Terkena Isu Negatif, Ekspor Mangga Melesu

Perdagangan Luar Negeri

Kamis, 23/10/2014

NERACA

Jakarta – Data yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Kementerian Pertanian menyebutkan bahwa dalam satu semester 2014, ekspor buah mangga mengalam kelesuan. Bahkan ekspor mangga pada enam bulan pertama tidak mencapai 10% dari total ekspor sebelumnya. Salah satu indikasi penyebabnya adalah isu adanya lalat buah yang menyerang mangga asal Indonesia.

Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian Hasanuddin Ibrahim mencatat sampai dengan Juni 2014, volume ekspor mangga hanya 56 ton atau senilai dengan US$72 ribu. Sedangkan sepanjang 2013, ekspor mangga mencapai 1.089 ton atau mencapai nilai US$1,4 juta ton. “Penurunan ekspor tersebut lantaran mangga Indonesia diindikasikan tidak higienis dan terkena hama lalat buah,” ungkap Hasanuddin di Jakarta, Rabu (22/10).

Akibat isu negatif tersebut, kata dia, ekspor mangga menjadi sulit untuk menembus pasar di Jepang dan Tiongkok karena lalat buah ini membuat mangga menjadi hitam dan mengeras. “Tapi pada akhirnya, pasar lokal yang menyerap produk hortikultura. Meski mangga kita anjlok tapi buah manggis Indonesia sedang naik daun dan digemari pasar Eropa dan Timur Tengah," terang Hasanuddin.

Ekspor manggis memang melejit. Volume ekspor manggis mencapai 7.146 ton sepanjang satu semester 2014 naik hampir 100% dibandingkan dengan kondisi semester satu 2013. Nilai ekspornya mencapai US$5,4 juta. Padahal pada tahun 2013 ekspor manggis baru mencapai 7.647 ton dengan nilai US$5,7 juta.

Banyaknya mangga Indonesia yang terjangkit hama lalat membuat Cina dan Jepang menyetop impor. Jepang bahkan sudah menutup keran impor mangga kita sejak 2013. Sedangkan Cina sempat memperbolehkan impor mangga RI namun hanya 63 kg saja pada bulan November 2013. Saat ini, impor buah mangga dari Indonesia sudah benar-benar ditutup.

Menteri Pertanian Suswono mengatakan selama ini produk mangga Indonesia tidak bisa masuk karena adanya perbedaan penanganan lalat buah yang dilakukan Indonesia dengan yang diminta Korsel. “Indonesia sudah mempresentasikan penggunaan sistem air panas untuk mematikan lalat buah. Namun hingga kini belum ada jawaban dari pihak Korsel terkait hasil presentasi tersebut,” katanya.

Korsel juga menyatakan akan mengirim tim inspeksi untuk meninjau secara langsung penanganan buah mangga untuk ekspor, termasuk cara mematikan lalat buah yang dilakukan Indonesia. Namun hingga kini tim inspeksi Korsel belum juga hadir di Indonesia. “Kami berharap agar tim inspeksi Korsel bisa segera datang dan memeriksa hal-hal yang perlu diketahui,” kata Suswono.

Namun begitu, Ketua Asosiasi Eksportir Buah dan Sayuran Indonesia (AESBI) Hasan Wijaya menegaskan, pemerintah tidak perlu khawatir penolakan ekspor buah oleh Cina dan Jepang. Dia menyarankan pemerintah fokus saja di pasar dalam negeri yang masih sangat besar. Apalagi di dalam negeri pasar buah dan sayuran justru dikuasai Cina. “Sekarang tinggal melakukan pengemasan yang baik dan menjaga agar harga buah lokal tidak semahal buah impor,” kata Hasan.

Disisi lain, Eksportir mangga khususnya untuk jenis gedong gincu di Cirebon Jawa Barat kesulitan memenuhi permintaan konsumen di sejumlah negara akibat turunnya produksi petani. Penurunan produksi gedong gincu saat ini diduga akibat faktor alam yang saat ini dalam kondisi yang cukup extreme sehingga berimbas pada naiknya harga di tingkat petani.

Direktur Utama CV. Sumber Buah Sae Kabupaten Cirebon, Abdul Hadi mengatakan dirinya saat ini hanya mampu memenuhi permintaan ekspor sebanyak 40%, sedangkan sisanya tidak dapat dipenuhi karena turunnya produksi petani.