ERP Dinilai Dorong Pembangunan Infrastruktur - Transportasi Daerah

NERACA

Jakarta - Electronic Road Pricing (ERP) dinilai mampu mendorong pembangunan infrastruktur transportasi daerah. Meskipun, utamanya dari penerapan ERP untuk mengurai kemacetan di setiap wilayah di Indonesia.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan Kemenhub, Elly Adriani Sinaga mengatakan, potensi pendapatan yang dihasilkan dari ERP sangatlah besar. Terlebih lagi jumlah kendaraan yang melintas, contohnya Jakarta sudah hampir melebihi kapasitas jalan yang ada.

Lanjut Elly, penerapan tarif ERP dapat dilakukan pada kisaran Rp30 ribu untuk satu kali lewat. Tarif tersebut pun berlaku progresif atau bisa mekin mahal. "Kalau tambah macet, tambah mahal. Harus seperti itu," kata Elly di Jakarta, Selasa (21/10).

Elly menjelaskan, dengan tarif yang sebesar Rp30 ribu, pendapatan per hari dari penerapan ERP adalah Rp24 miliar. "Misalnya 30 ribu dikalikan 1 juta kendaraan berarti Rp30 miliar lalu dikurangi biaya operasional 20 persen, ya totalnya Rp24 miliar satu hari," ungkapnya.

Tidak hanya itu, dana dari penerapan ERP juga tidak masuk kepada kas daerah, melainkan masuk kepada Badan Layanan Umum (BLU). Lantaran sebagai modal untuk meningkatkan layanan umum dan lalu lintas.

Sedangkan menurut Pengamat Transportasi Danang Parikesit mengatakan, kinerja Badan Usaha Milik Negara (BUMN) harus dioptimalkan. Tujuannya, guna mengatasi masalah pembiayaan pembangunan infrastruktur transportasi publik.

Dia menjelaskan, kebutuhan untuk tumbuh dan mandiri secara ekonomi membutuhkan peningkatan investasi sekitar 10-15 persen dari tingkat saat ini. Hal itu dapat membuat pemerintahan baru nanti yang dipimpin Joko Widodo (Jokowi) serta Jusuf Kalla (JK) dilema. Apalagi bila terkait dengan pembiayaan infrastruktur, termasuk infrastruktur transportasi publik.

"Padahal, RAPBN 2015 sangat terbatas. Beban subsidi BBM dan listrik besar, sementara postur APBN tidak memiliki pemihakan pada visi misi pembangunan nasional," ujar Danang.

Namun hal itu, kata dia dapat diatasi dengan mengembalikan "fungsi" BUMN sebagai agen pembangunan strategis. Danang menilai, BUMN masih memiliki kapasitas investasi sebesar Rp100 triliun.

Jumlah sebesar itu dapat memenuhi kebutuhan pembangunan dan perbaikan pelabuhan besar, seperti yang digagas Jokowi. Selain itu juga dapat menggerakkan pembangunan jaringan kereta api antar kota baru, maupun menjalankan program-program perkotaan.

Oleh karena itu, skema penugasan seperti ini, kata Danang, memerlukan orientasi baru dalam menilai keberhasilan BUMN infrastruktur, serta memberikan peran pada swasta untuk investasi infrastruktur.

Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) ini juga melihat masih ada beberapa jalan yang dibangun di tempat yang tak dibutuhkan. Pelabuhan yang sudah kokoh berdiri, minim kapal bersandar.

"Begitu juga dengan pembangunan waduk dan tidak dimanfaatkan. Hal ini kemungkinan dapat menunjukkan adanya mark up maupun korupsi belanja publik," tukasnya. [agus]

BERITA TERKAIT

KTNA Depok Dorong Usaha Tani Mandiri Profesional - Potensi Omzet Miliaran/hari

KTNA Depok Dorong Usaha Tani Mandiri Profesional Potensi Omzet Miliaran/hari   NERACA Depok - ‎Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kota…

APPTHI Dorong Barnabas Suebu Ajukan Grasi Ke Presiden

  NERACA Jakarta - Asosiasi Pimpinan Perguruan Tinggi Hukum Indonesia (APPTHI) mendorong mantan gubernur Papua Barnabas Suebu mengajukan grasi (pengampunan)…

Percepatan Infrastruktur dan Transformasi Ekonomi Indonesia

Oleh: Eddy Cahyono Sugiarto, Tenaga Ahli Kedeputian Kantor Staf Presiden Visi besar para Founding Father Indonesia terefleksi dalam Pembukaan UUD 1945 alenia…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

PII Dorong Pemda Manfaatkan Skema KPBU

  NERACA   Jakarta - PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PII) mendorong agar Pemerintah Daerah (Pemda) memanfaatkan skema Kerjasama Pemerintah dan…

IIF Dapat Kucuran Rp1 triliun dari JICA - Untuk Bangun Infrastruktur

    NERACA   Jakarta - PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) menandatangani perjanjian pinjaman sebesar ¥ 8.000.000.000 atau sekitar Rp…

Pasar Tekstil Tanah Abang Melesu

  NERACA   Jakarta - Penjualan tekstil di Pasar Tanah Abang masih lesu, sehingga beberapa pedagang pakaian jadi pun terpaksa…