Pemerintah Berharap Pada Pembangkit Ramah Lingkungan

Kurangi Energi Fosil

Kamis, 23/10/2014

NERACA

Jakarta – Pemerintah dalam hal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berharap agar pembangkit yang ramah lingkungan seperti pembangkit biomassa dan biogas bisa menggantikan peran dari pembangkit listrik yang masih menggunakan energi fosil seperti minyak dan batubara. Pasalnya, kedua sumber energi tersebut, diperkirakan cadangan tidak akan bertahan lama dan nantinya akan habis seiring dengan waktu pengunaannya.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Jarman mengungkapkan bahwa pemerintah berharap banyak dengan pemanfaatan pembangkit yang suistanable energi. “Jadi pembangkit dengan memanfaatkan biomass dan biogas sangat penting sekali, kalau dari segi harga gas memang lebih murah,” ungkap Jarman di Jakarta, Rabu (22/10).

Ia menyebutkan bahwa hal itu juga sejalan dengan diterbitkannya Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomer 27 tahun 2014 tentang pembelian tenaga listrik dari pembangkit listrik biomasa (PLTBm) dan pembangkit listrik tenaga biogas (PLTg) yang dikelola oleh PT Perusahaan Listrik Negara (Persero). Meski memiliki harga yang lebih murah, Jarman menyebutkan dengan mengandalkan energi baru terbarukan tersebut harus dibentuk terlebih dahulu ketersediaan pasokannya. “Kalau tidak ya pakai BBM, karena opsi terbatas, dari pilihan itu tentu ini menjadi pilihan yang menarik,” tukas dia.

Lebih jauh lagi, Jarma mengungkapkan bahwa diharapkan daerah-daerah terpencil yang selama ini masih menggunakan pembangkit listrik tenaga diesel bisa beralih ke tenaga biomasa atau biogas. “Kalau ada biomas itu lebih baik lagi, ini menjadi satu terobosan yang bagus,” katanya. Jarman menambahkan, dengan PLTBm dan PLTBg juga mampu memenuhi kebutuhan listrik terhadap daerah-daerah yang masih mengalami kekurangan pasokan listrik.

Bahkan, sambung Jarman, daerah remote yang telah dialiri listrik dengan diesel pun lambat laun akan bisa dikurangi dengan adanya PLTBm dan PLTBg. “Diesel bisa dikurangi sangat baik sekali. Itu kita harapkan langka awal komitmen pemerintah,” tambahnya. Tidak hanya itu, dengan terbitnya Permen Nomor 27 Yahun 2014 ini juga mampu meningkatkan elektrifikasi listrik nasional yang ditargetkan hingga 2020 sudah mencapai 99 persen. “Ini menjadi langkah awal dari komitmen pemerintah dan mendorong program pemerintah dalam meningkatkan elektrifikasi,” tukasnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal (Dirjen) Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Rida Mulyana menjelaskan, penerbitan Permen ESDM nomor 27 Tahun 2014 ini juga merupakan sebagai bentuk dari revisian Permen yang sebelumnya, yaitu Permen No.4 Tahun 2012. “Karena sejak diterbitkannya Permen ESDM no 4 Tahun 2012, investasi swasta untuk penyediaan listrik berbasis biomassa dan biogas on grid masih rendah,” katanya.

Selain itu, sambung Rida, penyediaan energi listrik dari PLTBg dan PLTBm didominasi dengan skema penjualan kelebihan tenaga listrik (excess power) dan bukan merupakan pembangunan pembangkit listrik baru yang dedicated untuk penyediaan energi listrik ke jaringan PLN. “Sehingga perlu dilakukan revisi Permen nomor 4 2012 menjadi Permen 27 Tahun 2014,” tambahnya.

Rida mengungkapkan, Permen 27 Tahun 2014 ini juga pada prinsipnya untuk mendorong pemanfaatan potensi biomasa dan biogas untuk mengurangi pemanfaatan energi fosil khususnya bahan bakar minyak (BBM) pada daerah-daerah uang memiliki ketergantungan terhadap BBM dan wilayah kepulauan yang masih memiliki rasio eletrifikasi rendah. Pada 2013, potensi biomassa Indonesia tercatat sebesar 32.654 mw dan sebesar 1.16,5 mw telah dikembangkan.

Pengembangan pembangkit listrik berbasis bioenergi (on grid) sampai dengan tahun 2013 baru 90,5 mw, sedangkan pengembangan pembangkit listrik berbasis bioenergi sekira 1.626 mw. “Pembangkit listrik tersebut berbasis biomasa, biogas, dan sampah kota. Pembangkit ini memiliki potensi di daerah terpencil yang berasal dari limbah kehutanan, limbah pertanian, industri kelapa sawit, industri kertas, industri tapioka dan lain sebagainya,” jelasnya.

Teknologi Ramah Lingkungan

Kepala Pusat Kebijakan Energi dan Industri Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Heru Dewanto menilai pembangunan infrastruktur pembangkit yang memanfaatkan teknologi ramah lingkungan perlu ditingkatkan. “Saat ini sudah ada clean coal technology, yang membuat pembakaran batubara lebih efisien,” ujarnya.

Heru mengatakan, teknologi clean coal kini telah terbagi dalam tiga kategori, didasarkan pada penggunaan tekanan dan temperatur yang tinggi. Menurut dia, tekanan dan temperatur tinggi dapat membakar batu bara dengan sempurna sehingga tingkat emisi yang ditimbulkan dapat dikurangi. “Teknologi itu antara lain Supercritical Boiler dan Ultra Supercritical Boiler sudah dimanfaatkan di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Indonesia,” terang dia.

Penggunaan Clean Coal Technology saat ini, lanjutnya, ada di PLTU Cirebon 1. Dia menerangkan, PLTU dengan kapasitas 660 Megawatt (MW) ini telah memanfaatkan Supercritical Boiler. “Sedangkan PLTU Cirebon ekspansi dengan kapasitas 1000 akan menggunakan Ultra Supercritical Boiler,” kata Heru.