Pemerintah Klaim Punya 19 Produk Unggulan

Di Pasar ASEAN

Kamis, 23/10/2014

NERACA

Jakarta – Pemerintah dalam hal ini Kementerian Perdagangan mengklaim bahwa Indonesia mempunyai 19 produk unggulan dan potensial ekspor ke ASEAN, sehingga penerapan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) seharusnya tidak perlu dikhawatirkan. “MEA harus disikapi dengan semangat karena Indonesia juga punya keunggulan-keunggulan seperti adanya 19 produk unggulan dan potensial ekspor ke ASEAN,” kata Direktur Kerja Sama Bilateral Direktorat Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Syamsul Bahri Siregar, Selasa (21/10).

Dia mengatakan hal itu pada acara Sosialisasi MEA yang dihadiri berbagai kalangan. Sebanyak 19 produk unggulan tersebut, kata dia, terdiri atas sembilan yang unggul, dan 10 produk potensial. Sembilan produk unggulan ekspor itu adalah tekstil dan produk tekstil, elektronik, karet, produk hutan, alas kaki, otomotif, udang, coklat/kakao dan kopi.

Sedangkan 10 produk potensil ekspor ke ASEAN tersebut adalah kulit dan produk kulit, peralatan dan instrumen medis, rempah-rempah, makanan olahan, essential oil, ikan dan produk ikan, produk kerajinan, perhiasan, bambu dan peralatan tulis selain kertas. “Adanya MEA diyakini akan semakin menambah nilai pada produk unggulan/potensial Indonesia itu antara lain.pasar produk ekspor tersebut bisa semakin diperkuat khusus ke negara ASEAN,” katanya.

Produk unggulan dan potensial ekspor itu juga bisa menarik investor ke Indonesia. "Memang disadari untuk memenangkan persaingan perlu menjaga atau meningaktkan daya saing, tetapi Pemerintah yakin pengusaha akan mampu," katanya.

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesian Ivan Iskandar Batubara menyebutkan pengusaha mau tidak mau harus siap menghadapi MEA pada 2015. Namun, dia berharap agar pemerintah dewasa ini dan seterusnya mempersiapkan dan meningkatkan infrastruktur yang dinilai akan menjadi hambatan pengusaha dalam bersaing di pasar MEA. Infrastruktur yang tidak memadai seperti krisis gas dan listrik serta ruas jalan yang rusak membuat biaya produksi produk semakin mahal. "Kalau harga produksi mahal, tentumya akan ssulit bersaing," katanya.

Ketua Tim Pelaksana Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia yang juga pengusaha, Ilham Habibie, mengatakan, Indonesia membutuhkan produk unggulan untuk menang dalam persaingan di Masyarakat Ekonomi ASEAN. “Kita di Indonesia itu kurang local champion. Padahal itu harus diciptakan. Seperti contoh Jepang yang punya Toyota atau Korea Selatan yang kini merajai dunia dengan produk teknologi informasi dan telekomunikasinya,” kata Ilham.

Dalam penciptaan local champion tersebut, ia mengatakan diperlukan sistem pendukung yang tidak mungkin dibuat oleh swasta dan itu mutlak harus ada, seperti standarisasi dan sebagainya, disiapkan oleh pemerintah. Regulasi, lanjutnya, menjadi penting terkait standar dalam pengembangan suatu produk, dan itu sudah harus ada saat produk dikembangkan. Itu yang menjadi regulasi pembeda untuk riset pengembangan suatu produk yang akan dilepas ke pasar.

Ilham pun mengatakan pengembangan produk dari ide yang layak hingga sampai menjadi prototipe dan dipasarkan melalui proses inkubasi. Dalam fase-fase tersebut, hal yang paling penting bukan dana tetapi pembinaan. “Contoh di Amerika Serikat, sukses menerapkan fase pertama dengan memberi pembinaan oleh entrepreneur sendiri. Biasanya akademisi yang memberi pembinaan di sini (Indonesia), dan hasilnya beda sekali karena mereka tidak paham soal risiko di lapangan seperti keterlambatan, perubahan makro ekonomi, dan peraturan yang sering berubah-ubah,” ujar Ilham.

Dalam mempersiapkan Indonesia dalam menghadapi perdagangan bebas di ASEAN, pemerintah melalui Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) memang fokus pada infrastruktur. Menurut dia, rencana yang dikembangkan bagus tetapi kurang implementasi. “Dari semua infrastruktur yang hendak dibuat itu baik, dan implementasi menjadi kunci. Semua ada di pemerintah harusnya, bukan swasta, pemerintah tidak bisa lari dari pertanggungjawaban membangun infrastruktur,” ujar dia.

Kepala Badan Standarisasi Nasional Bambang Prasetya mengaku optimistis bahwa produk-produk yang telah memenuhi standar sesuai lembaga terakreditasi akan mampu bersaing di pasar bebas ASEAN (MEA) mulai tahun 2015. “Sangat optimistis karena produk-produk unggulan itu banyak sekali tapi saking banyaknya kadang-kadang enggak muncul di permukaan (tidak berstandar)," kata Bambang.