Perbankan Indonesia Butuh Modal Kuat

Rabu, 22/10/2014

NERACA

Jakarta - Ekonom Universitas Atmajaya Agustinus Prasetyantoko menilai Indonesia membutuhkan industri perbankan dengan modal kuat untuk dapat tumbuh dan bersaing dengan bank-bank asing terutama di kawasan regional Asia Tenggara dan juga secara global.

"Rasio kredit terhadap PDB Malaysia dan Singapura saja saat ini sudah mencapai 120%. Tapi kontribusi kredit terhadap PDB perbankan kita baru mencapai 35%. Sementara LDR (rasio pinjaman terhadap simpanan) sudah mentok di 90%. Ini artinya agar rasio kredit terhadap PDB bisa meningkat lebih tinggi dari 35%, perekonomian kita membutuhkan perbankan yang kuat melalui konsolidasi," ujar Prasetyantoko di Jakarta, Selasa (21/10).

Dengan konsolidasi perbankan, lanjut Prasetyantoko, Indonesia diharapkan memiliki bank-bank yang kuat dengan permodalan yang besar agar bisa menjadi negara perekonomian ketujuh terbesar di dunia pada 2030, seperti proyeksi McKinsey Research Institute.

Dalam laporannya, McKinsey Global Institute memproyeksikan Indonesia akan menjadi negara perekonomian ketujuh terbesar dunia pada 2030. Kelas menengah (consuming class) meningkat drastis dari 45 juta orang menjadi 135 juta orang.

Selain itu, terjadi peningkatan kontribusi populasi yang tinggal di perkotaan, dari 53% penduduk perkotaan menyumbang 74% dari PDB menjadi 71% penduduk perkotaan menyumbang 86% dari PDB. Kebutuhan tenaga pekerja terampil juga diproyeksikan meningkat dari 55 juta orang menjadi 113 juta orang.

Dia juga menuturkan, LDR bank-bank nasional sudah mencapai 90%, yang berarti perbankan tidak bisa mengandalkan lagi pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) untuk bisa ekspansi menyalurkan kredit, tapi harus mengandalkan tambahan modal.

Menurut Prasetyantoko, Indonesia bisa meniru holding-nisasi perusahaan-perusahaan negara seperti Singapura dan Malaysia, dengan membentuk Temasek Holdings dan Khazanah Berhad. Dalam struktur tersebut, bank-bank BUMN dikelompokkan menjadi satu perusahaan induk.

Sementara Chief Research and Strategy Network of Market Investor, Reagy Sukmana menambahkan, melihat kondisi saat ini bank-bank nasional dinilai belum siap untuk menjadi bank terbesar di Asia.

Tidak tercerminnya Indonesia yang mampu menjadi perekonomian terbesar ketujuh di dunia pada 2030, sedangkan bank-bank nasional kita tidak menjadi yang terbesar di Asia disebabkan konsolidasi perbankan yang tidak berjalan.

"Lihat saja, perekonomian Indonesia sekarang 16 besar di dunia, tapi bank nasional kita yang terbesar cuma nomor tujuh terbesar di Asia Tenggara," ujar Reagy.

Baik Prasetyantoko dan Reagy juga melihat tantangan yang dihadapi perbankan nasional dalam jangka pendek adalah mempersiapkan era persaingan bebas perbankan ASEAN 2020. Untuk mengantisipasi tidak adanya bank-bank nasional kita yang masuk kategori Qualified Asean Banks (QAB), perbankan nasional harus memperkuat diri agar pasar domestik tidak direbut oleh bank-bank asing.

"Pada saat liberalisasi perbankan MEA 2020 berlaku, Indonesia akan menjadi pasar terbesar. Jadi, tantangannya adalah bagaimana bank-bank nasional kita bisa mempertahankan pasar di dalam negeri agar tidak direbut oleh bank-bank asing yang akan masif masuk ke Indonesia saat itu," ujarnya.

Untuk itu, Reagy meminta pemerintahan baru untuk segera menjalankan roadmap konsolidasi perbankan, baik yang diusulkan oleh Kementerian BUMN maupun Perbanas. [ardi]