Pemkot Depok Tebar Ikan di Sungai Kawasan Balai Kota

Budidaya Air Tawar

Kamis, 23/10/2014

NERACA

Depok – Walikota Depok Nur Mahmudi Isma’il bersama Kepala Kepala Balai Litbang Budidaya Ikan Hias Anjang Bangun Prasetio lakukan tebar ikan di sungai kawasan Balai Kota Depok. “Perlunya menjaga kebersihan kali dirasa sangat penting demi keberlangsungan hidup biota lainnya. Hal ini harus tumbuh dari diri sendiri untuk tidak mencemarkan kali dengan sampah maupun limbah,” ujar Nur Mahmudi dalam keterangan resmi yang sampai ke meja redaksi, Rabu (22/10).

Pada kesempatan tersebut Anjang menyampaikan bahwa pentingnya dilakukan penebaran ikan pada sungai adalah selain bentuk kepedulian terhadap lingkungan, ikan juga dapat digunakan sebagai bioindikator mengenai cemaran perairan termasuk kali. “Data cemaran ini sedikit banyaknya menjadi informasi awal yang penting bagi Kota Depok dalam melakukan langkah ke depan terkait dengan bagaimana penanggulangan, pengelolaan sungai dengan konsep sungai bersih serta dukungannya untuk budidaya keramba di sepanjang Kali Cabang Timur,” kata Anjang.

Dalam paparannya, Nur Mahmudi mengatakan kegiatan ini merupakan pilot proyek keramba jaring, yang nantinya dibudidayakan benih ikan di kali Cabang Timur yang berada di kawasan di Balai Kota Depok. Adapun ikan yang ditebar yaitu ikan koi, maskoki, ikan nila, tawes, jelawat, kowan, mata merah sebanyak 5.000 ekor.

Terkait dengan cemaran sungai pemkot akan melakukan beberapa gerakan, yaitu membersihkan kali dari sampah, membersihkan sedimen dan melakukan upaya agar orang tidak buang sampah sembarangan di kali yang membentang dari Cipayung dan bermuara ke Universitas Indonesia itu. Pada kesempatan tersebut hadir Sekda Kota Depok, semua jajaran Dinas dibawah Kota Depok, Camat Cipayung, Pancoran Mas dan Camat Beji, serta Lurah dan RT serta RW terkait, mengingat tiga kecamatan ini di lewati oleh kali Cabang Timur Kota Depok.

Secara terpisah, dalam kesempatan sebelumnya, dijelaskan bahwa Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan Slamet Soebjakto menyebut, produksi perikanan budidaya terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Selama periode 2010 – 2013, produksi perikanan budidaya meningkat sekitar 28,64% per tahun, yaitu 6,28 juta ton pada tahun 2010 dan mencapai 13,31 juta ton pada tahun 2013 (data sementara).

“Sedangkan nilai produksi nya mengalami kenaikan sekitar 22,51% per tahun dalam kurun waktu yang sama. Capaian peningkatan yang signifikan selain dari rumput laut, juga dari peningkatan jenis ikan air tawar, utamanya ikan nila, mas, dan lele. Ketiga jenis ikan tersebut semakin diandalkan, baik untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan perolehan devisa negara, menyediakan lapangan kerja di pedesaan dan juga dapat dilakukan berkesinambungan dengan menerapkan budidaya ramah lingkungan,” kata Slamet, belum lama ini.

Peningkatan produksi budidaya air tawar, lanjutnya, yang sangat signifikan ini merupakan hasil dari penggunaan induk dan benih unggul, pakan yang sesuai dan efisien, penerapan teknologi yang aplikatif dan inovatif serta intensifikasi budidaya yang ramah lingkungan dan ini merupakan bagian dari Total Akuakultur.

Lebih jauh Slamet mengatakan bahwa Total Akuakultur melalui intensifikasi usaha perikanan budidaya perlu dilaksanakan dengan tetap memperhatikan daya dukung lingkungan budidaya. Hal ini diperlukan agar produksi ikan melalui sistem ini dapat diperoleh secara berkelanjutan. “Sebagai contoh adalah, penerapan teknologi intensif budidaya lele yang hemat lahan dan hemat air yang dapat menghasilkan 10 ton ikan dalam luasan kolam 100 meter persegi dalam waktu 2,5 bulan. Disamping intensifikasi, usaha budidaya air tawar juga berpeluang untuk mempercepat pemasukan pendapatan melalui segmentasi usaha, mulai dari usaha pembenihan, pendederan I bahkan sampai III tahap dan juga pembesaran. Sehingga usaha budidaya air tawar ini sangat cocok untuk memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat,” tambah Slamet.

Selain itu Total Akuakultur melalui penerapan teknologi di semua sistem usaha budidaya dari hulu sampai hilir, juga terkait dengan penyediaan induk unggul untuk mendukung ketersediaan benih bermutu secara kontinyu. “Penyediaan induk unggul dan benih bermutu secara berkelanjutan merupakan hal yang penting dan sangat strategis. Tanpa benih unggul dan benih bermutu maka kualitas produksi akan diragukan dan bahkan bisa tidak mencapai target seperti yang diharapkan,” papar Slamet.

Slamet pun menjelaskan memasuki Tahun 2015 mendatang, Indonesia akan dihadapkan pada dua moment penting yaitu tantangan baru dalam menghadapi Asian Economi Community (AEC) Tahun 2015 dan memasuki tahapan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) ke-3 (periode Tahun 2015-2019).

"Tentunya dua moment ini harus kita sikapi sebagai sebuah pekerjaan rumah bersama, baik pemerintah maupun seluruh stakeholders dalam menjadikan Indonesia sebagai bagian yang memberikan peran besar dalam kancah perdagangan ASEAN dan dunia," ujar dia.

Ditjen Perikanan Budidaya telah menetapkan arah kebijakan strategis dalam mendorong pembangunan perikanan budidaya tersebut melalui dengan mendorong peningkatan produksi perikanan budidaya untuk kebutuhan ekspor yang berdaya saing.