapan penarikan Undian Tabungan Simpeda Nasional, di Papua, Rabu (22/10).

Dia menjelaskan pertumbuhan kredit Bank DKI yang lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan kredit perbankan nasional, dikarenakan berbagai faktor diantaranya potensi captive market yang dimiliki Bank DKI masih belum digarap secara optimal. Selain itu beberapa proyek strategis untuk mendukung pembangunan atau pengembangan infrastruktur Bank DKI dinilai sangat layak untuk dibiayai Bank DKI. Permodalan Bank DKI yang semakin meningkat mendorong BMPK jadi terdongkrak sehingga plafon pembiayaan kepada debitur pilihan juga meningkat.

Ekspansi jaringan kantor yang cukup signifikan juga mendorong adanya potensi sumber-sumber pembiayaan yang baru. Pertumbuhan kredit ini juga dibarengi dengan membaiknya performa kredit yang ditandakan membaiknya rasio NPL Gross dan NPL Nett Bank DKI. NPL Gross membaik dari 2,79% per September 2013 menjadi 2,36% per September 2014, dan NPL Nett juga membaik dari 1,95% per September 2013 menjadi 1,32%. Rasio keuangan Bank DKI tetap terjaga dalam batas-batas yang memadai diantaranya ROA mencapai 2,77% per September 2013, dan ROE berada pada posisi 20,55%. Rasio BOPO tetap terjaga dikisaran 74%.

Eko pun mensyukuri pencapaian pertumbuhan kinerja Bank DKI ini berhasil dicapai ditengah-tengah adanya kecenderungan pengetatan likuiditas yang terjadi di sepanjang tahun ini. Khususnya pada perolehan Dana Pihak Ketiga yang tercatat sebesar Rp27,80 triliun per September 2014, tumbuh 15,30% dibanding perolehan Dana Pihak Ketiga pada September 2013 sebesar Rp 24,11 triliun. Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga tersebut didorong oleh pertumbuhan Tabungan dan Deposito yang tercatat masing-masing sebesar 13,57% dan 27,57%. Struktur Dana Pihak Ketiga Bank DKI didominasi oleh Deposito yang mencapai sebesar Rp15,83 triliun per September 2014 atau 56,93% dari keseluruhan DPK. Giro Bank DKI per September 2014 tercatat sebesar Rp7,73 triliun atau sebesar 27,81% dari total DPK dan Tabungan per September 2014 mencapai Rp4,2 triliun per September 2014 atau 15,26% dari keseluruhan DPK.

Kendati DPK Bank DKI mengalami peningkatan, Eko tetap mewaspadai potensi likuiditas yang diperkirakan akan tetap mengalami pengetatan. Khususnya pada Dana Pihak Ketiga yang bersumber dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dimana puncak realisasi pencairan APBD utamanya kepada kontraktor Pemprov DKI Jakarta akan terjadi pada akhir tahun. Bank DKI tetap menggenjot perolehan Dana Pihak Ketiga hingga akhir tahun, melalui sejumlah program kerjasama antara Bank DKI dan Dinas-Dinas Provinsi DKI Jakarta seperti pembayaran rumah susun, pembukaan rekening Pedagang Kaki Lima. Bank DKI juga akan menggenjot fee based income, melalui layanan Virtual Account Cash Management System. [kam]